Petinggi Dassault Sambangi Kementerian Pertahanan, Bahas Offset untuk Pengadaan Rafale

Di era pandemi yang belum juga berakhir, kedatangan tamu dari negara asing tentu merupakan upaya besar, boleh dibilang jika tidak ada keperluan mendesak, maka lebih baik pertemuan ditunda, atau bisa dilangsungkan via daring. Namun, ada kabar dari Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan RI, dimana pada 11 Februari lalu, kedatangan tamu penting yang datang dari jauh, yaitu dari Negeri asal jet tempur Rafale.
Baca juga: [Polling] Dassault Rafale Menang Telak Atas Eurofighter Typhoon
Mengutip dari keterangan di Instagram @ditjenpotan, disebutkan Dirjen Pothan Kemhan Mayjen TNI Dadang Hedrayudha didampingi Dirtekindhan Laksma TNI Sri Yanto, menerima kunjungan dari Tim Dassault Perancis. Dalam kesempatan ini Dirjen Pothan Menyampaikan bahwa Pertemuan ini merupakan Perkenalan Perusahaan Dassault Aviation Perancis, yang diwakili Vice President business development, Jean Claude Piccirillo dan Vice President Offset Dassault, Michael Paskoff.
Dalam keterangan tersebut disebut bahwa ada pembahasan seputar offset atas rencana pengadaan jet tempur Rafale oleh Indonesia. Sebagai catatan, pada Agustus 2020 lalu telah dilakukan penandatangan Letter of Intent (LoI) dari Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly.
View this post on Instagram
Dalam LoI tersebut, Kementerian Pertahanan Indonesia menyatakan minat untuk mengakuisisi beberapa jenis senjata, selain terdapat nama Rafale, dalam LoI juga disebut nama kapal selam Scorpene Class, rudal Exocet dan frigat La Fayette Class.
[the_ad id=”12235″]
Mengingat kali ini yang datang ke Jakarta adalah delegasi VIP dari Dassault Aviation, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah keberlangsungan dari rencana pengadaan Rafale. Sebelumnya perlu dipahami, bahwa LoI bukanlah perjanjian atau kontrak pembelian suatu produk, melainkan baru pernyataan minat untuk mengakuisisi, sementara proses pembicaraan dan negosiasi masih harus dilakukan untuk kelanjutannya. Maka boleh jadi kedatangan delegasi Dassault adalah terkait kelanjutan dari isi LoI yang diteken pada Agustus 2020 lalu.

Kilas balik ke awal Desember 2020, jagad netizen di Indonesia dibuat riuh setelah kabar dari situs Perancis, La Tribune.fr yang mewartakan bahwa Indonesia dan Perancis kini tengah mengadakan pembicaraan untuk pembelian 48 unit Rafale dalam kesepakatan yang segera akan ditandatangani.
[the_ad id=”78041″]
Negosiasi antara Perancis dan Indonesia untuk pembelian 48 jet tempur Rafale Perancis sedang berlangsung dengan cepat dan kesepakatan dapat segera ditandatangani. Menurut laporan tersebut, Indonesia ingin mencapai kesepakatan sebelum akhir tahun tetapi negosiator Perancis ingin meluangkan waktu yang diperlukan untuk menyempurnakan detailnya.

Dan ketika akhir tahun (2020-red) telah berlalu, dan belum juga ada kesepakatan atau MoU yang ditandatangani antara Indonesia dan Perancis, maka sebagian warganet ibarat harap-harap cemas lantaran khawatir kena PHP (lagi), setelah pengadaan jet tempur Sukhoi Su-35 tak ada kabar kelanjutannya.
[the_ad id=”12235″]
Dalam konteks Dassault, penawaran Rafale merupakan tantangan dan ujian besar, pasalnya pada tahun 1986, Dassault dikalahkan dalam kompetisi melawan General Dynamic (sekarang Lockheed Martin) yang berhasil menjual F-16 Figting Falcon ke Indonesia, kala itu Dassault menawarkan jet tempur Mirage-2000.
Sementara warganet Indonesia, sebagian besar memang lebih memilih Dassault Rafale, bila pengadaan Su-35 akhirnya kandas. Semoga harapan ini benar-benar dapat terealisasi, mengingat kemampuan TNI AU yang telah tertinggal dari Singapura dan Australia, ditambah konstelasi yang meningkat di Laut Cina Selatan. (Haryo Adjie)



Borong laahh, darimana pesawat rusia maju-mundur mulu tapi kaga maju-maju
Yg penting jadi beli, dananya ada 11 rbu trilion
Yg second aja blm ada realisasi kok ini yg bnr2 baru dan jumlah nya 48 unit wow jadi kagak siiih kok kyknya miss too hill…. Wkwkwk
Itu khan kemhan cari 100 unit pesawat tempur.
