Misi CAS di Perbatasan Kamboja: Saat Kode ‘T’ pada T-50TH Thailand Menjadi ‘Terror’ bagi Lawan

Secara faktual, meskipun Indonesia adalah pembeli ekspor pertama (launch customer) T-50 Golden Eagle di dunia pada tahun 2011, spesifikasi T-50i TNI AU tertinggal cukup jauh jika dibandingkan dengan T-50TH milik Thailand. Meski begitu, ketertinggalan spesifikasi bukan selalu terkait anggaran.
Saat pertama kali dipesan, T-50i dikonfigurasi sebagai Lead-In Fighter Trainer (LIFT) murni untuk menggantikan jet Hawk MK-53. Versi awal yang datang bahkan tidak memiliki radar dan tidak memiliki kanon internal. Fokus utamanya saat itu adalah melatih pilot sebelum pindah ke Su-27/30 atau F-16.
Sebaliknya, Thailand memesan pesawat ini belakangan (sekitar tahun 2015), ketika teknologi T-50 sudah lebih matang. Mereka langsung meminta spesifikasi yang hampir setara dengan FA-50 (varian tempur), lengkap dengan radar, kabel senjata, dan link data yang lebih maju sejak hari pertama.
Setelah beberapa tahun beroperasi, TNI AU baru melakukan upgrade untuk memasang radar (AN/APG-67) dan kanon M197. Namun, secara sistemik, integrasi senjatanya masih terbatas pada bom bodoh (dumb bombs) dan roket. Sementara itu, T-50TH Angkatan Udara Thailand (RTAF) ,emiliki sistem manajemen tempur yang lebih mutakhir.

T-50TH sudah mengintegrasikan Sniper Advanced Targeting Pod (ATP). Ini adalah “game changer” yang memungkinkan T-50TH Thailand menembakkan bom pintar berpandu laser (LGB), kemampuan yang belum dimiliki oleh armada T-50i Indonesia.
Thailand mengintegrasikan T-50TH mereka ke dalam ekosistem Link-T (buatan lokal Thailand) dan kompatibilitas dengan sistem Barat yang lebih luas. Hal ini membuat T-50TH bisa “berbicara” atau bertukar data radar dengan JAS-39 Gripen dan pesawat AWACS Saab Erieye mereka.

Meskipun mesinnya sama-sama General Electric F404, versi Thailand sering kali disebut memiliki paket avionik yang lebih siap untuk skenario BVR (Beyond Visual Range) atau pertempuran jarak jauh, sementara T-50i masih sangat difokuskan pada pertempuran jarak dekat (dogfight).
Spesifikasi Mendekati FA-50
Secara teknis, T-50TH memang sudah sangat mendekati spesifikasi FA-50 (varian Fighting Eagle atau tempur murni), namun Thailand tetap memilih menggunakan penamaan “T-50TH”.
Meskipun mampu membawa persenjataan lengkap, tugas utama T-50TH di Angkatan Udara Thailand tetaplah sebagai pesawat latih transisi bagi pilot yang akan naik ke F-16 atau JAS-39 Gripen.
Filipina Tuntaskan Kontrak Pengadaan 12 Unit FA-50 Block 20 Fighting Eagle Senilai US$700 Juta
Kode “T” (Trainer) menegaskan peran utamanya untuk pelatihan. Kode “FA” (Fighter/Attack) biasanya diberikan pada unit yang 100% dialokasikan ke skadron tempur garis depan tanpa peran pelatihan dasar lagi, seperti FA-50PH milik Filipina yang memang tidak punya skadron latih khusus untuk jet tersebut.
Secara teknis, ada perbedaan kecil namun krusial antara seri T dan FA. FA-50 asli biasanya memiliki kapasitas tangki bahan bakar internal yang sedikit lebih besar atau penguatan struktur tertentu untuk misi serangan darat intensitas tinggi yang tidak dimiliki oleh varian T standar.
T-50TH adalah “hibrida” yang memiliki avionik tempur sekelas FA-50, tetapi masih mempertahankan karakteristik fisik jet latih untuk menjaga efisiensi biaya operasional latihan harian.
Memberi nama “T-50” (Latih) seringkali dianggap kurang “agresif” di mata negara tetangga dibandingkan jika Thailand mengumumkan pembelian “FA-50” (Jet Tempur Serang). Ini adalah bentuk diplomasi pertahanan yang halus; memiliki kemampuan tempur yang mematikan namun tetap dibungkus dalam profil pesawat latih.
Misi CAS (Close Air Support) di perbatasan Kamboja membuktikan bahwa “T” pada T-50TH kini bisa berarti “Terror” bagi lawan di darat, bukan sekadar “Trainer”. (Gilang Perdana)
Batch Pertama T-50i (Tambahan) Tiba Mulai November 2025, Jumlah Golden Eagle TNI AU Menjadi 19 Unit



T-50 TNI AU bahkan harus dicangkok pemberat di bagian depannya karena tidak dibekali radar
Sangat disayangkan ketika kita membeli alusista dengan kosongan, meskipun digunakan untuk “Trainer” karena dengan paket yang lebih baik, seharusnya semua alusista yang dimiliki dapat lebih multi fungsi
RUGI……wong sama Kamboja make pesawat baru. Make Alpha jet dan F5 cukup.
“Saat pertama kali dipesan, T-50i dikonfigurasi sebagai Lead-In Fighter Trainer (LIFT) murni untuk menggantikan jet Hawk MK-53. Versi awal yang datang bahkan tidak memiliki radar dan tidak memiliki kanon internal.”
Siapa bilang tak memiliki radar? Kita tetap pakai namanya “Darto” alias radar moto 👍😂