Filipina Tuntaskan Kontrak Pengadaan 12 Unit FA-50 Block 20 Fighting Eagle Senilai US$700 Juta

Melanjutkan berita pada bulan Januari lalu, kini proyek pengadaan tambahan jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle untuk Angkatan Udara Filipina (PAF) telah dimatangkan dalam penandatangan kontrak atas 12 unit FA-50 produksi Korea Aerospace Industries (KAI) pada tanggal 3 Juni 2025.

Baca juga: Akuisisi Varian Tercanggih ‘Block 20’, Filipina Bentuk Skadron Kedua Jet Tempur Ringan FA-50 Fighting Eagle

Bila sebelumya disebut kontrak bernilai US$680 juta, maka finalisasi dalam penandatangan kontrak menyebutkan nilai US$700 juta, yang mana Angkatan Udara Filipina akan mendapatkan varian terbaru, yakni FA-50 Block 20 Fighting Eagle, atau serupa dengan pesanan Polandia dan Malaysia.

FA-50 Block 20 dilengkapi dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara melalui sistem probe teleskopik yang dikembangkan oleh Cobham Mission Systems, yang meningkatkan jangkauan operasional dan cakupan misinya. Desain aerodinamis pesawat ini memiliki fitur pengurangan penampang radar melalui intake mesin berbentuk S, struktur sayap-bodi campuran, dan material komposit ringan.

FA-50 Block 20 dibekali radar EL/M-2032 buatan Elbit Systems. Varian Block 20 yang lebih baru dapat menggabungkan radar Raytheon PhantomStrike AESA untuk meningkatkan kemampuan deteksi. Radar ini dapat melacak beberapa target pada jarak yang lebih jauh, menawarkan peningkatan yang signifikan dibandingkan sistem yang lebih lama.

Raytheon Technologies Pasok Radar AESA PhantomStrike untuk FA-50 Fighting Eagle

FA-50 dibekali kanon internal Gatling Gun tiga laras 20 mm untuk kemampuan tembak jarak dekat, membuatnya cocok untuk misi superioritas udara dan serangan darat.

FA-50 Block 20 dapat menggunakan rudal udara ke udara jarak pendek AIM-9, rudal udara ke darat AGM-65, dan amunisi berpemandu presisi seperti Joint Direct Attack Munition (JDAM). Varian FA-50 Block 20 juga mencakup peningkatan seperti integrasi dengan rudal jelajah Taurus KEPD 350K-2, yang memiliki jangkauan serang 500 hingga 800 kilometer.

KEPD 350K-2 Taurus – Rudal Jelajah Jarak Menengah untuk FA-50 Fighting Eagle, Siap dalam Tiga Tahun

FA-50 memiliki konfigurasi kursi tandem, sistem fly-by-wire digital, dan mesin turbofan General Electric F404-GE-102, yang memungkinkan kecepatan maksimum Mach 1,5 dan ketinggian operasional 14,8 kilometer. Pesawat ini memiliki berat lepas landas maksimum 12.000 kg dan dapat membawa berbagai amunisi udara ke udara dan udara ke darat.

FA-50 merupakan turunan dari T-50 Golden Eagle, pesawat latih supersonik pertama Korea Selatan, yang dikembangkan pada akhir 1990-an bekerja sama dengan Lockheed Martin. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2002, T-50 berevolusi menjadi varian yang mampu bertempur, termasuk TA-50 dan FA-50. FA-50, yang telah beroperasi sejak 2005, telah diadopsi oleh beberapa negara untuk peran seperti pertahanan udara, serangan ringan, dan pelatihan tingkat lanjut.

[the_ad id=”77299″]

Angkatan Udara Filipina mulai menerima jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle pada November 2015, saat ini Angkatan Udara Filipina mengoperasikan satu skadron FA-50PH. Namun, Angkatan Udara Filipina (PAF) telah kehilangan satu unit FA-50PH akibat kecelakaan fatal yang terjadi pada 4 Maret 2025 di Bukidnon. Pesawat dengan nomor ekor 002 tersebut jatuh saat menjalankan misi malam hari melawan pemberontak New People’s Army, menewaskan dua pilot di dalamnya.

Setelah insiden tersebut, 11 unit FA-50PH yang tersisa sempat di-grounded untuk investigasi, namun telah kembali beroperasi sejak akhir Maret 2025. (Gilang Perdana)

Jatuh Saat Misi Tempur, Angkatan Udara Filipina Kesampingkan Penyebab Insiden FA-50 Berasal dari Faktor Teknis