29 Tahun HTMS Chakri Naruebet: Kisah ‘ThaiTanic’ dan Kapal Induk Pertama di Asia Tenggara

Hari ini tepat 29 tahun yang lalu, sejarah baru tercipta di kawasan Asia Tenggara. Pada 27 Maret 1997, Angkatan Laut Kerajaan Thailand (RTN) resmi mengoperasikan HTMS Chakri Naruebet (CVH-911), menjadikannya negara pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk. Namun, di balik kemegahannya, kapal ini menyimpan kisah pasang surut yang dramatis.
Baca juga: HTMS Chakri Naruebet: Nasib Kapal Induk Yang Beralih Fungsi Jadi “ThaiTanic”
Keputusan Thailand untuk mengakuisisi kapal induk bermula pada awal 1990-an. Saat itu, Thailand sedang menikmati pertumbuhan ekonomi pesat dan merasa perlu melindungi zona ekonomi eksklusif (ZEE) serta jalur perdagangan di Teluk Thailand dan Laut Andaman.
Alih-alih membeli kapal bekas, Thailand membuat langkah berani dengan memesan kapal baru dari galangan Bazan (sekarang Navantia) di Ferrol, Spanyol. Kontrak ditandatangani pada 1992, dan pembangunan dimulai dengan peletakan lunas pada 1994. Kapal ini akhirnya diluncurkan (launching) pada 20 Januari 1996 oleh Ratu Sirikit.
Setelah menjalani serangkaian uji coba laut di perairan Eropa, HTMS Chakri Naruebet mulai dilayarkan menuju Thailand pada April 1997 dan tiba di pangkalannya, Sattahip, pada Agustus 1997.
Pelajaran dari Thailand – Kapal Induk Beli Baru dan Berusia Muda Tapi Tak Sesuai Harapan
Nasib sial menghampiri tepat beberapa bulan setelah komisioning. Krisis finansial Asia 1997 melumpuhkan ekonomi Thailand. Anggaran pertahanan dipangkas drastis, mengakibatkan biaya operasional kapal ini menjadi beban berat.
Keterbatasan dana membuat kapal ini jarang melaut. Dari sinilah muncul julukan satir “ThaiTanic”—bukan karena akan tenggelam, melainkan karena dianggap sebagai “gajah putih” yang megah namun mahal dan jarang berfungsi maksimal. Kondisi ini diperparah dengan dipensiunkannya seluruh armada jet tempur AV-8S Matador (Harrier) pada tahun 2006, menyisakan Chakri Naruebet hanya sebagai kapal induk pengangkut helikopter.
Romansa Kapal Induk Satu-satunya di ASEAN HTMS Chakri Naruebet dengan Jet Tempur VTOL AV-8S

Meski sering dicibir, HTMS Chakri Naruebet membuktikan taringnya dalam misi kemanusiaan. Kapal ini menjadi pangkalan terapung yang vital saat Tsunami Samudra Hindia 2004 dan banjir besar di Thailand tahun 2010 serta 2011. Kemampuannya sebagai rumah sakit terapung dan pusat komando bencana tak tertandingi oleh kapal mana pun di kawasan saat itu.
Memasuki usia hampir tiga dekade, beban perawatan kapal tua memang sangat tinggi. Namun, hingga saat ini, Thailand tampaknya lebih memilih melakukan modernisasi bertahap, termasuk pembaruan sistem radar dan kontrol tembakan (menggunakan teknologi Saab Swedia), daripada memensiunkannya tanpa pengganti. Chakri Naruebet kini lebih berfungsi sebagai simbol kedaulatan dan aset strategis untuk misi SAR. (Gilang Perdana)
Bangkit dari ‘Ngendon’, Kapal Induk Thailand HTMS Chakri Naruebet Mendapatkan Upgrade dari Thales



Beli baru alias buka bungkus saja bisa sampai seperti itu apalagi kalo belinya bekas yang ‘katanya’ masih bisa untuk 15-20 tahun lagi ya, ndak janji deh 😓
Mantap, garibaldi jadi pangkalan apung, tapi anggaran tni yg cekak ini disuruh merawat mesin turbin, apa g puyeng tuh kelapa?