
Dalam polling ke-18 yang digelar Indomiliter.com pada periode 3 Mei – 3 Juni 2017, suara mayoritas netizen telah mendapuk CH-47 Chinook sebagai helikopter angkut berat yang paling cocok digunakan oleh Puspenerbad TNI AD. Chinook produksi Boeing Rotorcraft Systems dipilih oleh 1.555 responden (54,91%), mengungguli rivalnya dari Rusia, Mil Mi-26 buatan Rostvertol yang dipilih 1.277 responden (45,09%). Lewat nama besarnya yang telah mendunia di beragam palagan, menjadikan helikopter twin engine ini dipilih sebagian besar responden untuk mendukung misi mobil udara , berguna saat operasi tempur dan mampu berperan banyak untuk misi SAR dan tanggap bencana. (more…)

Bila diibaratkan perolehan suara dalam Pilkada, maka Sikorsky S-70i Black Hawk bisa disebut menang dalam satu putaran. Dalam polling ke-15 yang digelar Indomiliter.com mulai 25 Maret – 25 April 2017, varian internasional dari helikopter UH-60M Black Hawk ini mendulang suara 55,58% dari total 2.429 responden, menjadikan Black Hawk yang bermesin ganda didapuk sebagai helikopter yang paling diunggulkan sebagai platform baru helikopter angkut sedang multirole untuk kebutuhan TNI. (more…)

Berangkat dari tuntasnya penguasaan teknologi ranpur (kendaraan tempur) 6×6, dan tuntutan kebutuhan ranpur lapis baja berpenggerak 8×8, maka mulai muncul jenis panser 8×8 di arsenal TNI yang dipelopori Satuan Kavaleri Korps Marinir TNI AL, hingga berlanjut pada permintaan di Satuan Kavaleri di TNI AD untuk memodernisasi stock ranpur berusia lanjut. Dan ditengah keriuhan kabar pengadaan panser 8×8, tidak terlupa pula proses ToT (Transfer of Technology) di dalamnya, dimana industri pertahanan di dalam negeri nantinya harus mampu memproduksi panser 8×8.
(more…)

Mungkin jika Amerika Serikat dan Israel tak ‘meributkan’ tentang keberadaan rudal hanud (pertahanan udara) jarak jauh ini, maka debut S-300 boleh jadi tidak akan sekondang seperti saat ini. Keberadaan rudal ini di Iran dan Suriah menjadi faktor dominan bahwa alutsista asal Rusia ini mampu memberi efek deteren yang optimal. Dan imbas popularitas S-300 pun bergaung ke Tanah Air, besar harapan agar rudal S-300 bisa hadir melengkapi sistem hanud TNI. “Jika Vietnam saja bisa beli S-300, mengapa Indonesia tidak,” begitu salah satu ungkapan yang sering diutarakan netizen. (more…)

Tersedianya persenjataan modern adalah salah satu kunci sukses pertahanan suatu negara. PT Pindad sebagai penyedia armament TNI terus melakukan pengembangan pada lini senapan serbu mereka. Senapan Serbu 2 (SS-2) adalah salah satu besutan Pindad yang bisa dibilang cukup mendapat perhatian besar. (more…)

Di level pemangku kebijakan, pembahasan tentang pengadaan pesawat intai, khususnya dari jenis AEW&C (Airborne Early Warning & Control) memang kurang greget, maklum fokus pengadaan matra udara masih berkutat di proses pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II yang tak kunjung rampung. Ditambah kabar pemangkasan anggaran pertahanan, menjadikan pengadaan pesawat intai seolah tenggelam. (more…)

Semakin uzurnya usia pesawat angkut berat C-130 Hercules, khususnya tipe B yang telah memperkuat TNI AU sejak tahun 1960, mendorong pemerintah untuk segera mengganti armada sepuh C-130B. Terkait alasan keselamatan dan tiadanya ToT (Transfer of Technology), maka perintah dari Presiden Jokowi kepada Panglima TNI sudah sangat jelas, jangan membeli alutsista bekas atau terima hibah lagi. (more…)

Meski masih dipenuhi dilema seputar kemampuan pada kecepatan kapal, tapi pada hakekatnya armada kapal pada Satuan Kapal Cepat (Satkat) TNI AL mempunya peran pokok sebagai elemen pemukul (striking force) untuk menghancurkan atau melumpuhkan kapal permukaan lawan. Selain itu, juga memiliki fungsi sebagai pertahanan anti serangan udara, pengintaian dan pencarian sasaran operasi serta melaksanakan peperangan elektronika. Oleh karenanya, kapal ini didesain mempunyai karakteristik sebagai kapal cepat dengan tingkat kemampuan respon dan manuver tinggi. (more…)

Bila dirunut dari sejarah, Indonesia punya pengalaman panjang dalam mengadopsi MLRS (Multiple Launch Rocket System), tentu jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara, jelas Indonesia paling senior dalam menggelar MLRS. Dipacu kebutuhan untuk persiapan operasi Trikora di tahun 60-an, Indonesia sudah mengenal self propelled MLRS, alias MLRS gerak sendiri dengan platform truk, seperti BM-14/17 milik Korps Marinir TNI AL dan M-51 130 mm kepunyaan Yon Armed TNI AD. (more…)

Dalam skenario pertempuran, setelah MBT (Main Battle Tank) berhasil mendobrak masuk ke daerah lawan, maka operasi selanjutnya adalah menghadirkan gerak laju elemen lain, dalam hal ini unit infanteri dengan misi menetralisir wilayah sasaran. Untuk menghadirkan gerak laju infanteri jelas dibutuhkan angkutan taktis yang mumpuni, dengan syarat punya mobilitas tinggi, mampu memberi proteksi bagi pasukan yang dibawa, dan dibekali senjata. (more…)