Boeing Menangkan Kontrak Bangun Satelit Komunikasi Nuklir Next Generation (NC3) Pesanan Pentagon

Angkatan Luar Angkasa AS – US Space Force, telah memberikan kontrak senilai US$2,8 miliar kepada Boeing untuk membangun fase pertama next-generation satellites yang akan memungkinkan Pentagon untuk melakukan komando, kendali, dan komunikasi nuklir – nuclear command, control, and communications (NC3) secara lebih efektif.
Satelit-satelit NC3 adalah bagian dari sistem Evolved Strategic SATCOM (ESS) yang jauh lebih luas, dan akan menggantikan peninggalan satelit era Perang Dingin yang saat ini berada di orbit, yang disebut satelit Advanced Extremely High Frequency (AEHF), meskipun AEHF adalah sistem yang canggih, namun punya keterbatasan terutama pada arsitektur konstelasi yang kurang tersebar, cakupan geografis yang terbatas di beberapa area penting. Inilah yang menjadi dasar dan pendorong pengembangan program ESS.
Boeing nantinya akan membangun dua satelit, yang direncanakan akan memasuki orbit geostasioner mulai tahun 2031, selain itu US Space Force memiliki opsi untuk membeli dua satelit tambahan di kemudian hari.
Ini adalah bagian dari upaya Pentagon yang lebih luas untuk meningkatkan seluruh postur kekuatan nuklir AS, yang mencakup ICBM Sentinel yang sedang dikembangkan dan pesawat pembom stealth B-21 Raider. Meskipun platform-platform tersebut dapat mengirimkan senjata nuklir jika hari terburuk umat manusia tiba, mereka hanya akan berdiam di silo atau landasan pendaratan jika tidak menerima pesanan apa pun.
Thank you, @SpaceForceDoD, for selecting us for the Evolved Strategic SATCOM program, a key step in enhancing U.S. strategic SATCOM capabilities. Our satellites will provide secure, resilient communication for national defense, ensuring peace through strength.
Read more:… pic.twitter.com/a9ckwMrzWF
— Boeing Space (@BoeingSpace) July 3, 2025
Sebagai catatan, ICBM Sentinel (resmi disebut LGM-35A Sentinel) adalah sistem rudal balistik antarbenua (Intercontinental Ballistic Missile – ICBM) berbasis darat yang sedang dikembangkan untuk Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Guna memastikan komunikasi yang dibutuhkan untuk keperluan komando nuklir dapat berjalan lancar tanpa gangguan, termasuk deteksi ancaman terkini, maka panggilan telepon antara presiden dan penasihat utama, serta perintah yang dikirim ke komandan terkait, dan bahkan perintah serangan terenkripsi yang perlu diautentikasi, maka AS harus memiliki sistem khusus yang tangguh terhadap segala gangguan.
Ilyushin Il-82/Il-76SK Command Post – Pesawat Komando dan Kendali Nuklir Lapis Kedua Rusia
US Space Force telah menunjuk Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Boeing sejak tahun 2020 untuk membangun prototipe aset luar angkasa bagi sistem ESS yang baru. Dan lima tahun kemudian, desain Boeing akhirnya memenangkan tender.
US Space Force mengatakan bahwa empat satelit pertama hanyalah permulaan. Dana tambahan sebesar US$9 miliar telah dialokasikan untuk membeli lebih banyak pengorbit di masa mendatang, dengan tujuan menciptakan konstelasi satelit lengkap yang dapat memenuhi kebutuhan komunikasi di mana pun di dunia, termasuk Arktik.
Washington Kecolongan, Laboratorium Senjata Nuklir Cina Ternyata Gunakan Chip Komputer Buatan AS
Namun, dengan perubahan iklim yang menipiskan lapisan es dan memudahkan kapal untuk beroperasi di sana, angkatan laut dunia mulai memikirkan bagaimana mereka dapat memposisikan diri di ujung utara. Sebuah kapal selam bersenjata nuklir yang diperintahkan untuk menyerang Rusia di dekatnya dari Kutub Utara bukanlah hal yang mustahil lagi. Namun, untuk melakukan itu, Pentagon harus dapat mengirimkan sinyal ke kapal selam tersebut terlebih dahulu.
Boeing menyatakan bahwa satelit ESS baru akan menggunakan teknologi serupa dengan satelit WGS-11 dan WGS-12 yang sedang dikembangkan untuk US Space Force dan yang sudah digunakan secara komersial pada konstelasi O3b mPOWER.
Secara keseluruhan, hal ini dimaksudkan untuk menyediakan arsitektur komunikasi yang dapat menahan upaya lawan untuk mengganggu atau mengacaukannya. Di kemudian hari, jika konstelasi penuh benar-benar mengorbit, jumlah satelit yang banyak akan menjadi redundansi tersendiri.
Bisa Terbang Selama Seminggu, Inilah Kemampuan “Doomsday Plane” yang Datang (Lagi) ke Jakarta
Satelit NC3 (Nuclear Command, Control, and Communications) memiliki perbedaan mendasar dan fungsi yang sangat spesifik dibandingkan dengan satelit militer lainnya.
NC3 adalah sistem yang sangat kompleks yang memungkinkan Presiden (atau otoritas tertinggi yang berwenang) untuk memberikan perintah penggunaan senjata nuklir, serta menerima peringatan dini tentang serangan nuklir. Satelit NC3 adalah komponen penting dari sistem ini, menyediakan komunikasi yang aman, terjamin, dan tahan gangguan antara kepemimpinan nasional dan pasukan nuklir (pembom, rudal balistik, kapal selam rudal balistik).
Satelit NC3 dirancang untuk beroperasi dalam kondisi paling ekstrem, termasuk selama dan setelah serangan nuklir. Ini berarti mereka memiliki tingkat pengerasan (hardening), redundansi, mobilitas, dan langkah-langkah penyembunyian yang sangat tinggi untuk menahan serangan kinetik, siber, atau elektromagnetik.
Sistem pada satelit NC3 harus memastikan bahwa penggunaan senjata nuklir hanya dapat diotorisasi oleh Presiden (kontrol negatif) dan bahwa perintah tersebut selalu dapat disampaikan sesuai dengan otorisasi Presiden (kontrol positif). Satelit NC3 memainkan peran vital dalam menjaga integritas dan keamanan komunikasi ini.
Selain komunikasi, satelit NC3 juga menyediakan fungsi penting lainnya seperti deteksi dan karakterisasi serangan rudal, intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), serta penentuan posisi, navigasi, dan waktu (PNT) yang disinkronkan untuk seluruh sistem NC3. (Gilang Perdana)



Boeing nyayur di zaman pemerintahan Trump.
min, ngga coba bahas pembelian garibaldi kah?
Sudah pernah mas 🙂