Jet Tempur TNI AU Jajal BLA-25: Bom Latih Asap dengan Ukuran Mungil

Latihan penembakkan dari udara ke permukaan sudah barang tentu jamak dilakukan oleh para pilot fighters TNI AU. Mulai dari penembakkan beragam jenis rudal, kanon, dan bom sudah dijalani. Seperti yang paling baru dilalukan adalah pelaksanaan latihan “Weapon Delivery” yang dilakukan Hawk 109/209 Skadron Udara 12 dan F-16 C/D Block52ID Lanud Roesmin Nurjadin. Yang digadang sebagai materi penembakkan kali ini adalah sosok bom latih asap berukuran imut BLA-25 dan roket FFAR (Folding-Fin Aerial Rocket).

Baca juga: Ketimbang ‘Mimpi’ Rudal Anti Kapal, CN-235 MPA Lebih Realistis Dipasangi Roket FFAR

Dilansir dari tni-au.mil.id (10/7/2018), Latihan yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12, Letkol Pnb Asri Effendy Rangkuti dan Komandan Skadron Udara 16 Letkol Pnb Bambang Apriyanto, bertujuan untuk meningkatkan ketangkasan dan kemampuan para penerbang tempur di dua Skadron Udara tersebut dalam melaksanakan Bombing dan Guning.

Sebagai bom latih, BLA-25 dengan cat berwarna biru dikenal sebagai bom latih dengan ukuran paling kecil. Bom produksi PT Pindad ini dikenal juga sebagai BDU33. Sosok bom mungil ini dirancang untuk dilepaskan dari pesawat tempur berstandar NATO. Panjang BLA-25 hanya 585 – 590 mm dengan diameter 101,5 – 101,7 mm. Bom dengan cartridge kaliber 22 mm ini punya bobot antara 10,5 – 11,5 kg. Setelah berhasil mengenai sasaran, bom dari bahan iron casting ini bakal mengeluarkan asap berwarna putih.

BLA-25 (paling atas)

Sementara roket FFAR juga bukan barang baru lagi, roket yang sejak lama telah diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). FFAR 2.75 inchi (70 mm), sejatinya memang dirancang awal untuk dilepaskan dari wahana udara, dan punya rancangan berupa sirip lipat yang akan mengembang saat ditembakkan. Dan yang cukup penting, FFAR merupakan jenis alutsista yang telah mampu di produksi di Dalam Negeri dalam jumlah cukup besar. PT DI dapat memproduksi FFAR hingga kapasitas 10.000 unit per tahun dalam satu shift kerja, bila dalam dua shift kerja, kapasitas produksi dapat digenjot hingga 20.000 roket per tahun.

Baca juga: MK82 High Drag Bomb Parachute – Bom Spesialis Penghancur Sasaran Tertutup dan Sulit

PT DI membuat dua varian dari roket ini, yakni RD 701 berbasis FFAR Mk 4 dan RD 7010 berbasis FFAR Mk 40. RD 701 digunakan pesawat tempur ( hi-speed aircraft ), sedang RD 7010 untuk Helikopter (low-speed aircraft). PT DI juga membuat beberapa jenis hulu ledak untuk roket ini. Diantaranya WD 701 (HE), WD 703 (smoke) dan WD 704 (inert).
Tentang latihan dengan sasaran di Siabu Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Senin (9/7), diasumsikan pesawat tempur tersebut terlibat dalam perang yang terjadi di wilayah laut, sehingga pilot melakukan penyerangan dari udara ke laut dengan dua jenis senjata di atas. (Gilang Perdana)

4 Comments