Kisah Perang Falkland (Malvinas) – Argentina Sulap C-130B Hercules Jadi ‘Pembom’, Gotong Bom MK82 di Bawah Sayap

Improvisasi mutlak dilakukan dalam peperangan, terlebih bila ada keterbatasaan pada kemampuan alutsista yang ada. Seperti pada Perang Falkland (Malvinas) di tahun 1982, salah satu yang menjadi titik lemah upaya ofensif Argantina adalah tiadanya pesawat pembom.
Baca juga: Bersiap Hadapi Cina, Howitzer 105mm Bakal Dicopot dari AC-130J Ghostrider
Dan mengatasi kondisi tersebut, Angkatan Udara Argentina (Fuerza Aérea Argentina, FAA) melakukan modifikasi secara cepat, yakni menambahkan peran C-130B Hercules sebagai pesawat pembom.
Dalam catatan Perang Falkland, C-130 Hercules Angkatan Udara Argentina tidak hanya dipakai sebagai pesawat angkut, tanker, dan patroli laut, tetapi juga pernah digunakan dalam misi pemboman improvisasi. Yang digunakan adalah varian lawas, C-130B Hercules – sejenis yang diterima TNI AU pada awal dekade 60-an.
Wujud modifikasi adalah pemasangan MER (Multiple Ejector Rack) 6-station (tipe yang biasa dipakai A-4 Skyhawk Argentina), dipasang ke sayap C-130B lewat pylon/adaptor yang dibuat/diintegrasikan oleh FMA (Fábrica Militar de Aviones). Jadi satu pylon = 6 bom Mk82. Secara konsep, jika dipasang simetris di kedua sayap maka total bisa 12× Mk82 (6 per sisi).

Ada catatan bahwa uji coba hanya dilakukan dengan pylon di sisi kiri, kemungkinan karena keterbatasan waktu atau alasan keamanan struktur sayap. Total eksternal per sisi sekitar 1,5–1,7 ton, dengan drag besar, itulah sebabnya konsep ini hanya diuji terbatas.
Tidak ada indikasi dukungan resmi luar negeri; proyek ini lahir dari inisiatif lokal FMA (Argentina saat itu berada di bawah pembatasan/embargo, sehingga mereka mengadaptasi perangkat A-4 yang sudah dimiliki).
MK82 High Drag Bomb Parachute: Bom Spesialis Penghancur Sasaran Tertutup dan Sulit
Yang terdokumentasi publik dengan jelas adalah pemasangan di sisi kiri (seperti pada foto pertama). Ada kemungkinan teknis untuk memasang sisi kanan juga, namun bukti foto/penerbangan operasional dua sisi nyaris tidak ada. Uji terbang yang diketahui dilakukan dengan satu sisi saja, dan keseimbangan dijaga dengan pengaturan bahan bakar/ballast.
Proyek ini digarap oleh Fábrica Militar de Aviones (FMA), pabrik pesawat nasional Argentina di Córdoba.Pylon yang digunakan bukan desain baru: menurut beberapa sumber, FMA mengadaptasi pylon dari jet tempur A-4 Skyhawk (yang sudah dimiliki Argentina sejak 1966). Ini logis karena A-4B/C juga menggunakan bom Mk82.
BNL-250/BNT-250 – Kelak Gantikan Pasokan Kebutuhan Bom MK82 untuk TNI AU
Bom-bom MK82 dipasang di MER yang dihubungkan ke sistem pelepas elektrik sederhana. Sementara awak mengendalikan pelepasan bom dari kokpit lewat switch tambahan yang dipasang darurat.
Dari hasil uji coba, akurasi pemboman dari C-130B sangat rendah, karena tidak ada sistem stabilisasi, komputer balistik, atau target designator. Ditambah Hercules adalah pesawat besar, lambat, dan tidak bisa melakukan manuver “toss bombing” atau “dive bombing”. Karena itu, kemungkinan menjatuhkan bom tepat ke target militer Inggris sangat kecil.
Hanya 1 unit C-130B (nomor seri TC-60) yang benar-benar diuji dengan pylon dan bom Mk82. Namun, pesawat ini tidak masuk ke operasi pemboman penuh, lebih ke uji coba teknis dan propagandis. Dalam perang Malvinas, sebagian besar C-130 lebih difokuskan ke misi logistik malam, tanker KC-130, dan patroli ELINT, karena risiko melawan Sea Harrier sangat tinggi.
Hari ini 43 Tahun Lalu, C-130 Hercules Lakukan Serangan Udara ke Kapal Tanker “Hercules”
C-130 Hercules pada dasarnya tidak dirancang sebagai pembom, jadi saat Argentina memodifikasi C-130B menjadi pembawa bom Mk-82 di Perang Falkland (Malvinas), sistem penargetannya jauh dari canggih, lebih bersifat improvisasi darurat ketimbang solusi permanen.
Penentuan target dilakukan secara visual oleh navigator atau co-pilot menggunakan perkiraan posisi, altitude, kecepatan, dan jarak ke target. Pada dasarnya mirip metode level bombing ala Perang Dunia II, menggunakan tabel atau kalkulasi balistik sederhana.
Saat ini, TC-60 telah dipensiunkan dari operasi aktif sejak sekitar 2011. Pesawat ini kemudian dipindahkan dan dipreservasi sebagai pameran di Museo Nacional de Aeronáutica, Morón, Buenos Aires. (Bayu Pamungkas)
[Video] AC-130J Ghostrider Luncurkan Rudal Udara ke Permukaan AGM-114 Hellfire II di Korea Selatan



wah.. masih ada yg inget dgn Super Etendard. Waktu itu saya kelas 2 SD. King Charles III & adik2 nya, Prince Andrew & Prince Edward ikutan berperang semua. Berita hanya dari Kompas & TURI yg paling saya inget HMS Sheffield dikaramkan Argentina pas hari coblosan Pemilu 1982.
Bapak saya tentara, tapi ibu saya ga ikutan nyoblos, hahaa.. bahagia rasanya dari dulu kita ga pernah ikutan nyoblos di pemilu.
Sebetulnya saat itu Argentina punya pesawat2 pembom Canberra. Malah pesawat2 tersebut yg duluan dipakai untuk serangan2 pertama. Tapi dasar memang pesawat jadul, banyak yang gagal menyerang dan ditembak jatuh. Pesawat2 Argentina seingat saya antara lain Puccara, A4 Skyhawk, Super Etendard, dan Mirage III. Waktu itu saya klas 6 SD. Heboh bangetlah beritanya di TVRI dan di koran2. Saking viralnya sampai ada Bakso Malvinas (hingga saat ini masih eksis). Lha sy sendiri saat sekolah di SMP 19 Semarang langganan angkot bersama teman2 ndugal bareng tiap berangkat dan pulang sekolah naiknya Suzuki ST20 yg dinamai SKYHAWK hurufnya gede2 warna kuning di kaca belakangnya. Sopirnya gondrong, ugal2an lagi.