Falcon Shield 2025: Manuver Udara J-10C Cina di UEA dan Strategi ‘Kuda Troya’ Melalui L-15

Untuk kedua kalinya dalam satu tahun kalender, Angkatan Udara Cina (PLAAF) kembali memamerkan otot militernya di langit Timur Tengah. Setelah sukses menggelar latihan dengan Mesir, Beijing kini menuntaskan latihan udara gabungan bertajuk “Falcon Shield 2025” bersama Angkatan Udara Uni Emirat Arab (UEA) yang berlangsung pada 9 hingga 22 Desember 2025.

Baca juga: Latma “Eagles of Civilization 2025” – Untuk Pertama Kali Cina Boyong Jet Tempur, Pesawat Tanker dan Pesawat AEW&C ke Mesir

Latihan ini bukan sekadar simulasi tempur biasa, melainkan simbol pergeseran pengaruh geopolitik dan upaya masif Cina untuk menggoyang dominasi pasar senjata Barat di kawasan Teluk.

Dalam latihan kali ini, Cina kembali mengerahkan paket kekuatan udara terpadu yang terdiri dari: jet tempur Chengdu J-10C. Dipastikan bahwa varian yang dikerahkan adalah J-10C, versi terbaru dan tercanggih dari keluarga “Firebird”. Jet ini dilengkapi dengan radar AESA dan mesin WS-10B yang lebih bertenaga. Pengerahan varian “C” ini jelas bertujuan untuk menunjukkan bahwa jet Cina mampu bersaing head-to-head dengan F-16 Block 60 milik UEA.

Selain itu, Angkatan Udara Cina juga mengerahkan KJ-500 AEW&C, pesawat peringatan dini yang menjadi “mata di langit” bagi formasi tempur Cina, dan tidak ketinggalan Y-20A Kunpeng, pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara yang membuktikan kemampuan Cina dalam memproyeksikan kekuatan tempur jarak jauh (ekspedisi).

Salah satu poin paling menarik adalah masalah interoperabilitas. Mengingat UEA adalah pengguna setia alutsista standar Barat (seperti F-16 Desert Falcon dan Mirage 2000, serta pesanan jet tempur Rafale), latihan dengan Cina menghadirkan tantangan teknis, p[esawat Cina menggunakan sistem komunikasi yang berbeda dengan standar NATO (Link 16). Hal ini memaksa kedua pihak untuk mencari cara agar informasi radar bisa dibagikan tanpa mengompromikan keamanan data rahasia masing-masing.

Bagi UEA, latihan ini adalah kesempatan langka untuk mempelajari karakteristik radar dan tanda tangan panas (heat signature) jet tempur Cina, yang mungkin akan mereka temui di masa depan. Bagi Cina, ini adalah kesempatan “mencicipi” bagaimana taktik tempur ala Barat yang diadopsi UEA bekerja.

Chengdu J-10CE Pakistan Dilengkapi Helm Augmented Reality (AR) Generasi Terbaru

Kehadiran J-10C di UEA membawa misi terselubung sebagai brosur terbang. Setelah UEA menangguhkan pembelian F-35 dari Amerika Serikat karena batasan yang ketat, Cina masuk dengan menawarkan J-10C sebagai alternatif yang lebih “bebas syarat”.

Latihan “Falcon Shield 2025” adalah panggung bagi Beijing untuk membuktikan bahwa teknologi mereka telah matang dan mampu berintegrasi dengan ekosistem militer negara-negara kaya minyak. Ini adalah bagian dari strategi Soft Power militer Cina untuk menawarkan perlindungan keamanan tanpa campur tangan politik dalam negeri yang biasa diterapkan Washington.

Chengdu J-10C Pakistan Dipasangi “Kill Markings” – Tampilkan Deretan Jet Tempur India yang Jadi Korban

Meskipun UEA tetap menjadi sekutu dekat AS, keterlibatan aktif dalam latihan militer dengan Cina menunjukkan bahwa Abu Dhabi tidak ingin menaruh semua “telur dalam satu keranjang”. Dengan menggandeng PLAAF dalam latihan terpadu, UEA menegaskan otonomi strategis mereka, sementara Cina berhasil menancapkan kaki lebih dalam di salah satu wilayah paling strategis di dunia.

L-15 Hongdu: “Kuda Troya” Cina di Ekosistem Udara UEA
Kehadiran J-10C dalam Falcon Shield 2025 tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Cina sebelumnya dalam menjual pesawat latih tempur (LIFT) L-15 Hongdu ke UEA. Penjualan ini dinilai banyak pengamat sebagai langkah strategis “Kuda Troya” oleh Beijing.

L-15 Hongdu digunakan tim aerobatik AU UAE, Al Fursan.

Dengan mengoperasikan L-15, para pilot muda UEA mulai terbiasa dengan antarmuka (interface), sistem avionik, dan logika persenjataan buatan Cina sejak masa pelatihan. Hal ini secara bertahap meruntuhkan hambatan psikologis dan teknis bagi UEA untuk nantinya mengadopsi jet tempur utama Cina seperti J-10C atau bahkan jet siluman J-20 di masa depan.

L-15 bukan sekadar pesawat latih, melainkan instrumen yang memastikan bahwa infrastruktur pemeliharaan dan pelatihan standar Cina sudah tersedia di daratan UEA, sehingga proses transisi ke jet tempur yang lebih berat menjadi jauh lebih murah dan mudah bagi Abu Dhabi. (Gilang Perdana)

Identitas Masih Misteri, Cina Munculkan Sosok Jet Latih Tempur Baru dengan Sirip Ekor Ganda dan Twin Engine