Walau saya lebih suka jika 100 unit tempur itu berasal dari 1 merek saja, tetapi mengingat kebiasaan Indonesia yang membeli pesawat yang mirip dengan yang dipunyai tetangga maka kemungkinan komposisi pesawat jet fighter yang akan dibeli itu adalah :
36 unit Rafale
28 unit F15
24 unit FA18 Super Hornet
12 unit EA18 Growler
36 + 28 + 24 + 12 = 100
Di mana :
3 skuadron kecil x 12 unit Rafale akan bertugas mengamankan ZEE.
2 skuadron kecil x 12 unit Super Hornet blok 3 akan bertugas mengamankan laut dalam kepulauan NKRI.
2 skuadron kecil x 14 unit F15 akan bertugas sebagai air superiority.
1 skuadron kecil x 12 unit akan bertugas untuk mendampingi mereka semua.
Sedangkan daratan sudah dikawal oleh F16 yang sudah ada.
Untuk berlatih sama tetangga pun bisa.
Selama ini kita hanya bisa memajukan F16 untuk berlatih dengan Singapore dan Australia.
Misal Singapore punya F16 dan F15. Kita udah punya F16. Jika kita punya F15 maka pesawat kita sudah lengkap jenisnya untuk bisa berlatih dengan Singapore.
Australia punya Super Hornet dan Growler, jika kita punya Super Hornet dan Growler juga maka kita bisa berlatih dengan mereka.
Trus kalo kita punya Rafale, kita bisa berlatih dengan Rafale India.
ini terlaksana nya kapan om? 2040 atau 2100???πππ
ok lah semoga sukses, sukses harapannya, sukses juga buletinnya, dan sukses semuanya……
0 89686 01094 7
OK FRANCE
Lg jemput bola si sales desault, keberhasilan mereka akan menjadi sedikit penyeimbang antara eropa dn Us. Sementara Rusia gk akan dpt kontrak krn ancaman sanksi caatsa,RI lbh cnderung cari dr eropa jk pespur bermesin ganda n adanya cm dr prancis si rafale sementara F16 viper mgkin sekali setelah semua ini rampung. Ckup muda dibaca alurnya, sayang seksli SU 35 idamn penggemar dn pemerhati militer Gk jd dtg … di masa depan dagangan militer eropa akan makin laris ini semua berkat undang2 US (CAATSA)
Mantap Rafale+F15 maka RI punya daya gentar tinggi semoga terealisasi bukan cuma mimpi…
Bagi yang bertanya terus F-16V gimana? F-16V itu sudah pilihan TNI-AU sebelum Rafale, dan menurut US Department of Defense Lockheed Martin sudah mendapatkan kontrak untuk FMS F-16 sampai Januari 2029. Salah satu negara yang disebut adalah Indonesia. Jadi sangat mungkin dan secara pribadi saya yakin TNI AU akan mendapatkan F-16V (karena memang ingin TNI-AU). Rafale juga strong contender mungkin untuk mengganti Flanker sebagai Pesawat Tempur bermesin ganda sementara F-16V tetap sebagai Pesawat Tempur bermesin tunggal.
Jadi jika ingin punya pespur mesin ganda dan yg ada cuma F16 ya terbangkan bareng 2 pesawat tiap flight sekaligus
Kontrak dr RI blom ada utk F-16V. Itu cuma statment LM tentang potensial market F-16V saja.
Kan kemaren maunya berkeras ambil F-35, tp yg ditawarkan malah F-16V.
Makanya beralih ke Rafale. Akhirnya AS bersedia utk menjual F-15 dan F-18 blok terbaru, tp blom ada pembicaraan lanjutan. Baru Rafale ini yg ada tindak lanjut
Sementara pemenang tender sebelumnya utk pengganti F-5 tiger sudah diputuskan adalah SU-35.
mau nanya bang ruskie..Pemenang tender pengganti F-5 Tiger sudah diputuskan SU-35..berarti sekarang Su-35 dalam proses produksi dong ?? mohon pencerahannya….
