Kawasaki RC-2 SIGINT: Mata dan Telinga Elektronik di Garis Depan Pertahanan Jepang

Perhatian dunia intelijen pertahanan udara pernah tertuju pada sosok raksasa yang elegan namun misterius milik Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF), yakni Kawasaki RC-2. Pesawat yang mendapat julukan “Baby Globemaster” karena kemiripan siluetnya dengan C-17 milik Amerika Serikat ini bukan sekadar pengangkut logistik biasa.

Baca juga: Kawasaki C-2 “Baby Globemaster,” Di Persimpangan Antara Pesawat Angkut Berat dan Sedang

Sebagai varian spesialis yang dikembangkan dari platform Kawasaki C-2, RC-2 merupakan jawaban strategis Jepang terhadap dinamika keamanan di kawasan Asia Timur yang kian kompleks, berfungsi sebagai pusat syaraf intelijen elektronik yang tak tertandingi di kelasnya.

Pengembangan RC-2 dimulai ketika Kementerian Pertahanan Jepang menyadari perlunya menggantikan armada pesawat intelijen elektronik mereka yang sudah uzur, Kawasaki YS-11EB. Proyek ini bukan sekadar modifikasi ringan; Kawasaki Heavy Industries (KHI) harus merombak struktur dasar C-2 untuk menampung sistem peperangan elektronik yang sangat sensitif.

Masa uji coba pesawat ini dilakukan dengan sangat rahasia namun intensif. Penerbangan perdana prototipe RC-2, yang saat itu masih menggunakan nomor seri 18-1202, terjadi pada awal tahun 2018 di Pangkalan Udara Gifu. Setelah menjalani serangkaian uji integrasi sistem sensor yang rumit selama dua tahun, pesawat ini resmi diserahkan kepada militer Jepang pada Oktober 2020 untuk memulai tugas operasionalnya.

Peran utama Kawasaki RC-2 terletak pada kemampuannya mengeksploitasi spektrum elektromagnetik melalui dua pilar utama: Signals Intelligence (SIGINT) dan Electronic Intelligence (ELINT). Sebagai pesawat SIGINT, RC-2 bertugas menyadap, menganalisis, dan menerjemahkan berbagai sinyal komunikasi radio baik dari kapal perang, pesawat, maupun stasiun darat lawan. Hal ini memungkinkan intelijen Jepang untuk memahami hierarki komando dan pergerakan taktis pihak asing secara real-time.

Di sisi lain, perannya sebagai platform ELINT jauh lebih teknis dan krusial bagi kelangsungan hidup armada tempur. RC-2 mampu mendeteksi emisi radar non-komunikasi, seperti radar pertahanan udara dan sistem penguncian rudal. Dengan “mendengar” sidik jari elektronik dari radar lawan, pesawat ini dapat memetakan lokasi baterai rudal yang tersembunyi serta mengidentifikasi jenis teknologi radar yang digunakan.

Data yang dikumpulkan oleh RC-2 ini kemudian digunakan untuk memprogram sistem Electronic Countermeasures (ECM) pada pesawat tempur Jepang lainnya, sehingga mereka dapat mengelabui atau mengacak radar lawan dalam skenario pertempuran nyata.

Aspek paling mencolok yang membedakan RC-2 dengan varian kargo standar adalah keberadaan berbagai “kubah” atau fairing tambahan yang menyelimuti tubuhnya. Terdapat empat kubah utama yang menjadi ciri khas: satu di atas fuselage bagian depan, satu di atas fuselage bagian belakang, serta dua antena samping yang menyatu di bagian hidung dan ekor.

Desain “kubah kembar” di atas punggung pesawat ini berfungsi sebagai rumah bagi antena penerima sinyal broadband yang mampu menangkap frekuensi dari jarak jauh tanpa gangguan struktur pesawat itu sendiri. Tonjolan-tonjolan ini memberikan profil aerodinamis yang unik namun fungsional, memungkinkan pesawat untuk memindai seluruh spektrum elektromagnetik dari segala arah secara simultan tanpa ada titik buta.

Di balik kulitnya, RC-2 ditenagai oleh sepasang mesin turbofan General Electric CF6-80C2K yang memberikan daya dorong luar biasa. Mesin ini memungkinkan RC-2 memiliki jarak jangkau maksimal hingga 7.600 kilometer dengan endurance atau ketahanan terbang yang sangat lama. Kemampuan ini sangat krusial untuk misi patroli yang mengharuskan pesawat “ngetem” di wilayah perbatasan selama berjam-jam untuk menunggu munculnya sinyal-sinyal langka dari aktivitas militer lawan.

Kawasaki EC-1 – Pesawat Spesialis Peperangan Elektronika dengan Status “The One and Only”

Secara teknis, sistem canggih di dalamnya diyakini merupakan hasil kolaborasi Toshiba dan NEC, yang dirancang untuk memproses data dalam volume masif di lingkungan elektromagnetik yang sangat padat.

Hingga saat ini, Jepang mengoperasikan unit RC-2 dalam jumlah yang sangat terbatas karena spesifikasinya yang sangat khusus. Setidaknya satu unit telah beroperasi penuh, dengan rencana penambahan unit secara bertahap untuk memperkuat armada pengintai. Operasional pesawat ini berpusat di Pangkalan Udara Iruma, Prefektur Saitama, di bawah kendali Korps Intelijen Udara (Air Intelligence Wing).

Dari basis strategis ini, RC-2 menjalankan misi pengawasan rutin di atas Laut Jepang dan Laut China Timur. Dengan bertindak sebagai simpul informasi bagi pusat komando pertahanan, RC-2 memastikan bahwa setiap pergeseran frekuensi di perbatasan dapat dideteksi sebelum menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan Jepang. (Gilang Perdana)

Pembom Tempur Cina Xian JH-7 Intersep Pesawat Intelijen Elektronik (ELINT) Jepang YS-11EB

One Comment