Inggris Pasok RapidRanger ke Ukraina, Sistem Rudal Hanud yang Lebih Dulu Diadopsi Indonesia

Konflik di Ukraina terus menjadi medan pembuktian bagi berbagai teknologi pertahanan udara mutakhir. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Ukraina telah menerima dan mulai mengoperasikan sistem pertahanan udara jarak pendek (SHORAD) RapidRanger. Menariknya, sistem yang kini diandalkan Kiev untuk merontokkan drone dan rudal jelajah tersebut bukanlah barang asing bagi TNI AD, karena Indonesia merupakan salah satu pengguna pionir platform ini.
Berdasarkan laporan Defence Blog, sistem RapidRanger ini merupakan bagian dari paket bantuan militer Inggris senilai £1,7 miliar yang diumumkan pada tahun 2025. Sistem ini telah terlihat dikerahkan oleh unit pertahanan udara bergerak Ukraina untuk menghadapi ancaman di ketinggian rendah.
Kehadiran RapidRanger di Ukraina berfungsi untuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh sistem Stormer HVM (beroda rantai) yang banyak hancur atau butuh peremajaan di medan perang. Dengan bobot peluncur yang kurang dari 500 kg, RapidRanger menawarkan fleksibilitas tinggi bagi pasukan Ukraina untuk melakukan taktik shoot-and-scoot (tembak dan lari).
Meskipun RapidRanger merupakan integrasi dari Thales Air Defence (Inggris), Inggris sendiri sebenarnya “menyusul” langkah Indonesia dan Malaysia dalam mengadopsi platform ini.
🇬🇧 The first photos of the Rapid Ranger surface-to-air missile system, supplied by the United Kingdom to the Ukrainian Armed Forces, have been released.
In March 2025, Ukraine and the UK signed an agreement for the purchase of SAM systems and LMM Martlet missiles totaling 5,000… pic.twitter.com/TIFXlKaeQR
— RusWar (@ruswar) March 27, 2026
Arhanud TNI AD telah lebih dulu mengoperasikan sistem serupa yang dikenal dengan sebutan ForceSHIELD. Indonesia menempatkan peluncur RapidRanger ini di atas rantis (kendaraan taktis) VAMTAC ST5 4×4 buatan Urovesa, Spanyol. Penggunaan rantis roda ban ini terbukti lebih efisien dalam hal biaya operasional dan mobilitas di medan aspal maupun off-road dibandingkan platform roda rantai seperti Stormer.
Sistem RapidRanger yang dikirim ke Ukraina maupun yang dimiliki Indonesia memiliki keunggulan teknis yang mumpuni untuk meladeni sasaran di ketinggian rendah. RapidRanger dilengkapi dengan empat peluncur rudal siap tembak dalam satu kubah Remote Control Weapon System (RCWS). Artinya, operator dapat mengendalikan penembakan dari dalam kabin kendaraan yang terlindungi lapisan baja.
Arhanud TNI AD Tampilkan Rudal MANPADS Martlet, Diperkenalkan ke Unit Infanteri Raider
Sistem ini mampu meluncurkan rudal Starstreak yang legendaris dengan kecepatan melebihi Mach 3, menggunakan tiga sub-amunisi “dart” tungsten untuk memastikan kehancuran target. Selain Starstreak, sistem ini juga kompatibel dengan Lightweight Multirole Missile (LMM) Martlet untuk menghadapi target permukaan atau drone yang lebih lambat.
Dilengkapi dengan kamera siang hari dan termal (thermal imaging), RapidRanger memiliki jangkauan deteksi target hingga lebih dari 15 km dan jangkauan cegat efektif di atas 7 km. Sistem pemandunya menggunakan laser-beam riding yang sangat sulit diganggu oleh sistem jamming (anti-jamming).
Rantis VAMTAC ST5 dari Spanyol dipilih karena kemampuannya membawa beban berat (high payload) namun tetap lincah. Kendaraan ini setara dengan Humvee Amerika namun dengan teknologi suspensi yang lebih modern, memungkinkannya melibas medan berat sambil membawa sistem radar dan peluncur rudal yang kompleks. (Gilang Perdana)
VAMTAC ST5 4×4 RAPIDRanger: Rantis Pengusung Rudal Starstreak RCWS Arhanud TNI AD


