Boeing Perkenalkan CLR, Drone Tiltrotor “Chinook Loyal Wingman” untuk Mendukung Misi Logistik di Wilayah Berisiko

Setelah gebrakan Sikorsky Lockheed Martin dengan S-70UAS U-Hawk, Boeing pada Association of the US Army (AUSA) Annual Meeting and Exposition 2025, memperkenalkan konsep Collaborative Transformational Rotorcraft (CxR), sebuah platform otonom yang akan mendukung misi helikopter angkut berat CH-47 Chinook di masa depan.

Baca juga: Sikorsky Perkenalkan S-70UAS U-Hawk: Varian Drone Kargo Black Hawk dengan Kemampuan Terbang Otonom

Salah satu adaptasi dari konsep CxR disebut Collaborative Logistics Rotorcraft (CLR), yang kemudian disebut sebagai “Chinook Loyal Wingman”.

CLR adalah drone tiltrotor otonom dengan sayap miring (mirip V-22 Osprey) yang dirancang untuk berfungsi sebagai “mitra otonom” (loyal wingman) bagi helikopter angkut berat seperti CH-47 Chinook.

Namun, CLR akan memiliki kapasitas angkut kargo yang lebih kecil (sekitar 453 hingga 907 kg), tetapi mampu bergerak dengan kecepatan tinggi (370 sampai 463 km per jam) untuk membantu atau melengkapi misi logistik yang dilakukan oleh Chinook berawak, terutama di wilayah yang berbahaya.

Proyek CxR saat ini berada di tahap konseptual awal (Conceptual Design Phase) dan Boeing belum membangun atau menerbangkan prototipe untuk desain CxR/CLR. Insinyur Boeing saat ini sedang fokus pada penyempurnaan desain dan konfigurasi teknis, dan melakukan analisis operasional untuk memahami kebutuhan pasti dari Angkatan Darat AS (US Army) dan bagaimana drone ini akan bekerja secara kolaboratif dengan helikopter berawak.

Karena proyek ini baru berada di tahap konseptual, Boeing belum memberikan linimasa resmi untuk realisasi atau pengiriman pesawat pertama. Namun, tujuan utama Boeing adalah merancang CxR dengan arsitektur yang disederhanakan (misalnya, hanya menggunakan satu mesin turboshaft) dan modular untuk mempercepat pengembangan dan mengurangi biaya produksi.

Kecepatan pengembangan ini dipacu oleh kebutuhan mendesak militer AS (US Army) untuk mengisi kekosongan kapabilitas dengan sistem otonom yang dapat bekerja bersama platform berawak, seiring dengan pemotongan armada helikopter berawak yang direncanakan.

Meskipun tanggal “siap tempur” belum ada, dalam proyek pertahanan besar, tahap dari pengumuman konsep hingga uji terbang prototipe yang signifikan biasanya memakan waktu beberapa tahun (3-5 tahun) atau lebih, tergantung pada prioritas pendanaan pemerintah AS.

Leonardo Uji Coba ‘Loyal Wingman’ Drone di Helikopter AW159 Wildcat

Sebagai Chinook Loyal Wingman, CLR akan melakukan hal yang sama untuk misi logistik dan angkut: ia akan terbang bersama (atau beroperasi di bawah kendali) Chinook berawak, mengambil alih misi berisiko seperti mengangkut pasokan ke area berbahaya, sehingga meminimalkan risiko pada awak manusia di Chinook.

Jadi, meskipun CLR tidak dirancang untuk bertempur seperti Loyal Wingman pada jet tempur, perannya sebagai pendukung otonom yang memitigasi risiko bagi pesawat berawak (Chinook) membuatnya menjadi analogi yang akurat dan mudah dipahami.

Perancis Integrasikan Drone yang ‘Dituntun’ oleh Helikopter Serang Ringan Gazelle

Proyek Collaborative Transformational Rotorcraft (CxR) oleh Boeing dirancang sebagai keluarga platform modular untuk mendukung berbagai jenis helikopter dan misi Angkatan Darat AS, tidak hanya Chinook. Meskipun varian CLR dirancang untuk menjadi pendamping logistik bagi CH-47 Chinook, ada varian utama lain dan target integrasi lainnya, yaitu Collaborative Combat Rotorcraft (CCR)

CCR adalah loyal wingman tempur, pengintaian, pengawasan, dan akuisisi target (RSTA). Platform ini akan menjadi pendukung helikopter serang AH-64 Apache dan helikopter serang ringan AH-6 Little Bird. CCR akan terbang di depan helikopter berawak, memperluas jangkauan sensor dan tembakan Apache, atau membawa sensor serta efek tembakan kecil ke lingkungan yang terlalu berbahaya bagi pilot.

Perbedaan antara CCR dan CLR terletak pada modul fuselage (badan pesawat) yang dipasang pada inti pesawat yang sama, CCR (Combat) memiliki fuselage yang membawa sistem pertempuran (senjata, sensor canggih, dan mungkin sistem peperangan elektronik), sementara CLR (Logistics), mengganti modul tempur dengan fuselage modular yang khusus dirancang untuk menampung dan mengeluarkan kargo secara efisien.

CxR mengusung teknologi tiltrotor (rotor miring) seperti V-22 Osprey, yang artinya mampu lepas landas/mendarat vertikal (VTOL) seperti helikopter dan terbang cepat seperti pesawat terbang. (Bayu Pamungkas)

Cina Mulai Produksi Zhang Ying R6000 – Drone Tiltrotor Mirip ‘Osprey’ dengan Berat Enam Ton

One Comment