evo@ biarpun tni au mau nya viper, tapi yg milih nya kan dr kemenhan om…dan tni ga boleh menyebutkan merkπππ
Klo boleh SU-35 tetep di ambil min 1 skuadron buat efek pembeda bagaimanapun jangan lupa indo juga di kepung sekutu Amrik selain China.klo Rafale di ambil jga boleh buat backup pengembanga kfx/ifx versi indo karna mesti ada high tecnologi yg dilarang as buat indo.ea walaupun sekarang pengembangan IFX belum menemui titik terang.klo misal beneran ifx udah produksi kan bisa gantiin f-16 tua.klo TNI AU jangan condong ke as lah.klo TNI ad SMA TNI Al gpp condong ke Eropa atau as.bagaimana pun TNI AU mempunyai efek deteren lebih tinggi dalem penyeranga dri pada Matra lain.kecuali Matra lain ada rudal balistik mungkin beda cerita lagi
Bolehlah 45 asal TOT
O YAH gimana nih dampak senjata HAARP
selama blm ada kontrak resmi yg d publish…brp unit…total oembelian…jadwal pengiriman..itu bkan berita….sdh biasanya..
Kembali ke Jargon lama : Mikir Mulu Beli Kagak
Sementara itu,Β bagaimana dengan tawaran AS berupa F-15 dan F-18?
Menurut Saya,Β tawaran ASΒ ini tergolongΒ sangat terlambat. Karena apa?
Karena administrasi Trump tidak responsif mendengar kritik Indonesia yang katanya akan diancam CAATSA, namun tidak beri alternatif selain F-16V.
Sementara itu,Β umur pemerintahannya saja kurang dari sebulan akan berakhir, dan Saya rasa anda tahu lah siapa pemenang Pilpres AS kemarin, dan newly elected President ini terkenal dengan partainya yang melakukan arms control yang ketat.
Apabila tetep ngebet F-15 & F-18, tentunya melalui proses Foreign Military Sales yang harus mendapat persetujuan dari Congress dan Senate US yang bisa menghabiskan waktu hingga 3 bulan lebih.
JadiΒ jangan terlalu berharap dengan tawaran AS yang sudah kepepet.
Jangan isu isu doang…su35 aja gak jadi datang…apalagi yang ini…php php doang…kapan realnta woi…
Selama blm kontrak efektif sales F 15 sdh menunggu di tikungan akhir
π
untuk engine biar urusan IND kalo kita bagian produksi fast-moving parts dengan nilai ekonomis tinggi atau armament nya yg setara bahkan lebih dari offset nya IND. pokoknya ngejar gimana caranya nih pespur bisa diproduksi dgn kuantitas yg banyak dan cepat dengan nilai jual yg lebih ekonomis/bersaing
Ternyata baru minat, bagusan yg udah kontrak dongπ
Sebelum kontrak diteken pastinya ada pembahasan ToT atau Offset. πππ
Ada fulusnya ga??
Belinya pakai pinjaman luar negeri.
Ga tau dah ini terealisasi atau ga biarkan waktu yg menjawab
La Fayette Class dirancang dengan desain modular strukturnya dibangun dari material light alloy dan glass-reinforced plastic. Untuk rudal anti kapal Exocet MM40 Block 3, dua peluncur empat sel jangkauan 70 km, ada dua pucuk kanon PSU dioperasikan manual kaliber 20 mm, disematkan satu konsol rudal hanud jarak dekat Crotale CN2, dalam konsol tersebut terdapat delapan rudal jarak jangkau 13 km.
……………………………………………………………………..
La Fayette Class sptnya kurang gahar, body kapal tak akan sanggup menahan pecahan amunisi kanon, pertahanan jarak dekat minimalis tak ada CIWS, jangkauan rudal2 nya dekat2 saja.
Dalam pertempuran sesungguhnya ini fregat membahayakan crew kapal malahan, disenggol coastguard cina langsung ambyar lha cuma body fiber.
Saya pilih De Zeven Provincien saja…….kalau boleh milih
Kalo La Fayette Class kurang bagus menurut dirimu tapi kenapa Singapore pakai Formidable yg varian La Fayette Clas.. ππππ
Kasihan daganganmu De Zeven Provicien belum dilirik Kemenhan. π€π€
Ayoo rakyat Indonesia patungan buat beli Rafale !!!
jangan cuman bisa komen2 saja..
Kalau di tandatangani tahun ini, kiraΒ² unit perdana datangnya tahun berapa?
Sayangnya mnurut analisa saya dgn mlihat track record menhankam yg skrg, besar kemungkinan itu semua hny PHP, Big Talk-Small Action.
