Intip Dapur Produksi Hariff Defense: Standar Militer dan Presisi Tinggi di Balik Perangkat BMS TNI AD

Setelah sebelumnya dikupas tentang kemampuan dari perangkat Battlefield Management System (BMS), baik BMS Personnel dan BMS Ranpur, dari fasilitas produksi Hariff Defense di Bandung, kini kami ajak Anda untuk ‘melihat’ dari dekat proses produksi dari perangkat militer karya anak bangsa, yang dirancang dan diproduksi dengan standar militer khusus.
Baca juga: Karya Anak Bangsa: BMS Ranpur Kini Jadi ‘Otak’ Digital Bagi 400 Kendaraan Tempur TNI
Dalam industri pertahanan, reliabilitas sebuah perangkat adalah harga mati. Di medan tempur, sebuah kegagalan teknis kecil pada sistem komunikasi atau navigasi bisa berakibat fatal.
Untuk memahami bagaimana perangkat militer dalam negeri diproduksi dengan standar tersebut, kami berkesempatan mengunjungi fasilitas produksi Hariff Defense, produsen sistem Battlefield Management System (BMS) dan Sistem Penembakan Mortir Berbasis Komputer (Sisbak Mortir) kebanggaan nasional.
Kemandirian Alutsista: Sisbak Mortir Digital Kini Perkuat Infanteri Dua Matra TNI
Seperti dituturkan oleh Edi Setiawan selaku Production Manager Hariff Defense, berikut adalah perjalanan sebuah perangkat militer mulai dari balok aluminium hingga menjadi unit siap pakai.
1. Gerbang Pertama: Inspeksi Material
Proses tidak dimulai di lini perakitan, melainkan di area Incoming Inspection. Di sini, setiap komponen elektronik dan material mekanikal yang datang dari vendor menjalani pemeriksaan ketat. Untuk komponen elektronik, pemeriksaan meliputi keaslian part number, kondisi fisik, hingga deteksi oksidasi.
Sementara untuk material seperti aluminium 6061—yang menjadi standar militer karena kekuatannya—dilakukan verifikasi dimensi dan sertifikasi keaslian. Material yang tidak lolos standar langsung ditandai sebagai reject dan dikembalikan ke vendor.

2. Presisi CNC: Mengolah Aluminium Standar Militer
Masuk ke area mekanikal, balok-balok pejal aluminium 6061 diolah menggunakan mesin CNC Hartford S Plus 10. Dengan toleransi yang sangat ketat hingga 0,05 mm (50 mikron), mesin ini membentuk casing perangkat yang presisi dan kokoh.
Waktu pengerjaannya bervariasi tergantung kerumitan; komponen kecil seperti GPS membutuhkan waktu sekitar 2 jam, sementara top frame tablet terminal yang kompleks bisa memakan waktu hingga 8 jam pengerjaan nonstop.

3. Lini SMT: Otomasi Perakitan Elektronik Modern
Hariff Defense pada lini ini menggunakan perangkat Surface Mount Technology (SMT) yang modern, terdiri dari:
Stencil Printing & SPI: Proses diawali dengan mencetak pasta timah di atas PCB (Printed Circuit Board). Hasil cetakan langsung diperiksa secara 3D oleh mesin Solder Paste Inspection (SPI) untuk menjamin ketebalan dan volumenya pas.

Pick and Place: Komponen mikro dipasang secara otomatis dengan kecepatan ribuan komponen per jam.
Reflow Oven: PCB kemudian dipanaskan dalam oven dengan kontrol suhu ketat untuk merekatkan komponen secara permanen.
Inspeksi AOI dan X-Ray: Pasca-penyolderan, setiap PCB diperiksa oleh mesin Automated Optical Inspection (AOI) untuk mendeteksi posisi komponen yang miring. Lebih jauh lagi, Hariff Defense menggunakan mesin X-Ray untuk mengintip bagian dalam IC dan sambungan timah guna memastikan tidak ada rongga atau jalur putus yang tidak terlihat mata.

Setelah modul elektronik dan casing mekanikal disatukan dalam tahap Final Assembly, unit tidak langsung dikirim ke user. Setiap perangkat akan melewati “ujian siksaan (stress test)”, yaitu pengujian Lab Tes Hariff Defense yang memiliki STD-MIL 810 untuk memastikan kualitas material yang handal. Pengujian yang dimaksud mencakup shock test hingga level 40g, yang disimulasikan agar perangkat BMS mampu menahan efek hentakan (recoil) dari meriam di MBT (Main Battle Tank) Leopard.
Pengujian berikutnya adalah uji getaran (vibration test) untuk memastikan ketahanan komponen pada perangkat BMS, pengujian dilakukan untuk mensimulasikan getaran mesin kendaraan berat, menjamin perangkat tidak akan rontok atau malfungsi akibat getaran hebat. Tidak itu saja, masih ada uji ketahanan rendam air selama 30 menit, uji terhadap air hujan, uji anti karat, uji jatuh (drop test), uji kelembaban, uji temperatur tinggi dan rendah.
Kunjungan ke fasilitas produksi Hariff Defense menunjukkan bahwa predikat “standar militer” bukanlah sekadar label. Dari pemilihan material aluminium bersertifikat, penggunaan mesin X-Ray untuk inspeksi sirkuit, hingga pengujian suhu ekstrem, setiap tahap dirancang untuk memastikan bahwa prajurit TNI di lapangan memegang perangkat yang tangguh dan dapat diandalkan. (Haryo Adjie)
BMS Personnel: Teknologi ‘Mata dan Otak’ Prajurit Infanteri Modern, Buatan Dalam Negeri!



Cakep nih min artikelnya.
Bisalah min diseringin. Klo dpt ijin tentunya.
Terima kasih buat support-nya 🙂
sekelas perusahaan yg memiliki kemampuan dibidang komunikasi dan identifikasi seharusnya mampu merancang untuk seeker rudal, tp sampai saat ini……?
Ah, sudahlah…
14 THN mengikuti informasi dunia militer Indonesia tp hasilnya sangat lambat dan mengecewakan .
Dgn anggaran yg kecil bukannya mengejar kemampuan dalam hal senjata presisi, tp lebih mengutamakan mengejar membangun platform yg membutuhkan anggaran besar walau sebenarnya cuma merakit .