Pantau Perbatasan, India Kembangkan Balon Udara Pengintai dengan Radar AESA, 100% Produksi Dalam Negeri

Mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Israel, Arab Saudi, Singapura, Azerbaijan dan Rusia., India diwartakan akan mengadopsi Low Level Airborne Ground Surveillance System, berupa balon udara pengintai – sejenis dengan balon observasi Sky Dew Aerostat untuk mengawasi wilayah perbatasan.

Baca juga: Cegah Serangan dari Utara, Israel ‘Dipagari’ Aerostat Air Defence Radars

Dalam langkah besar untuk memperkuat kemampuan pengawasan, Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan – Defence Research and Development Organisation (DRDO), lembaga litbang di bawah Kementerian Pertahanan India, telah memulai pengembangan sistem radar yang ringkas dan ringan yang dirancang khusus untuk platform berbasis balon. Proyek ini akan didukung oleh skema Technology Development Fund (TDF), dengan fokus pada desain dan produksi dalam negeri sepenuhnya.

Sesuai dengan persyaratan yang diuraikan, radar harus memenuhi batasan Ukuran, Berat, dan Daya (SWaP) yang ketat, karena platform balon memiliki kapasitas muatan yang terbatas.

Seperti dikutip Defense News, spesifikasi balon intai dan observasi ini akan akan dilengkapi teknologi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) untuk deteksi yang gesit dan presisi, meskipun sistem pemindaian mekanis juga dapat dipertimbangkan. Persyaratan lain, sistem radar pada balon udara harus memiliki berat di bawah 20 kilogram dan dapat ditempatkan dalam struktur yang ringkas, sekitar 0,5 × 0,5 × 0,3 meter.

Kemampuan deteksi diharapkan dapat melakukan pengawasan dalam jarak 50–100 km. Kemampuan mendeteksi target penampang radar (RCS) kecil seperti drone (RCS 0,01 m²) pada jarak 10–20 km. Pelacakan lebih dari 100 objek udara secara bersamaan juga menjadi syarat yang diminta, dengan fitur klasifikasi target seperti membedakan drone dan burung.

Radar pada balon udara juga harus mengkonsumsi daya rendah (di bawah 500 W), ketahanan terhadap segala cuaca dari -20°C hingga +55°C, serta tahan terhadap angin kencang dan interferensi elektromagnetik.

Seperti Israel dan Arab Saudi, Singapura Operasikan Aerostat Low Level Airborne Ground Surveillance System

Kompatibilitas yang mulus dengan sistem berbasis jaringan yang ada di India menjadi syarat, termasuk sistem kendali pertahanan udara Akashteer, dan fusi data dengan sensor optik atau inframerah.

Terkait biaya, radar akan dikembangkan dalam kategori 100% IDDM (Dirancang, Dikembangkan, dan Diproduksi Secara Lokal), dengan biaya unit target di bawah ₹10 crore.

Aerostat AKV-05 – Balon Udara Pengawal Perbatasan Rusia dengan Kecerdasan Buatan

Sistem berbasis balon, juga dikenal sebagai aerostat atau balon tertambat, dapat tetap mengudara dalam durasi yang lama dan menyediakan cakupan wilayah yang luas dan berkelanjutan dengan biaya rendah. Tidak seperti drone atau pesawat berawak, balon tidak memerlukan pengisian bahan bakar yang sering dan lebih murah untuk dioperasikan. Sistem ini sangat berguna untuk pengawasan perbatasan terhadap drone yang terbang rendah dan intrusi, pemantauan pesisir untuk mendeteksi objek kecil yang bergerak cepat. Keamanan perkotaan, menawarkan pengawasan berkelanjutan di area sensitif.

Inisiatif radar ini merupakan bagian dari upaya DRDO yang lebih luas dalam platform pengawasan yang lebih ringan dari udara. Pada Mei 2025, DRDO berhasil menguji Platform Pesawat Udara Stratosfer pada ketinggian sekitar 17 km. Uji coba ini memvalidasi sistem-sistem kunci seperti pengaturan tekanan dan deflasi darurat, yang membuka jalan bagi pengawasan jangka panjang dari stratosfer. (Gilang Perdana)

Ikuti Langkah Singapura, Polandia Kombinasikan AEW&C dengan Aerostat Low Level Airborne Ground Surveillance System