DASSAULT
(DakAkanSampaiSampaiUntukLangsungTeken)
RAFALE
(RaFatioLehEffort)
Mas…..namanya penandatanganan LOI itu sifatnya resmi G to G yg menunjukkan keseriusan.
Bukan spt ente liat2 pameran mobil trus pura2 minta brosur biar dikata serius, padahal cuma kagum doank. Itu gak akan berdampak mas.
Sementara klo yg urusan negara jika cuma PHP akan berdampak pd kepercayaan dunia.
Yg bisa membatalkan itu jika terjadi krisis baik moneter maupun gejolak politik di kepemerintahan, spt kasus akuisis kasel U-206 jaman pak harto.
https://www.indomiliter.com/ks-type-206-nyaris-jadi-arsenal-korps-hiu-kencana-tni-al/
Atau dibatalkan krn tidak ada kesepakan antar kedua negara terkait aturan main dalam pembeliannya. Spt kasus batalnya pembelian Korvet kelas Steregushchiy dr Rusia yg tdk ada kesepakatan terkait TOT.
KFX yg jelas2 udah setor duit aja gak jadi2, jangankan yg baru rundingan
Yang penting yang dipinang jangan rafale kelas janda polesan, harus fafale yang ting ting abis dengan tranche terbaru,dan semoga covid 19 tidak dijadikan alasan oleh para pembisik bahwa 20 tahun lagi ga ada perang gara gara covid 19,kasihan para prajurit kita secara individu kualitas lelaki sejati tetapi alutsistanya kelas aki aki
Militer kita harusnya Mnimum Essential Force bukan Minimum Economy Fund
Kasus KFX itu berbeda. Itu masalah hak intelektual dan share lisensi.
Tanya Pak Pur dan Syafrie bgmana dulu proses nego utk beli tambahan Sukhoi, F-16 Refurbished, TA-50, Tucano, Apache, Bung Tomo class, Changbogo, dll
@Tango
ππππππ
Lah, Pak Sjafrie Sjamsoeddin kan sekarang jadi Asisten Khusus Pak Prabowo di DepHan.
https://nasional.tempo.co/read/1289551/prabowo-angkat-5-asisten-khusus-kemenhan-belum-beri-penjelasan/full&view=ok
F 15 EX siap nikung………
F-15 EX gurun (baca : F-15 eks gurun)
Kalo bisa jalan berdua kenapa harus nikung? Udah sekata (operating in Nato environment) namun belum sehati
luar biasa banget kalo sampai 2 fighter ini dibeli (F 15 – Rafale)……
TNI AU akan memiliki 3 type fighter kelas kakap (SU 27/30, Rafale & F 15)
@ini aku 4 jenis kalau tambah Typhoon, haha…
Semoga cepet ttd kontrak pengadaan 48 Rafale…btw kita ada dananya ga?…kalo perancis mau ngutangin br cepet itu prosesnya
Remember…NO RUSSIAN..!!
– COD:MW 2
GUUUUUSTI…..mbok SAMPEAN paringi PAK BOWO ‘WANGSIT’ ben cepetan di tuku RAFALEne…AMIN
Ini yg dibeli RAFALE nya, yang BARU berapa dan yang BEKAS berapa??
Berati si AUSTRIA nggak jadi, di tikung sama RAFALE…..
Wong cuma dikunjungi untuk perkenalkan perusahaan koq, sampai 2030 tak akan ada pembelian pesawat tempur apapun setelah itu wajib beli Viper, kalau tidak dijitak lik Sam DakAkanSampaiSampaiUntukLangsungTeken
(DASSAULT)
@kabeerje
Perkenalan perusahaan kok bahas Offset.. πππ
Menhan sudah menolak Viper kok maksa beli Viper. Emangnya situ siapa?? πͺπ
Bukannya yang ditawakan tahun 1986 itu Mirage 2000 ya?
Tenang..klo pengadaan ngga jadi masih ada komcad..senjata rahasia kita..klo masih kalah jg..nnti tinggal minta bantuan emperor of sunda empireπ
Bisa koq. Ga mimpi
Ayo cepet nego-negonya, tapi ngotak dikit negonya jangan sampe bikin yang nawarin dagangan geleng kepala
Mudah mudahan kontrak 36 unit Rafale untuk TNI AU cepat di tanda tangani, setelah seluruh pesanan 36 Rafale lengkap dengan persenjataannya untuk TNI AU telah dikirim semuanya dan dioperasionalkan oleh TNI AU baru kita pesan 12 f-35 dari USA 6 unit f-35A dan 6 unit f-35B baru MANTAP
Cuma pendapat pribadi
dapet offset jg sdh bagus, PT. DI punya kemampuan dan pengalaman buat part F16, tinggal nego persentase nya.
tdk perlu ngotot minta byk ToT, yg blm tentu bisa dikerjakan disini.
yg penting Rafale nya cpt kontrak, cpt di produksi dan delivery.
