Angkatan Darat AS Uji Drone Tertambat (Tethered Drone) dengan Pod Perang Elektronik

Angkatan Darat AS (US Army) terus mendorong batas-batas integrasi teknologi komersial ke dalam operasi tempur melalui inisiatif “Transforming in Contact” (TiC). Dalam perkembangan terbaru yang signifikan, militer AS telah melaksanakan uji coba lapangan terhadap sistem tethered drone (drone tertambat) berdaya tahan lama yang dilengkapi dengan pod Perang Elektronik (EW) yang canggih.

Baca Juga:Video Viral! Drone Shahed-136 Ditembak Jatuh Minigun M134 Gatling Gun dari Door Gun Helikopter Mi-8

Uji coba ini menegaskan pergeseran strategis menuju peningkatan kemampuan Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) persisten dan mandiri di tingkat unit taktis.

Uji coba ini dilaksanakan pada 3 November 2025. Lokasi yang dipilih adalah National Training Center (NTC), Fort Irwin, California, sebuah fasilitas pelatihan tempur utama yang dikenal karena lingkungan gurunnya yang menantang dan realistis. Drone yang diuji adalah sistem Falcon dari TCOM, yang diintegrasikan dalam rotasi pelatihan tempur lapis baja pertama dari program TiC 2.0.

Sistem yang menjadi fokus utama adalah Tethered Unmanned Aircraft System (UAS) Falcon. Drone ini merupakan platform yang dirancang untuk mendukung penerbangan berkelanjutan. Dengan dihubungkan oleh kabel (tether) ke stasiun darat, Falcon menerima pasokan daya yang konstan, memungkinkannya beroperasi di udara hingga 30 hari tanpa henti pada ketinggian hingga 400 kaki (sekitar 122 meter).

Keunggulan dari kabel ini juga mencakup transfer data berkecepatan tinggi dan, yang paling penting, membuat drone kebal terhadap gangguan radio (jamming) musuh, karena kontrol penerbangannya tidak bergantung pada sinyal radio.

Selama uji coba NTC, Falcon dilengkapi dengan muatan khusus: sistem Mastodon Beast+. Ini adalah sistem EW multi-fungsi yang digunakan oleh militer AS untuk mengendalikan spektrum elektromagnetik. Muatan ini memungkinkan drone melakukan fungsi-fungsi vital seperti deteksi sinyal komunikasi musuh, pencarian arah (direction finding) sumber emisi, dan melakukan serangan elektronik (jamming) terhadap sinyal-sinyal tersebut. Integrasi ini mengubah drone pengawasan sederhana menjadi aset EW garis depan yang stabil dan persisten.

Tujuan utama dari Angkatan Darat AS dalam melaksanakan uji coba ini berpusat pada penemuan solusi yang cepat dan hemat biaya untuk mengatasi tantangan medan perang modern, seperti: mencapai pengawasan persisten (memvalidasi kemampuan drone tertambat untuk memberikan pengawasan udara dan pengumpulan data yang terus-menerus, mendominasi spektrum elektromagnetik hingga memperkuat komunikasi lini depan.

Gantikan Hermes 450, Singapura Umumkan Akuisisi Drone Intai MALE Hermes 900 dari Elbit Systems

Adapun hasil dari uji coba ini mengindikasikan keberhasilan signifikan dalam konsep operasional. Sistem Falcon menunjukkan stabilitas dan ketahanan yang diperlukan untuk operasional EW berkelanjutan. Kemampuannya untuk menyediakan kesadaran situasional yang tinggi dan kemampuan serangan elektronik yang terkonsentrasi di lini depan terbukti menjadi pengubah permainan. Para prajurit dapat menggunakan data EW secara hampir real-time untuk mempercepat siklus sensor-ke-penembak (sensor-to-shooter), memungkinkan penargetan musuh yang lebih cepat dan akurat.

Uji coba ini menggarisbawahi komitmen Angkatan Darat AS terhadap program Transforming in Contact (TiC), yang berfokus pada pengujian cepat teknologi Commercial-Off-The-Shelf (COTS) di bawah kondisi tempur yang meniru ancaman near-peer. Keberhasilan integrasi ini menunjukkan bahwa teknologi sipil yang telah dimodifikasi dapat memberikan kemampuan tempur yang canggih dengan waktu turnover yang lebih cepat dibandingkan sistem pertahanan tradisional yang dikembangkan dari awal.

Secara doktrinal, sistem seperti Falcon yang dilengkapi EW diperkirakan akan menjadi perlengkapan standar untuk unit-unit garis depan. Platform ini menawarkan kombinasi unik antara ketahanan (persistence) dan kekebalan (immunity) terhadap jamming RF (karena kabelnya), yang sangat berharga dalam konflik di mana peperangan elektronik dan drone musuh semakin mendominasi. Drone ini menjembatani kesenjangan antara kemampuan ISR unit kecil dan aset udara besar Angkatan Darat.

Uji coba tethered drone Falcon dengan pod EW Mastodon Beast+ pada November 2025 di Fort Irwin adalah langkah maju yang besar dalam modernisasi Angkatan Darat AS. Dengan mengedepankan platform yang stabil, tangguh, dan multi-fungsi, militer AS tidak hanya meningkatkan pengawasan tetapi juga memperkuat posisinya dalam perang spektrum elektromagnetik. Teknologi ini diharapkan dapat secara dramatis meningkatkan daya tahan dan kemampuan tempur unit-unit darat dalam menghadapi ancaman global yang terus berkembang. (Nurhalim)

Norinco Feilong-300D: Drone Kamikaze Tiruan Shahed-136, Dijual per Unit Rp167 Juta untuk Pasar Ekspor