Ironi Industri Pertahanan: Mengapa Kontrak Alutsista Israel Tetap Cetak Rekor di Tengah Boikot Internasional?

Sepanjang tahun 2025, posisi Israel dalam kancah internasional berada di titik yang kontradiktif. Di satu sisi, tekanan diplomatik dan boikot di berbagai pameran pertahanan global meningkat akibat kebijakan militer di Gaza dan Palestina yang memicu krisis kemanusiaan.

Baca juga: Denmark Batalkan Rencana Pengadaan Sistem Hanud Barak MX dari Israel, Klaim Karena Alasan ‘Teknis’

Namun di sisi lain, data menunjukkan bahwa sejumlah negara tetap melanjutkan, bahkan memperluas, kontrak strategis bernilai miliaran dolar dengan Negeri Yahudi tersebut. Laporan terbaru dari Al Jazeera mengungkap bahwa sektor energi, teknologi, dan pertahanan tetap menjadi tulang punggung ekspor Israel yang tak tergoyahkan oleh sentimen politik global.

1. Mesir: Raksasa Energi dari Leviathan
Kesepakatan terbesar yang tercatat secara publik di tahun 2025 bukanlah alutsista, melainkan energi. Mesir menandatangani kontrak senilai US$35 miliar (sekitar Rp550 triliun) untuk pengiriman gas alam dari ladang Leviathan hingga tahun 2040. Kesepakatan ini memperdalam ketergantungan energi Kairo pada Israel di tengah krisis listrik yang melanda negara tersebut.

Kecam Kebiadaban di Gaza, Spanyol Batalkan Pembelian Self Propelled PULS dari Elbit Systems Israel

2. Jerman: Rekor Ekspor Militer Terbesar
Jerman mengukuhkan posisinya sebagai mitra pertahanan utama Israel di Eropa. Pada Desember 2025, Berlin menyetujui ekspansi kontrak sistem pertahanan rudal Arrow 3 senilai US$3,1 miliar, sehingga total nilai kesepakatan mencapai US$6,5 miliar.

Hal tersebut tercatat sebagai ekspor militer terbesar dalam sejarah Israel, membuktikan bahwa teknologi pencegat rudal balistik Israel masih menjadi komoditas yang paling diburu meskipun ada tekanan politik di dalam negeri Jerman sendiri.

Sudah Punya Patriot dan Arrow 3, Jerman Masih Merasa Kurang, Ingin Borong Sistem Rudal Hanud Arrow 4 dari Israel

3. Amerika Serikat: Mitra Strategis Utama
Amerika Serikat tetap menjadi mitra dagang terbesar dengan kontribusi sekitar 18,9% dari total perdagangan Israel. Selain bantuan militer tahunan, perusahaan teknologi AS seperti Nvidia mengonfirmasi investasi sebesar US$1,5 miliar untuk membangun pusat data AI (server farm) raksasa di wilayah Haifa, menunjukkan bahwa sektor teknologi tinggi Israel tetap dianggap aman bagi investor Silicon Valley.

4. Sektor Teknologi dan Akuisisi Global
Meskipun ada gerakan boikot, perusahaan-perusahaan internasional terus mengakuisisi perusahaan rintisan (startup) asal Israel. Sebut saja Xero (Selandia Baru) mengakuisisi perusahaan fintech Melio senilai US$3 miliar, dan Munich Re (Jerman) mengakuisisi Next Insurance senilai US$2,6 miliar.

Pentagon Resmi Teken Kontrak US$8,6 Miliar: F-15IA Israel Segera Masuk Jalur Produksi

Kualitas produk pertahanan Israel yang telah “teruji di medan tempur” (battle-proven) menciptakan daya tarik tersendiri. Selain kontrak publik yang disebutkan di atas, laporan intelijen pasar menunjukkan adanya tren “kontrak kerahasiaan tinggi” dengan negara-negara yang secara resmi mengecam Israel di depan publik, namun tetap membeli teknologi intelijen (seperti perangkat lunak mata-mata) dan sistem pertahanan udara secara diam-diam demi keamanan nasional mereka sendiri.

Daftar kontrak tahun 2025 ini menunjukkan sebuah realitas geopolitik yang pahit, yakni pragmatisme ekonomi dan kebutuhan keamanan nasional sering kali mengesampingkan pertimbangan etika kemanusiaan.

Meskipun citra Israel merosot di mata publik global, ketergantungan negara-negara besar pada teknologi dan energi Israel membuat “isolasi total” yang diharapkan oleh para aktivis kemanusiaan masih sulit terwujud dalam waktu dekat. (Gilang Perdana)

Kontrak Jumbo $275 Juta: Elbit Systems Pasok Sistem Proteksi Helikopter ke Salah Satu Negara Asia Pasifik

2 Comments