Bukan Sekadar Beli, Turki Ingin Pasang Rudal Buatan Lokal di Eurofighter Typhoon

Keinginan Turki untuk meminang jet tempur Eurofighter Typhoon nampaknya bukan transaksi pembelian biasa. Setelah akhirnya mendapatkan lampu hijau dari Jerman, Ankara kini melangkah lebih jauh dengan rencana ambisius, yaitu mengintegrasikan sistem persenjataan buatan dalam negeri ke dalam platform jet tempur buatan konsorsium Eropa tersebut.

Baca juga: Inggris dan Turki Raih Kesepakatan Penjualan 20 Unit Eurofighter Typhoon Senilai 8 Miliar Pounsterling, Mulai Dikirim 2030

Kabar ini diperkuat oleh pernyataan otoritas pertahanan Turki. Melansir dari Defense News dan media pertahanan lokal SavunmaSanayiST, Kepala Presidensi Industri Pertahanan (SSB) Turki, Haluk Görgün, telah mengutarakan niat tersebut. Turki ingin agar Typhoon yang nantinya mereka operasikan tidak hanya bergantung pada rudal standar NATO seperti Meteor atau IRIS-T, tetapi juga mampu mengusung rudal-rudal kebanggaan domestik.

Langkah ini dipandang sebagai upaya Turki untuk memastikan kemandirian logistik dan operasional. Dengan menggunakan rudal buatan sendiri, Turki tidak perlu khawatir akan potensi embargo atau keterbatasan stok dari negara produsen jika terjadi konflik di masa depan.

Meskipun Jerman telah mencabut blokirnya dan mengizinkan pembicaraan teknis dimulai, hingga saat ini belum ada kontrak efektif (final) yang ditandatangani.

Jerman dan Perancis Beri Lampu Hijau Penjualan Rudal Meteor ke Turki, Yunani Layangkan Protes Keras

Saat ini, Turki sedang berada dalam tahap negosiasi untuk pengadaan 40 unit Typhoon (dibagi dalam dua fase). Turki saat ini tengah menunggu Letter of Offer and Acceptance (LOA) untuk menyepakati konfigurasi teknis—termasuk poin krusial mengenai integrasi senjata lokal.

Beberapa rudal buatan Roketsan dan TÜBİTAK SAGE diprediksi akan mengisi gantungan senjata Typhoon, meliputi Bozdogan dam Gokdogan, yaitu rudal udara-ke-udara jarak pendek dan menengah sebagai pengganti AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM. Kemudian ada SOM (Stand-Off Missile), rudal jelajah presisi tinggi untuk menyerang target darat dari jarak aman, serta Çakir, rudal jelajah lincah generasi terbaru untuk berbagai target.

Gantikan AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM, Turki Punya Rudal Gokdogan dan Bozdogan

Apakah konsorsium Eurofighter (Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol) akan mengizinkan hal ini?

1. Peluang Bisnis (Faktor Pendorong)
Negara konsorsium, terutama Inggris melalui BAE Systems, sangat ingin mengamankan pesanan Turki untuk menjaga lini produksi tetap berjalan. Menunjukkan fleksibilitas dalam integrasi senjata bisa menjadi nilai jual unik yang membedakan Eurofighter dengan F-16 Viper milik Amerika Serikat yang cenderung lebih “tertutup” soal kode sumber (source code).

Meski Beda Fleksibilitas, Vendor Jet Tempur Kompak Tak Berikan Akses Full Source Code

2. Risiko Teknologi (Faktor Penghambat)
Masalah utama terletak pada integritas perangkat lunak. Mengizinkan rudal luar masuk ke sistem manajemen tempur pesawat membutuhkan pembukaan akses source code radar dan avionik. Ini adalah rahasia dapur paling sensitif bagi produsen. Selain itu, proses sertifikasi agar rudal tersebut aman dilepaskan saat terbang memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar.

3. Jalan Tengah: “Pay-to-Integrate”
Analisa menunjukkan bahwa konsorsium kemungkinan besar akan setuju, namun tidak dengan memberikan “kunci gudang” secara gratis. Jalan keluarnya adalah kontrak kerja sama di mana Turki membayar biaya integrasi kepada pihak pabrikan (seperti BAE atau Leonardo) untuk membantu memasukkan protokol rudal lokal ke sistem komputer Typhoon secara resmi. (Gilang Perdana)

Tanpa Source Code dari AS, F-16 Turki Gunakan Konsol Tablet Untuk Luncurkan Rudal Jelajah Buatan Lokal

One Comment