Kesepakatan Penjualan Jet Tempur Eurofighter Typhoon ke Turki, Ternyata Membuat Israel ‘Pusing’

Meski kesepakatan Turki dengan Jerman dan Inggris untuk pembelian 40 unit jet tempur Eurofighter Typhoon bukan merupakan ancaman langsung atau segera terhadap superioritas udara Israel, namun, kesepakatan itu ternyata telah “memusingkan” Tel Aviv.
Pernyataan tersebut diutarakan oleh seorang pejabat pertahanan Israel kepada The Jerusalem Post. Kesepakatan tersebut dianggap menandai langkah signifikan dalam upaya Ankara yang berkelanjutan untuk memodernisasi militernya.
Pada Juli 2025, pemerintah Jerman secara resmi menyetujui penjualan 40 unit jet tempur Eurofighter Typhoon ke Turki, setelah sebelumnya menolak selama bertahun-tahun karena kekhawatiran politik dan hak asasi manusia. Persetujuan ini diberikan oleh Dewan Keamanan Federal Jerman, yang bertanggung jawab atas izin ekspor senjata.
Eurofighter Typhoon yang dikembangkan bersama oleh Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, dianggap sebagai salah satu jet tempur generasi 4.5 tercanggih di dunia. Keikutsertaan mereka dalam armada Angkatan Udara Turki diproyeksi bakal meningkatkan kemampuan tempur udara Negeri Ottoman secara signifikan.

“Ini bukan ancaman yang mengubah permainan bagi Angkatan Udara kami. Typhoon memang pesawat yang mumpuni, tetapi tidak lebih unggul dibandingkan jet tempur kami,” kata pejabat itu. “Namun, ini merupakan sinyal yang jelas dan mengkhawatirkan bahwa Turki sedang mempercepat pengembangan persenjataannya dengan cara yang pada akhirnya dapat menantang keunggulan militer Israel di kawasan tersebut.”
Di saat yang sama, Turki secara aktif mengupayakan kesepakatan tambahan untuk F-16 buatan AS dan bahkan mungkin F-35, setelah dikeluarkan dari program F-35 pada tahun 2019 karena pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Upaya baru ini telah menimbulkan kekhawatiran di Israel, terutama di tengah laporan bahwa Ankara juga memperluas kemampuan angkatan laut dan drone-nya.
‘Standar Ganda’, AS Tawarkan F-35 ke India, Sementara Jegal Turki Karena Isu Sistem Hanud S-400
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid mengecam pemerintah Israel minggu ini, menyalahkannya karena gagal memblokir penjualan Eurofighter.
“Jika Israel memiliki Kementerian Luar Negeri yang berfungsi atau pemerintahan yang normal, mereka pasti sudah melakukan intervensi diplomatik untuk mencegah kesepakatan senjata ini berlanjut,” kata Lapid. “Jerman dan Inggris sekarang melengkapi Turki dengan jet-jet tempur canggih yang pada akhirnya dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.”
Ia memperingatkan bahwa Turki sudah memiliki angkatan laut terbesar di Timur Tengah, dan sekarang tampaknya menargetkan paritas udara dengan Israel. “Ini berbahaya,” tegas Lapid, “dan pemerintah kita yang tidak aktif membiarkannya terjadi, tanpa melakukan apa pun.”
Turki memang secara geografis berada di kawasan transkontinental (sebagian besar di Asia Kecil, sebagian kecil di Eropa), tidak diklasifikasikan sebagai negara Timur Tengah secara sempit. Namun secara politik, sejarah, dan militer, Turki berpengaruh kuat di kawasan Timur Tengah dan memiliki kepentingan regional yang tumpang tindih dengan Israel, seperti kaitan dengan Gaza (Hamas), rivalitas di Mediterania Timur, dukungan kepada Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karabakh (yang juga memengaruhi Iran dan Israel secara tidak langsung), sampai intervensi Turki di Suriah — wilayah yang juga jadi kepentingan Israel.
Bila disebut bahwa Turki dapat mempengaruhi superiotitas udara Israel, hal itu sangat berasal, mengingat kemampuan industri pertahanan Turki yang Meningkat, seperi pada produksi drone tempur (Bayraktar TB2, Akinci, Kizilelma), jet tempur stealth KAAN yang sedang dikembangkan, rudal jelajah dan balistik buatan lokal (SOM, Tayfun, Khan), dan program UAV dan UCAV yang melesat global.
Turki saat ini menjadi salah satu angkatan udara terbesar di NATO, puluhan F-16 (dan modernisasi terus berlangsung) dan tentunya potensi bergabung dalam program jet tempur generasi kelima, KAAN.
Meski masih jauh dari potensi konflik terbuka dengan Israel, namun di masa depan, sangat mungkin kedua negara ini akan saling serang lewat media udara, pasalnya jarak antara Israel ke Turki, jauh lebih dekat ketimbang Israel ke Iran, yang belum lama ini mendapat serangan udara jarak jauh oleh jet tempur Israel.

Sebagai ilustrasi, jarak dari Tel Aviv ke Ankara – 1.100 km, sedangkan jarak dari Tel Aviv ke Teheran – 1.600 km, yang artinya Ankara ada dalam jangkauan jet tempur dan rudal balistik Israel. (Bayu Pamungkas)



paling kejadian kek mirage dan rafale mesir, sunat spek dan ga bisa pake bvr. prancis aja dulu bisa diteken israel apalagi inggris sama jerman. italia cuma nonton di pojokan
Admin,
Ada berita dari Turki :
Penandatanganan kontrak pembelian untuk:
2 unit Istiff Class untuk ALRI
Pesawat KAAN untuk AURI