Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Masuk Usia 18 Tahun, Saatnya Korvet Bung Tomo Class Lakukan Modernisasi CMS

Pada saat diluncurkan dari galangan Scotstoun – BAE System Marine, yaitu di tahun 2001, korvet Nakhoda Ragam terbilang canggih, selain bekal sabreg sensor, persenjataan yang dibawanya pun lumayan komplit untuk meladeni peperangan anti permukaan, peperangan bawah permukaan dan anti serangan udara. Dan setelah 18 tahun berlalu, korvet yang sejak tahun 2014 menjadi arsenal Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL itu masih ‘kokoh’ dan banyak diandalkan dalam beberapa penugasan, termasuk dalam operasi di luar negeri, seperti misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Baca juga: Sea Wolf, Inilah ‘Aslinya’ Rudal Hanud di Korvet Bung Tomo Class

Tiga korvet yang kini diberi nama KRI Bung Tomo 357, KRI John Lie 358 dan KRI Usman Harun 359, merupakan kekuatan pemukul yang diperhitungkan, selain terdapat meriam reaksi cepat Oto Melara 76 mm, korvet berbobot 1.940 ton ini juga mengusung rudal anti kapal Exocet MM40 Block II, dan kedepannya akan dipersenjatai rudal hanud jarak sedang VLS Mica. Peran strategis pun diemban korvet tanpa hanggar ini, lantaran dari deck helipadnya dapat di darati helikopter anti kapal selam AS565 MBe Panther.

Meski kondisi kapal yang masih sangat laik dan persenjataan masih ideal, namun menjawab tantangan yang terus berkembang, elemen CMS (Combat Management System) sudah waktunya untuk disesuaikan, termasuk dalam paket integrasi modernisasi adalah peningkatan kemampuan sistem radar intai pada korvet yang dibangun dari basis F2000 ini.

Sebagai kapal kombatan TNI AL terdepan, khususnya yang berasal dari barat. Korvet Bung Tomo Class belum menerima modernisasi pada sistem CMS-nya. Saat ini CMS-nya masih menggunakan solusi dari BAE Systems Insyte (d/h Alenia Marconi Systems). Sementara dua dari 3 korvet Fatahillah Class sudah mendapat paket modernisasi dalam mid-life modernization (MLM) untuk beragam sensor dan CMS.

Kapal perang Lainnya seperti korvet Diponegoro Class dan frigat Martadinata Class masih tergolong baru, sebaliknya frigat Ahmad Yani Class (Van Speijk) yang sudah pernah di-upgrade ke CMS Mandhala, nampak tidak diteruskan lagi pengembangannya, mengingat usia kapal yang sudah terlalu tua dan ada jadwal untuk memensiunkannya dalam waktu tak lama lagi.

Peluncur rudal MM40 Block II di Bung Tomo Class.

Sumber Indomiliter.com di lingkungan TNI AL menyebut bahwa beberapa kapal perang akan mendapat program MLM, namun semua dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi anggaran dari Kementerian Pertahanan. Terkait modernisasi CMS di korvet Bung Tomo Class, beberapa perusahaan alutsista global disebut-sebut telah menawarkan solusinya kepada TNI AL, seperti ada nama Thales dan Saab.

Yang disebut terakhir meski baru terdengar dalam jagad pengadaan untuk TNI AL, namun vendor asal Swedia ini cukup kampiun dalam segmen industri naval CMS. Dalam 50 tahun pengembangan naval CMS dengan label 9LV, tak kurang 240 unit kapal perang permukaan dan kapal selam dari berbagai tipe dari berbagai negara sudah mengadopsi sistem 9LV.

Diantara nama besar pengguna 9LV adalah frigat Anzac Class (Australia), frigat Halifax Class (Kanada), korvet Visby Class (Swedia), kapal selam Gotland Class (Swedia), kapal kombat Independence Class (Amerika Serikat), dan Landing Helicopter Dock Canberra Class (Australia). Jika Anda masih ingat dengan proyek KCR (Kapal Cepat Rudal) KRI Klewang 625, maka pengembangan awal kapal perang berteknologi stealth sejatinya bakal mengusung CMS 9LV, termasuk penggunaan rudal anti kapal RBS-15.

Kepada Indomiliter.com, pihak Saab Indonesia menyatakan telah menawarkan solusi untuk melakukan modernisasi CMS pada armada kapal perang TNI AL. Umumnya, modernisasi CMS juga menyangkut pembaharuan pada dukungan sistem teknologi sensor, seperti yang umum adalah integrasi pada sistem radar baru yang lebih mumpuni. Dan melihat dari jenis kapal, semisal pilihan MLM jatuh kepada Bung Tomo Class, maka kami menganggap yang ideal digunakan adalah radar intai udara dan permukaan Sea Giraffe AMB.

Baca juga: Frigat Hamilton Class Cutter Filipina Dilengkapi Radar Saab Sea Giraffe AMB

Karena yang diintegrasikan bukan sebatas perangkat lunak, melainkan integrasi pada perangkat keras, dilanjutkan dengan serangkaian uji coba untuk penyelarasan CMS dan fire contol system, maka proses MLM untuk 9LV, termasuk pada sistem radar baru bisa membutuhkan waktu 18 – 24 bulan. Sudah barang tentu, kapal perlu docking salama proses berlangsung, dan lamanya proses pengerjaan akan berpengaruh pada tingkat kesiapan tempur armada, oleh sebab itu jadwal MLM harus dilakukan secara bertahap.

Lepas dari itu, program MLM pada kapal perang terkenal sarat dengan teknologi tinggi dan membawa nilai strategis, sebut saja pada sisi alih teknologi (ToT) yang akan melibatkan industri pertahanan di dalam negeri. (Haryo Adjie)

18 Comments