Perang di Ukraina secara langsung membawa pengaruh dalam perkembangan dunia senjata anti tank perorangan, baik itu di segmen rudal maupun roket. Senjata anti tank seolah menemukan panggungnya, sebut saja saat senjata panggul dengan bobot kurang dari 10 kg mampu membuat Main Battle Tank (MBT) dengan berat puluhan ton tak berkutik. Dengan asas keunggulan mobilitas dan user friendly, khususnya senjata (roket) anti tank dengan peluncur sekali buang kini menjadi primadona, khususnya bagi infanteri. (more…)
Perang kerap melibatkan emosi, termasuk emosi untuk mengerahkan persenjataan terbaru dan tercanggih untuk diturunkan ke medan laga. Pelibatan jenis senjata baru, yang notabene peluang pemasarannya tinggi, tentu mengundang risiko. Bila moncer digunakan untuk menghadapi lawan, maka citra yang didapat adalah battleproven, sementara jika sebaliknya, bisa berdampak negatif pada prospek ekspor. Untuk itu pelibatan alutsista keluaran baru, perlu perhitungan matang. (more…)
Selain mengirimkan roket anti tank Panzerfaust 3 ke Ukraina – terdiri dari 400 peluncur dan 1.000 munisi roket, Pemerintah Jerman rupanya juga mengirimkan roket anti tank jenis lain ke Ukraina. Masih di genre man portable, media internasional mewartakan Jerman telah mengirim batch perdana 2.650 unit RGW-90 Matador (Man-portable Anti-Tank, Anti-DOoR) ke Ukraina. (more…)
Di segmen senjata anti tank, jenis roket anti tank dengan peluncur sekali pakai (disposable) lebih banyak diproduksi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat, sebaliknya sedikit terdengar senjata anti tank disposable dirilis oleh Rusia (Uni Soviet) atau negara-negara eks Pakta Warsawa. (more…)
Tanpa menyebutkan jenis senjata secara spesifik, Pemerintah Astralia lewat Perdana Menteri Scott Morrison telah membuat keputusan untuk mengirimkan bantuan persenjataan ke Ukraina. Morrison menyebut telah mengalokasikan dana sekitar US$50 juta (Aus$70 juta) untuk pembelian persenjataan berupa amunisi dan rudal ringan untuk menghadapi invasi Rusia.
Swedia rupanya mendobrak tradisi, dikenal sebagai negara yang menjunjung netralitas, namun pada konflik Rusia dan Ukraina, negara skandinavia itu telah memposisikan dirinya untuk mendukung penuh militer Ukraina. Perubahan arah politik Swedia ini pun banyak dikaitkan dengan beragam isu, seperti adanya ancaman dari Rusia kepada Swedia dan Finlandia, jika kedua negara netral itu bergabung ke NATO. (more…)
Mengikuti jejak mitranya di NATO, Pemerintah Jerman telah memutuskan mengirimkan bantuan persenjataan untuk membantu militer Ukraina. Jenis senjata yang dikirim adalah senjata panggul, yaitu roket anti tank Panzerfaust 3. Berdasarkan sumber dari media internasional, jumlah yang dikirim mencapai 400 peluncur dengan 1.000 roket. Masih dari jenis senjata yang sama, Belanda juga diwartakan mengirim 50 peluncur Panzerfaust 3 ke Ukraina. (more…)
Selain pengiriman rudal anti tank FGM-148 Javelin, rupanya Washington masih melanjutkan pengiriman bantuan persenjataan untuk segmen senjata perorangan ke Ukraina. Jenis senjata yang dimaksud adalah M141 Bunker Defeat Munition (BDM). Wujudnya berupa senjata panggul, namun M141 bukanlah rudal, melainkan roket sekali pakai (disposable) untuk menghancurkan sasaran berupa perkubuan atau bunker. (more…)
Meski sudah dikenal sejak era Perang Dunia Kedua, segmen senjata yang satu ini bisa dikata kurang populer, bahkan sepertinya belum pernah terdengar diaplikasikan secara khusus oleh TNI AL. Namun, faktanya senjata anti pasukan katak (anti frogman) terus dikembangkan, khususnya bagi kekuatan laut yang punya kerawanan tinggi atas aksi sabotase bawah air yang dilakukan pasukan katak. (more…)
Personel Polisi Militer (PM) pada pagi hari (28/7) siaga dengan membawa senjata anti tank, rasanya terdengar tidak lazim, namun itulah yang terjadi di Taipei, persisnya sejumlah anggota PM dengan mengendarai motor dan ranpur lapis baja CM-32 “Clouded Leopard” terlihat berada di sekitaran Kantor Kepresidenan. Ada apa gerangan di wilayah yang dianggap separatis oleh Beijing ini? (more…)