Iya benar tidak perlu ngotot minta banyak ToT yang belum tentu bisa dikerjakan di sini.
Makanya ToT untuk KFX jika berupa bikin sayap saja seharusnya Indonesia sudah senang walau bayar 20% dari jumlah total program. Indonesia gak bisa bikin mesin, radar, senjata pesawat yg canggih aja kok ngotot mau minta ToT yang gede padahal PT DI cuma bisa bikin sayap aja.
Kalo cuma.kepengen bikin sayap ga usah join production bro…..@koplit, beli aja pespur yg banyak lantas minta offset π€·
Tapi yg paling nyata, dg proyek IFX, kita sudah dijajah oleh impian bisa bikin pesawat tempur secara instant βοΈ
Saat proyek ini bergulir, kapasitas, kapabilitas, pengalaman dan TKDN dari industri pendukungnya belum mengarah kesana……keunggulan kompetitif PT DI adalah dalam merancang bangun pesawat komuter bermesin turbo prop yg pasarnya sangat besar π€·
Sekarang apa yg terjadi setelahnya: SDM yg terbatas terbelah-belah utk menangani berbagai pekerjaan, termasuk IFX ini, duit mengalir banyak, progres di IFX tersendat-sendat, sementara kemampuan kita mengerjakan proyek yg lain spt N-245, atau Regio dg R-80 nya……kita sudah nggak sanggup lagi karena ga ada biaya ππ΅π€§
Kita kehilangan banyak peluang yg lain karena mengejar impian bisa bikin IFX ini……π
Dan sekarang malah leonardo dg ATR nya yg blebar-bleber dg leluasa, menguasai angkasa Indonesia sbg sarana penghubung antar pulau…….πππ
Dimanapun produsen pesawat biasanya juga cuma karoseri bang, mesin, radar dan senjata beli dari pabriknya sendiri2, misal kita sudah mampu bikin mesin pesawat sendiri mungkin akan diserahkan ke badan usaha lain dan PT. DI tetap hanya rakit saja dari komponen bodi sampai asembli pesawatnya, kalau ndak salah pakemnya spt itu
Pakde maunya nanti punya label buatan anak bangsa tapi belinya dikit aja
“Industri pendukung” itu di luar pt.di pak @kaberje……..dan sampai sekarang produk yg bersifat hardware belum ada
Kok “pakde” dibawa-bawa….ini proyek jaman kapan akang @sangkuriang π€·
Kalo belum terlanjur keluar duit banyak, pasti udah diterminasi dari kemarin-kemarin proyeknya……tuh liat contoh pak Erick Tohir, yg orang sipil, dg penuh perhitungannya berani memutus kontrak leasing jet bombardier yg terindikasi ada markup harga
masalah seputar kfx :
https://www.flightglobal.com/analysis-the-complicated-conception-of-kfx/118385.article
intinya ‘perijinan’
klo situsnya d blok, search judulna aj
analysis the complicated conception of kfx
artikel thn 2015 an sih…
kalo 36 unit IND dapat offset produksi snecma M88.mudahΒ²an IDN kebagian manufaktur platform F3-4 atau ‘gotongan’ nya dan secepatnya dipublish.dan jgn lupa flightsim nya berhubung biaya operasional yg sangat besar.setelah itu baru pepet rostec (Su-57 Γ S-400)
*rosoboronexport
Produksi mesin jet sepertinya terlalu berat buat Indonesia. Paling produksi fast-moving parts, komponen2 yang sering diganti dalam maintenance. F-16 juga offset nya begitu.
Dgn penguasaan tech metalurgi yg blm matang mmg sulit utk tot mesin,yg lbh masuk akal mmg tot spare yg sering diganti spt tot f 16 dl,sukur2 klo dpt tot harwat gede utk rafale jd gk usa muluk2 dl bikin pespur kyk ambisi kfx yg penting ,fuel,maintenance & readiness dl yg terpenuhi br pikir yg lain,cth planing SG & Ausie gk perlu mereka bikin2 pespur tp readiness & maintenance mereka sgt OK
untuk engine biar urusan IND kalo kita bagian produksi parts dengan nilai ekonomis tinggi atau armament nya yg setara bahkan lebih dari offset nya IND. pokoknya ngejar gimana caranya nih pespur bisa diproduksi dgn kuantitas yg banyak dan cepat dengan nilai jual yg lebih ekonomis/bersaing
Dengar” sih 36 sdh ok bakal diangkut. Paling tidak pertengahan atau menjelang akhir tahun 2021 sdh ada kesepakatannya. Jd klo terjadi konflik China vs As n sekutunya paling tidak baju non blok RI bakal di tanggalkan sementara buat ikut gabung ngeramaikan nimpukin China pake Trio From France with love, Rafale, Scorpene dan Lafayete.
