Biar Tak Salah Tembak, Jet Tempur KF-21 Boramae Kini Berbekal Teknologi IFF Terbaru dari BAE Systems

Memasuki penghujung tahun 2025, proyek jet tempur generasi 4.5 Korea Selatan, KF-21 Boramae, kembali mencatatkan tonggak sejarah penting. BAE Systems, raksasa pertahanan asal Inggris, baru saja merilis pengumuman terkait keberhasilan integrasi dan sertifikasi final sistem Identification Friend or Foe (IFF) untuk unit produksi massal KF-21.
Langkah ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan pengakuan bahwa KF-21 kini memiliki bahasa komunikasi yang sama dengan jet tempur tercanggih di dunia.
Inti dari kerja sama ini adalah penyediaan perangkat AN/DPX-7 Combined Interrogator Transponder (CIT). Di era peperangan elektronik yang padat, risiko salah tembak terhadap kawan sendiri (friendly fire) menjadi ancaman nyata. Perangkat IFF dari BAE Systems menjawab tantangan tersebut dengan standar Mode 5.
Berbeda dengan sistem identifikasi lama, Mode 5 menggunakan algoritma kriptografi yang sangat kuat untuk memastikan bahwa sinyal identifikasi tidak dapat dibajak atau ditiru oleh musuh.

Dengan teknologi tersebut, KF-21 Boramae dapat mengidentifikasi pesawat kawan di kejauhan dengan tingkat kepercayaan mutlak, bahkan dalam lingkungan yang dipenuhi gangguan sinyal (jamming). Hal ini memastikan interoperabilitas penuh dengan pesawat tempur standar NATO, seperti F-35, F-15, dan F-16.
Secara spesifik, AN/DPX-7 dirancang untuk menjadi perangkat yang efisien. Di dalam sebuah jet tempur, ruang dan bobot adalah segalanya. Perangkat ini menggabungkan fungsi interogator (penanya) dan transponder (penjawab) dalam satu unit kompak yang hemat daya.
Sistem ini mampu bekerja pada berbagai spektrum frekuensi militer dan sipil, memungkinkan KF-21 untuk terbang dengan aman baik di wilayah konflik maupun di jalur udara komersial internasional.
Jelang Peluncuran, Prototipe KFX/IFX Tampil dengan IFF Bird Slicer
Untuk cakupan operasionalnya, sistem ini terhubung dengan antena yang ditempatkan secara strategis. Pada KF-21, perangkat IFF ini dapat dilihat lewat antena “sirip” kecil atau bird slicers di bagian hidung (tepat di depan kokpit) serta antena conformal di bagian punggung dan perut pesawat. Penempatan ini memastikan transmisi sinyal 360 derajat, sehingga pesawat tetap teridentifikasi dengan baik meski sedang melakukan manuver tajam atau terbang dalam posisi terbalik.
Pengumuman yang dirilis pada pertengahan Desember 2025 ini menandai transisi dari fase pengembangan ke fase operasional penuh. Kontrak produksi massal yang melibatkan BAE Systems ini diperkirakan mencapai nilai US100 juta hingga US$150 juta. Nilai tersebut mencakup penyediaan ratusan unit transponder, integrasi perangkat lunak dengan sistem manajemen tempur (CMS) lokal Korea, serta dukungan pemeliharaan jangka panjang.
Penampakan Antena IFF Bird Slicer di F-16A Block15 OCU TNI AU
Bagi Korea Aerospace Industries (KAI), kerja sama dengan BAE Systems ini adalah nilai jual yang sangat tinggi untuk pasar ekspor. Dengan perangkat IFF yang sudah tersertifikasi secara internasional, calon pembeli dari berbagai negara tidak perlu khawatir tentang masalah kecocokan sistem saat harus berlatih atau bertempur bersama kekuatan udara global lainnya.
Keberhasilan integrasi sistem IFF BAE Systems pada KF-21 Boramae menegaskan bahwa jet tempur ini telah siap untuk terjun ke medan operasi sesungguhnya.
Dirunut kebelakang, BAE Systems secara resmi mengumumkan bahwa telah dipilih oleh Korea Aerospace Industries (KAI) untuk mengintegrasikan sistem IFF di jet tempur KF-21 pada 29 Maret 2022.
Berlanjut pada 11 Juni 2024, BAE Systems merilis berita telah mendapatkan kontrak lanjutan untuk fase produksi massal (setelah sebelumnya hanya untuk fase pengembangan). Pengumuman ini berbarengan dengan dimulainya produksi unit pertama KF-21 untuk Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). (Gilang Perdana)
Laporan Terungkap: Mengapa F/A-18 Super Hornet AS Ditembak Jatuh Kapal Sendiri di Laut Merah



lalu kenapa jika udah punya iff ,kemungkinan salah tembak masih terjadi di f18 amerika atau di perang ukraina min?
“Dengan teknologi tersebut, KF-21 Boramae dapat mengidentifikasi pesawat kawan di kejauhan dengan tingkat kepercayaan mutlak, bahkan dalam lingkungan yang dipenuhi gangguan sinyal (jamming). Hal ini memastikan interoperabilitas penuh dengan pesawat tempur standar NATO, seperti F-35, F-15, dan F-16.”
Itu Korsel yang seluruh jet tempurnya buatan AS, bagaimana dengan Indonesia (jika terpasang juga antena IFF Bird Slicer pada KF-21 Block 1nya) walau mayoritas jet tempurnya buatan barat seperti AS dan Prancis juga ada yang berbeda blok yaitu Su-27/30 yang merupakan buatan Rusia apakah dapat teridentifikasi sebagai “Friend” karena kesulitan dalam interoperabilitas menjadi tantangan tersendiri dalam gelar operasi tempur udara modern 🤔
“Langkah ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan pengakuan bahwa KF-21 kini memiliki bahasa komunikasi yang sama dengan jet tempur tercanggih di dunia.”
Kata CEO KAI (Korea Aerospace Industries) waktu itu, jet tempur KF-21 bukan generasi 4.5 lagi tetapi sudah 4.9 hampir setara dengan generasi di atasnya 👍