Lebih Jauh dari ‘Jangkauan’ Cina, Angkatan Laut AS Manfaatkan Empat Fasilitas Pengisian Ulang Amunisi Kapal Perang di Australia

Terlepas dari pakta pertahanan AUKUS – Australia (Au), Inggris (UK), dan Amerika Serikat (US) yang dibentuk pada 15 September 2021, pada dasarnya Australia telah menjalankan peran sebagai sekutu utama AS di kawasan Indo Pasifik, yang mana kedua negara disatukan pada kepentingan untuk menghadapi ancaman dari Cina.
Selain memberi akses khusus bagi kekuatan udara dan Korps Marinir AS (USMC), beberapa lokasi di Australia juga punya peran penting dalam mendukung operasional kapal perang permukaan dan kapal selam AS, khususnya fasilitas pengisian ulang amunisi (reload weapons).
Seperti dikutip Newsweek.com (26/8/2025), disebut AS telah memperluas jumlah lokasi reload weapons di Australia. Dalam hal ini, Angkatan Laut AS (US Navy) telah melakukan dan mensimulasikan apa yang disebut “expeditionary reloads” untuk rudal bagi kapal perusak (destroyer) dan kapal selam di empat lokasi di Australia.
Operasi Angkatan Laut AS seperti di Laut Merah baru-baru ini, di mana kapal perang AS menghabiskan sejumlah besar rudal jelajah untuk menyerang Iran dan Yaman, menyoroti pentingnya persenjataan garis depan dalam potensi konflik Pasifik barat dengan Cina, tanpa harus membawa kapal perang ke wilayah AS untuk pengisian ulang amunisi.
Bantu Israel, AS Kirim Kapal Selam USS Ohio yang Bisa Luncurkan 154 Rudal Jelajah Tomahawk
Sementara ini, kapal perang AS dapat mengisi ulang rudal di pangkalan di Guam, atau dari negara sekutu, seperti Jepang. Namun, analis pertahanan menyebut, fasilitas-fasilitas tersebut tidak aman dari ancaman serangan jarak jauh dari rudal balistik Cina, yang kemudian mendorong pilihan Australia, sebagai lokasi yang berjarak lebih dari 2.500 mil dari pesisir Cina, sebagai lokasi yang ideal untuk logistik dan penyimpanan persenjataan bagi angkatan laut jika terjadi perang.
Dalam siaran pers pada hari Sabtu, Angkatan Laut AS mengatakan bahwa kapal perusak USS Higgins melakukan simulasi pengisian ulang rudal Standard Missile-2 (SM-2), sebuah rudal pertahanan udara yang diluncurkan dari kapal, saat berlabuh di dekat Townsville di pesisir timur laut Queensland pada 28 Juli 2025.
Latihan tersebut menunjukkan “peningkatan kemampuan logistik ekspedisi” yang penting bagi operasi berkelanjutan di kawasan Indo-Pasifik, kata Angkatan Laut AS, seraya menambahkan bahwa ini menandai tahun ketiga berturut-turut kapal perusak AS melakukan operasi serupa di Australia.
Pada tahun 2023, USS Rafael Peralta, dipersenjatai kembali dengan rudal SM-2 di Eden di pesisir tenggara New South Wales, sementara kapal lainnya, USS Dewey, melakukan pengisian ulang rudal SM-2 di Darwin, Teritori Utara Australia, pada tahun berikutnya.

Sementara itu, dua kapal selam serang cepat AS—USS Mississippi dan USS Springfield—melakukan latihan penanganan senjata di pangkalan angkatan laut HMAS Stirling dekat Perth, Australia Barat, pada tahun 2022, mengisi ulang rudal jelajah Tomahawk dan rudal anti kapal Harpoon.
Kedua latihan tersebut melibatkan aset Angkatan Laut Australia (RAN) di darat, yang menunjukkan apa yang digambarkan Angkatan Laut AS sebagai peningkatan logistik dan kemampuan pemeliharaan kapal selam di Australia.
Laksamana Muda Eric Anduze, komandan Satuan Tugas 70, mengatakan bahwa kemampuan logistik terdistribusi memberi Angkatan Laut AS kelincahan untuk “menyerang dari laut, bergerak, mengisi ulang, memposisikan ulang, dan menyerang lagi,” sehingga meningkatkan kesiapan operasionalnya di seluruh Indo Pasifik. (Gilang Perdana)



Mumpung lagi ada artikel tentang VLS, saya punya ide gimana kalo OPV Raja Haji Fisabilillah class dipasang rudal arhanud yang diluncurkan dari VLS. Terserah mau pakai VLS apa, VL Mica juga boleh.
Jika sudah dipasang VLS mungkin antara 8 sampai 12 cell lalu dipasang juga rudal anti kapal dan torpedo serta berbagai macam sensor dan counter measure maka kapal-kapal kelas OPV RHF sudah bisa menyandang status sebagai fregat ringan. Bikin yang banyak sekalian, sebanyak 42 unit gitu. Biaya bisa lebih murah daripada bikin 36 fregat gede dan 18 korvet. Taruh di 14 lantamal masing-masing 3 unit. Nggak apa tetap kita sebut sebagai OPV supaya tetangga tetap tenang. Padahal sudah bisa disebut fregat ringan.