Siapa tau dapat jatah kaplingan wilayah Guangdong atau pulau Hainan..π
Bang.. emang susu35 beneran batal?
Semoga su-35 satu skuadron dan rafale satu skuadron f-16 viper satu skuadron
Anggarannya 2021 sdh keluar kok batal. Yg batal itu viper krn user gak mau.
Ga perlu kaplingan cukup reformasi politik di mainland serta transparansi hukum dan informasi sama seperti reformasi 1998 nya Indonesia
Itukan utk kepentingan dlm negeri mereka mbah.
Klo di kita, paling tidak hrs hilang itu garis putus2 klaim tak mendasar dr mereka
Klaim Garis2 putus itu propaganda partai utk menggalang nasionalisme dan legitimasi kekuasaan di mata rakyat sama dgn kasus Taiwan begitu juga dgn postur2 agresif lain. Keberlangsungan kekuasaan partai adlah segala2nya bagi kroni Xi Jinping. tidak adanya ruang oposisi dan transparansi sebagai tanggul akan terus menyebabkan arah kebijakan dlm negeri mereka terus mengarah
agresif keluar. Berbeda dg AS dan negara eropa lain pemerintahan seperti ini tidak menyediakan ruang utk lobi dan kompromi dlm diskusi multilateral antar negara.
Itu bukan propaganda partai lg mbah, sdh dilegitimasi oleh pemerintah yg berkuasa. Jd sdh mengatas namakan pemerintah. Klo msh bentuk propanganda partai gak mungkinlah sampe dikomplain philipina masuk ke Mahkamah International.
Jd itu sdh keputusan resmi pemerintah China, bukan bentuk propaganda.
@Bung Ruskey
Kalo Indonesia ikutan “Gebukin” China apakah nanti Hutangnya akan LUNAS ?
Langsung lunas dek.
Itu bagian dr pampasan perang bagi pemenang perang.
Krn perang itu butuh biaya dek, dan itu dijadikan alasan utk menihilkan hutang. Sebagai konsekuensi bagi China krn memicu konflik.
Lha klo menang perang tp gak dpt hasil apa2, itu bukan menang perang dek, tp kolaps. Minimal dpt kedaulatan atau haknya.
Mau gak mau harus cepat, China dah didepan pintu.
Halah.. Emang Australia ga punya potensi nusuk Indonesia dari belakang?
Semuanya punya potensi namun agresifnya suatu negara bisa diukur dgn konstitusi tata negara dimana check dan balance punya peranan penting.
Jangan salahkan Indonesia jika mulai menanggalkan kenetralannya. Berbisnis dgn mereka bukan berarti harus nurut kebijakan politik partai yg berkuasa contohlah Jepang, Korea dan Taiwan
Australia dah nusukin melulu dari dulu berkawan memang, begitu juga dengan cina, masalahnya cina lebih agresif dan tampak nyata, persahabatan sebatas bagi kepentingan politik dan ekonomi, konsep kuasai negara lain on track bagi cina apalagi tambah kuat dari segala segi sekarang. Sedangkan kita yg tak punya konsep nambah wilayah murni bersahabat jadinya walau dikadali berkali kali kita tetap tak mau sadar dengan potensi2 bahaya bagi negara, “aman lah negara kita ini, siapa berani serang” itu kata yg punya kata
China cuman angkatan lautnya dan coast guard yang resek pesawat mereka belom
Mimpi siang bolong saingi Australia
Fokus Australia sekarang lagi perang dagang dengan China. Australia juga sudah kirimkan Destroyer Hobart ke Laut China Selatan.
Secara budget pertahanan Indonesia memang kalah jauh dengan Australia tapi sebentar lagi budget pertahanan Indonesia bisa ngalahin budget pertahanan Singapore.
Budget aus 40-50an milyard us dolar kan y? Blum lg aus kan ally-nya uwak n tuyulnya uk,pastinya dipiara itu