Mengenal Aster, Satu-satunya Rudal Pertahanan Udara (Hanud) Produksi Eropa dengan Ku Seeker

Dalam kunjungan kami ke kantor pusat MBDA Missile Systems di Le Plessis Robinson, Perancis pada 30 September 2024, ada kesempatan spesial untuk melihat langsung fasilitas uji dan pengembangan rudal pertahanan udara (hanud) jarak menengah-jauh Aster. Dengan keberhasilan rudal Aster 15 menembak jatuh drone kamikaze dan rudal jelajah di Laut Merah baru-baru ini, dan Aster kini menjadi sistem hanud andalan Eropa untuk mencegat serangan rudal balistik hipersonik, termasuk Aster B1 NT yang akan dirilis pada Euronaval 2024.
Dengan kecepatan Mach 4.5 (Astrer 30), keluarga rudal Aster sejatinya bukan sistem senjata hanud baru, Aster sudah dirancang sejak era perang dingin, yakni untuk mencegat dan menghancurkan ancaman rudal dari Uni Soviet pada dekade 90-an. Dari banyak hal menarik tentang Aster, ternyata rudal hanud yang juga dioperasikan Angkatan Laut (Aster 15/30 pada frigat Formidable class) dan Angkatan Udara Singapura ini (Aster 30 pada sistem hanud SAMP/T), adalah satu-satunya rudal produksi Eropa yang menggunakan sistem pencari – Ku seeker.
Ini menarik untuk didalami, mengapa Ku seeker begitu langka diterapkan pada rudal hanud? dan apa keunggulan dari Ku seeker?

Rudal hanud Aster buatan MBDA dikenal karena menggunakan Ku-band radar seeker yang canggih, dan ini merupakan salah satu ciri yang membuatnya unik di antara rudal buatan Eropa. Ku-band adalah bagian dari spektrum frekuensi radio yang berada di antara 12 GHz hingga 18 GHz. Frekuensi ini sering digunakan untuk radar dan komunikasi satelit, karena memiliki resolusi yang tinggi dan kemampuan untuk mendeteksi target kecil dengan akurasi yang lebih baik dibandingkan band frekuensi yang lebih rendah.
Ku-band radar seeker merujuk pada sistem pencari di ujung rudal yang menggunakan radar dengan frekuensi Ku-band untuk mendeteksi, melacak, dan mengunci target. Seeker ini bertanggung jawab untuk memastikan rudal tetap terkunci pada target yang bergerak cepat, bahkan di tengah gangguan atau jamming elektronik.

Ku-band menawarkan kemampuan resolusi yang sangat baik, memungkinkan rudal untuk mendeteksi dan melacak target dengan lebih presisi, bahkan target yang kecil atau bergerak cepat seperti pesawat tempur, rudal jelajah, atau drone. Seeker ini dirancang untuk memiliki resistansi yang lebih baik terhadap jamming elektronik, yang sering digunakan oleh pesawat tempur atau rudal lawan untuk menghindari serangan.
Karena seeker ini bekerja secara mandiri setelah rudal diluncurkan, rudal Aster dapat melacak dan mengejar target tanpa perlu bantuan lebih lanjut dari sistem peluncur, memungkinkan operator untuk menangani beberapa ancaman secara bersamaan.
Singapura Umumkan Status Kesiapan Operasional Penuh Sistem Hanud Aster 30 SAMP/T
[the_ad id=”77299″]
Bukan Tanpa Kelemahan
Meskipun Ku-band radar seeker memiliki banyak keunggulan, seperti akurasi tinggi, kemampuan pelacakan presisi, dan resistansi terhadap jamming elektronik, ada beberapa kelemahan yang terkait dengan penggunaan Ku-band di dalam sistem rudal pertahanan udara.
Ku-band bekerja pada frekuensi yang lebih tinggi (12-18 GHz), yang memberikan resolusi dan akurasi yang lebih baik, tetapi sebagai akibatnya, jangkauan deteksinya lebih pendek dibandingkan dengan frekuensi yang lebih rendah, seperti S-band atau C-band. Frekuensi tinggi cenderung lebih mudah terpengaruh oleh penyerapan atmosfer, awan, dan hujan, yang dapat mengurangi jarak deteksi maksimum rudal.

Ku-band lebih rentan terhadap penyerapan dan hambatan atmosfer, terutama oleh kelembapan dan kondisi cuaca buruk seperti hujan deras, kabut, dan salju. Ini bisa menyebabkan degradasi sinyal radar, yang mengurangi keefektifan rudal dalam mendeteksi atau melacak target di bawah kondisi cuaca ekstrem.
Teknologi radar seeker yang bekerja di frekuensi tinggi seperti Ku-band cenderung lebih mahal untuk diproduksi karena memerlukan komponen yang lebih canggih dan proses pembuatan yang presisi. Penggunaan radar seeker Ku-band bisa meningkatkan biaya keseluruhan sistem rudal, baik dari segi desain, pengembangan, maupun perawatan.

Radar seeker Ku-band memerlukan desain yang lebih kompleks dan lebih sensitif terhadap kerusakan dibandingkan radar seeker di frekuensi yang lebih rendah. Ini bisa membuat pemeliharaan sistem lebih rumit dan membutuhkan peralatan khusus serta personel yang terlatih.
Rudal Aster bukan satu-satunya rudal hanud yang menggunakan Ku-band radar seeker, tetapi di Eropa, Aster adalah rudal yang paling dikenal dengan teknologi ini. Rudal hanud buatan Amerika Serikat, seperti Patriot PAC-3, ESSM, dan THAAD juga menggunakan seeker berbasis Ku-band untuk kemampuan pelacakan dan penargetan. (Haryo Adjie – Le Plessis Robinson)



Bikin ketar ketir, gemetar, dan bulu kuduk merinding nian.
@Mas Haryo Ajie
Untuk konteks rudal, mengkomparasikan seeker, berfrrkuensi Ku band, rasanya kurang tepat kalo dipadankan dg seeker berfrrkuensi C atau S band…..karena dimensi antenanya pasti besar sekali dan berat tentunya
Lebih tepat kalo membandingkan antara seeker Ku band dg yg berfrrkuensi X band
πππband bekerja pada frekuensi yang lebih tinggi (12-18 GHz), yang memberikan resolusi dan akurasi yang lebih baik, tetapi sebagai akibatnya, jangkauan deteksinya lebih pendek dibandingkan dengan frekuensi yang lebih rendah, seperti S-band atau C-band. Frekuensi tinggi cenderung lebih mudahπππ