61 Tahun SR-71 Blackbird: Mengenang Debut Sang Legenda Supersonik yang Menembus Batas Fisika

Bob Gilliland dan SR-71

Tepat hari ini, 22 Desember 2025, dunia memperingati momen bersejarah yang terjadi 61 tahun silam. Pada tanggal yang sama di tahun 1964, sebuah pesawat intai paling radikal yang pernah diciptakan manusia, SR-71 Blackbird, pertama kali mencium cakrawala. Di atas gurun California yang sunyi, burung besi berwarna hitam pekat ini memulai debutnya, mengubah wajah intelijen udara dan supremasi kecepatan untuk selamanya.

Baca juga: Empat Pesawat Tempur Penguasa Udara: Mampu Tembus Kecepatan Mach 2.83!

Penerbangan perdana ini dilakukan dari fasilitas rahasia Air Force Plant 42 di Palmdale, California. Di balik kemudi kokpit yang sempit dan dipenuhi instrumen analog, duduk pilot uji legendaris dari Lockheed, Bob Gilliland. Dalam penerbangan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam tersebut, Gilliland berhasil memacu prototipe Blackbird hingga kecepatan Mach 1.5 pada ketinggian 50.000 kaki.

Momen singkat itu membuktikan bahwa desain radikal hasil karya tim jenius Skunk Works bukan sekadar teori, melainkan mahakarya yang mampu menaklukkan hukum fisika.

Sejarah pengembangan SR-71 bermula dari kebutuhan mendesak Amerika Serikat di era Perang Dingin untuk memiliki pesawat intai yang mustahil ditembak jatuh. Di bawah kepemimpinan desainer legendaris Clarence “Kelly” Johnson, pesawat ini dirancang untuk terbang lebih tinggi dan lebih cepat dari apa pun yang ada saat itu.

Ada fakta ironis dalam pembuatannya: karena SR-71 harus tahan terhadap panas ekstrem akibat gesekan udara, 93% badannya terbuat dari titanium. Namun, karena AS tidak memiliki cadangan titanium yang cukup, CIA harus mendirikan berbagai perusahaan cangkang untuk membeli logam tersebut secara sembunyi-sembunyi dari Uni Soviet—negara yang justru menjadi target pengintaian utama pesawat ini.

Jika kita membedah kemampuannya, SR-71 adalah sebuah anomali teknologi. Ditenagai oleh dua mesin raksasa Pratt & Whitney J58, mesin ini unik karena mampu berfungsi sebagai turbojet biasa saat lepas landas, namun berubah menjadi ramjet saat mencapai kecepatan tinggi.

Lockheed A-12: Kembaran SR-71 Blackbird, Dibuat Khusus untuk Tugas Mata-mata CIA

Pesawat ini mampu melesat stabil pada kecepatan Mach 3.2 (lebih dari 3.500 km/jam) di ketinggian 85.000 kaki. Pada kecepatan tersebut, suhu gesekan udara mencapai lebih dari 300°C, membuat badan pesawat memuai hingga beberapa inci. Inilah alasan mengapa tangki bahan bakarnya dirancang sengaja “bocor” saat di darat; celah tersebut baru akan tertutup rapat saat badan pesawat memuai karena panas di udara.

Satu fakta unik yang sering membuat orang tercengang adalah bahan bakarnya, JP-7. Bahan bakar ini dirancang sangat khusus agar tidak meledak meski terpapar suhu panas ekstrem di badan pesawat. Saking stabilnya, JP-7 tidak bisa dinyalakan dengan korek api atau puntung rokok.

Untuk menyalakan mesin J58, pilot harus menggunakan bahan kimia cair yang disebut Triethylborane (TEB) yang akan meledak secara spontan saat bersentuhan dengan udara, menciptakan semburan api hijau yang ikonik saat mesin dihidupkan.

Rahasia di Balik SR-72 Darkstar Terungkap, Ada ‘Peran’ Elon Musk yang Bawa Kecanggihan SpaceX dan Tesla

Selama masa operasionalnya (1966-1998), strategi pertahanan SR-71 sangat sederhana: jika radar mendeteksi rudal musuh, pilot cukup menambah kecepatan dan SR-71 akan meninggalkan rudal tersebut begitu saja. Tercatat, tidak pernah ada satu pun SR-71 yang berhasil ditembak jatuh oleh musuh.

Setelah dipensiunkan oleh Angkatan Udara karena biaya operasional yang sangat mahal, beberapa unit dipinjamkan kepada NASA. Di sana, Blackbird bertransformasi menjadi platform riset udara untuk menguji sensor satelit, eksperimen termal, dan aeronautika tingkat lanjut. NASA adalah lembaga terakhir yang menerbangkan burung hitam ini sebelum akhirnya benar-benar berhenti beroperasi pada tahun 1999.

Kini, 61 tahun setelah Bob Gilliland membawa SR-71 terbang untuk pertama kalinya, sang raja kecepatan telah beristirahat di berbagai museum di AS. Namun, warisan teknologinya tetap menjadi standar tertinggi dalam dunia dirgantara—sebuah pengingat akan masa di mana manusia berhasil membangun pesawat yang mampu terbang lebih cepat daripada peluru. (Gilang Perdana)

McLaren Gandeng Lockheed Martin Skunk Works, Adopsi Teknologi Pesawat ke Supercar