Uji Radar AESA Jet Tempur KF-21 Boramae, Korea Selatan Gunakan Boeing 737-55S Flying Test Bed

(Jetphotos/Austin Ferreira)

Pengujian beragam parameter perangkat elektronik pada pesawat kerap dilakukan langsung di udara, untuk itu ada yang namanya flying test bed, seperti yang dimiliki oleh PT Dirgantara Indonesia yang mengoperasikan CN-235 220 Flying Test Bed.

Baca juga: Dukung Proyek Gunship, PT Dirgantara Indonesia Rilis CN-235 220 Flying Test Bed

Dan terkait dengan rencana terbang perdana jet tempur hasil koloborasi Korea Selatan dan Indonesia, yaitu KF-21 Boramae pada bulan Juli mendatang, rupanya telah dilakukan flying test bed pada radar AESA yang menjadi perangkat elektronik kunci pada KF-21.

Flying test bed radar AESA untuk KF-21 Boramae menggunakan pesawat narrow body Boeing 737-55S (ZS-TFJ) yang dimodifikasi bagian hidungnya oleh Paramount Aerospace Systems dari Afrika Selatan. Radar AESA (Active Electronically Scanned-Array) secara elektronik dapat mengarahkan pancaran gelombang radio ke arah yang berbeda, memungkinkan pesawat untuk memancarkan sinyal radar yang kuat sambil tetap diam.

Uji fungsi dan kinerja radar telah diselesaikan di luar negeri melalui 10 sorti pada November dan Desember 2021. Uji coba di dalam negeri (Korea Selatan) akan berlangsung hingga April tahun depan, sebelum KF-21 melalui evaluasi tahap akhir di paruh pertama tahun 2026.

Sekitar 62 item diuji melalui total 50 kali penerbangan, bersama dengan pengujian fungsi deteksi dan pelacakan dalam mode udara-ke-udara dan verifikasi desain untuk memperoleh citra synthetic property radar (SAR). SAR adalah bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar dua dimensi atau rekonstruksi objek tiga dimensi, seperti lanskap.

“Kinerja radar AESA KF-21 akan lebih stabil melalui uji penerbangan domestik,” ujar Roh Ji-man, pejabat Defense Acquisition Program Administration (DAPA) yang bertanggung jawab atas proyek KF-21, dalam sebuah pernyataan pada 4 Maret 2022 di ajudaily.com.

Batasan dari Washington yang enggan memberikan transfer teknologi kunci untuk pesawat tempur siluman dan sistem radar canggih, mendorong Korea Selatan untuk memperoleh teknologi terkait secara mandiri atau melalui kerja sama dengan perusahaan asing lainnya. Penerbangan test bed tambahan akan dilakukan di Afrika Selatan dan Korea Selatan untuk menguji fungsi pelacakan dan penghindaran topografi.

Merujuk dari rekam jejaknya, radar AESA untuk KF-21 (d/h KFX/IFX) mulai dikembangkan pada tahun 2016 dengan melibatkan Hanwha Thales Systems dan Agency for Defense Development (ADD), lembaga litbang di bawah Kementerian Pertahanan Korea Selatan. Sudah barang tentu Korea Selatan tak bisa sendirian mengembangkan radar AESA, dalam proyek ini digandeng perusahaan asal Israel, Elbit Systems – anak perusahaan Israel Aerospace Industries (IAI) – yang bertindak sebagai mitra kolaborasi dalam transfer of technology. Salah satu peran perusahaan Israel tersebut adalah membantu dalam tahap uji coba perangkat keras.

Prototipe radar AESA pertama diluncurkan pada 7 Agustus 2020 dan dikirim ke ELTA Systems, penyedia produk pertahanan Israel, untuk uji darat dan penerbangan. Pada tahun 2021, Korea Selatan meluncurkan prototipe KF-21 pertama yang dipasang dengan sistem AESA, setelah hampir dua dekade bekerja keras untuk menghilangkan pandangan yang meragukan atau terkadang merendahkan dari pembuat pesawat asing kelas atas.

Baca juga: Meski Ada ‘Hambatan’ dari Washington, Korea Selatan Akhirnya Luncurkan Prototipe Radar AESA untuk Jet Tempur KFX

Dengan radar AESA, dimungkinkan untuk mendeteksi area yang luas, melakukan beragam misi, dan menyerang beberapa target secara bersamaan. Hanwha Systems menambahkan bahwa fast beam steering dimungkinkan dengan secara elektronik mengendalikan seribu modul integrasi transmisi dan penerimaan kecil yang dipasang di bagian depan antena radar. (Gilang Perdana)

5 Comments