Dukung Penempatan Ribuan Marinir di Darwin, MV-22 Osprey USMC Kini Ditempatkan ‘Semi Permanen’

Mendukung penempatan Marine Rotational Force – Darwin (MRF-D), mobilitas ribuan pasukan marinir AS (USMC) di ujung utara Australia diperkuat dengan pesawat tiltrotor MV-22 Osprey. Dan terkait eksistensi dari unit tempur yang ditempatkan secara rotasi tersebut, kini elemen armada MV-22 Osprey berstatus ditempatkan semi permanen di Australia.

Baca juga: Korps Marinir AS Perluas Kemampuan MV-22B Osprey Dalam Misi Anti Kapal Selam

Sumber dari Australian Government Defence (11/9/2025) menyebutkan, bahwa pesawat MV-22 Osprey USMC akan tetap berada di Australia setelah rotasi tahunan berakhir. Penempatan Osprey bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan interoperabilitas antara USMC dan Australian Defence Force (ADF). Baru-baru ini, pemerintah Australia telah menyetujui penyimpanan dan pemeliharaan pesawat MV-22 Osprey di Australia di antara rotasi tahunan untuk meningkatkan ketersediaan dan mengurangi biaya transportasi.

Kebijakan ini akan meningkatkan ketersediaan pesawat untuk pelatihan, mengurangi biaya transportasi, dan memperdalam hubungan pertahanan antara Australia dan Amerika Serikat.

Ini menunjukkan adanya langkah maju menuju penempatan yang lebih semi-permanen, di mana armada Osprey USMC akan tetap berada di Australia meskipun pasukan yang mengoperasikannya berganti setiap tahun. Namun, penempatan ini secara resmi masih disebut sebagai “penyimpanan dan pemeliharaan di antara rotasi,” bukan sebagai penempatan permanen penuh yang mengindikasikan pasukan dan pesawat berada di sana 365 hari setahun.

Amerika Serikat Resmi Tawari Indonesia Delapan Unit MV-22 Osprey Senilai US$2 Miliar, Mungkinkah Diambil?

Penempatan MV-22 Osprey secara langsung meningkatkan kemampuan Australia dan Amerika Serikat untuk beroperasi bersama dalam misi militer, yang berfokus pada kolaborasi dan berbagi teknologi, serta mempermudah pelatihan bersama, logistik, dan respons cepat dalam krisis.

MV-22 adalah pesawat serbaguna yang sangat cepat dan memiliki kemampuan unik. Dengan ketersediaannya yang lebih stabil di Australia, negara ini dapat meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Hal ini mengirimkan sinyal kuat kepada calon lawan dan berfungsi sebagai elemen daya tangkal (deterrence) yang efektif.

Dalam sekali terbang, MV-22 Osprey dapat membawa 24 pasukan bersenjata lengkap di dalam kabinnya. Sementara, untuk jangkauan terbang, MV-22 memiliki kemampuan jarak jauh yang signifikan, yakni dengan combat radius sekitar 600 km.

MV-22 memiliki jangkauan terbang ferry yang sangat jauh, yang memungkinkannya melintasi samudra. Sebagai contoh, ada kasus penerbangan MV-22 dari Hawaii ke Australia dengan total jarak lebih dari 6.000 mil (sekitar 9.650 km) dengan beberapa kali pengisian bahan bakar di udara.

MQ-9 Reaper Isi Bahan Bakar ‘Langsung’ dari MV-22 Osprey

Pasukan marinir AS yang ditempatkan di Darwin berjumlah 2.500 personel dalam Marine Rotational Force – Darwin (MRF-D) dan merupakan bagian dari gugus tugas Marine Air-Ground Task Force (MAGTF), yang terdiri dari Ground Combat Element (GCE), biasanya satu batalion infanteri, Aviation Combat Element (ACE), elemen penerbangan, seperti yang membawa MV-22 Osprey, dan Logistics Combat Element (LCE).

Penerapan MRF-D dimulai pada tahun 2012. Gelombang pertama sekitar 200 Marinir AS tiba di Darwin pada bulan April 2012. Penempatan ini didasarkan pada kesepakatan yang disebut United States Force Posture Initiatives, yang diumumkan oleh Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard pada November 2011. (Gilang Perdana)

Jepang Operasikan Flight MV-22 Osprey, Resmi Jadi Pengguna Kedua Setelah AS

7 Comments