Kapal Selam Tanpa Awak KSOT PT PAL: Mengapa Koneksi Satelit Jadi ‘Tulang Punggung’ Komunikasi di Laut Dalam?

Sejak diperkenalkan ke publik pada HUT TNI ke-80 pada 5 Oktober lalu, debut KSOT (Kapal Selam Autonomous) produksi PT PAL Indonesia, terus menjadi sorotan, terlebih muncul beberapa foto yang memperlihatkan tahap uji coba pelayaran KSOT-001, menyiratkan program hasil kerja sama PT PAL dan Diehl Defence yang dikukuhkan saat Indo Defence 2022, berlangsung secara agresif.

Baca juga: Spesifikasi Bikin Penasaran, KSOT Bakal Meriahkan Defile Alutsista HUT TNI Ke-80

Disebut hadir dalam tiga varian, Surveillance, Torpedo-Armed Variant, dan One-Way Attack (OWA) / Kamikaze, banyak hal menarik tentang jenis alutsista baru TNI ini, salah satunya adalah tentang sistem kendali dan komunikasi pada KSOT – yang termasuk dalam segmen Kapal Selam Tanpa Awak (Unmanned Underwater Vehicle/UUV). Apakah ada persamaan dengan  UUV milik Angkatan Laut Inggris (Royal Navy), yang mampu dikendalikan dari Australia yang berjarak 16.093 km?

Meskipun detail teknis yang sangat rahasia (terutama algoritma dan source code) tidak akan pernah dipublikasikan, informasi yang tersedia menunjukkan bahwa sistem kendali KSOT mengandalkan otonomi tingkat tinggi dan kecerdasan buatan (AI).

KSOT dikatakan beroperasi menggunakan kecerdasan buatan (AI). Ini berarti setelah menerima misi awal, komputer di dalamnya mampu mengambil keputusan secara mandiri (otonom) untuk navigasi, menghindari rintangan, dan bahkan menjalankan fungsi tempur tanpa campur tangan operator manusia secara real-time.

Saat berada di bawah permukaan, KSOT dilengkapi dengan sistem navigasi modern (kemungkinan kombinasi dari INS/Inertial Navigation System dan Doppler Velocity Log saat di bawah air) yang memungkinkan kapal ini menjalankan misi dengan presisi tinggi. KSOT dirancang untuk beroperasi di bawah laut hingga 72 jam non-stop tanpa perlu diintervensi, menunjukkan keandalan sistem kendali otonomnya.

Mode Otonom (Autonomous Mode/AUV) adalah mode yang paling diinginkan untuk misi jangka panjang dan dalam. Operator darat atau kapal permukaan hanya mengirimkan rencana misi (waypoint dan tugas) sebelum UUV menyelam.

UUV kemudian menjalankan misi ini secara mandiri menggunakan kecerdasan buatan (onboard computer) dan sistem navigasi inersia (Inertial Navigation System/INS) atau GPS underwater tertentu. UUV hanya akan berkomunikasi jika misinya selesai atau ada keadaan darurat.

Meskipun UUV, KSOT tetap perlu dimonitor dan diinstruksikan, KSOT dikendalikan dari jarak jauh melalui Pusat Komando Bergerak (Mobile Command Center). Ini adalah stasiun darat atau kapal permukaan yang bertindak sebagai hub komunikasi dan pemantauan. Jangkauan operasinya mencapai 200 nautical mile dari pusat kendali, menunjukkan bahwa komunikasi (upload dan download data misi) dilakukan menggunakan teknologi satelit atau radio ketika KSOT muncul ke permukaan air.

PT PAL menyatakan bahwa KSOT beroperasi menggunakan frekuensi radio langsung atau satelit untuk berkomunikasi dengan Autonomous Submarine Command Center (ASCC) dan markas besar. Solusi seperti Starlink, secara teknis dapat menjadi penyedia layanan satelit yang sangat cepat.

UUV KSOT (terutama varian Pengintai) perlu mengirim data dalam jumlah besar (seperti citra, rekaman sonar resolusi tinggi, atau video) saat muncul ke permukaan. Sistem satelit militer tradisional seringkali tidak memberikan bandwidth secepat itu. Sementara Starlink yang menggunakan orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) menawarkan kecepatan dan latensi rendah yang ideal untuk transfer data masif yang cepat saat kapal berada di permukaan.

Australia Kendalikan Kapal Selam Tanpa Awak Inggris Berbobot 17 Ton dari Jarak 16.000 Km

Meski begitu, penggunaan Starlink pada platform militer, apalagi UUV, memerlukan integrasi yang ketat dan keamanan siber yang sangat tinggi. Laporan dari Naval News menyebutkan KSOT memiliki tiang lipat besar (large folding mast) pada bagian atasnya (“layar”). Tiang ini berfungsi untuk mengangkat berbagai sensor dan antena komunikasi (termasuk antena satelit) ke atas permukaan air untuk berkomunikasi.

Namun, satelit tidak dapat berkomunikasi langsung dengan UUV yang sedang menyelam karena sinyal radio (termasuk sinyal satelit) tidak bisa menembus air laut dalam.

Tidak seperti drone udara (UAV), KSOT tidak dikendalikan layaknya joystick saat menyelam, melainkan diberi perintah misi oleh operator, dan kemudian komputer berbasis AI-nya yang bekerja keras untuk menyelesaikan misi di bawah air. (Gilang Perdana)

KSAL Sebut Indonesia Belum Punya Alat Pendeteksi Kapal Selam Asing, Padahal Sudah Dicanangkan Sejak 2017

5 Comments