Terkait Program Offset, PT PAL Indonesia Gandeng MBDA untuk Upgrade Korvet Bung Tomo Class

Sebuah artikel yang diposting Janes.com (15/8/2023) menyebut bahwa PT PAL Indonesia telah menandatangani kontrak dengan MBDA, manufaktur rudal dari Perancis untuk meningkatkan kemampuan tempur (upgrade) pada tiga unit korvet Bung Tomo class. Hal tersebut menjadi menarik untuk dicermati, pasalnya program upgrade Bung Tomo class selama ini telah berjalan dengan melibatkan Thales dan PT Len Industri.
Baca juga: Intip Proyek Upgrade KRI Usman Harun 359, Inilah Update dari PT Len Industri
Thales dan PT Len Industri, bekerja sama dalam ruang lingkup modernisasi MLM (Mid Life Modernization), termasuk akan memasang Combat Management System, radar pengawasan udara dan permukaan, radar kendali, dan sistem kontrol penembakan elektro-optik (eo), hingga tactical multi-purpose R-ESM system.
Dalam pekerjaan tersebut, PT Len bertindak sebagai main contractor. Hal ini dikarenakan Len sebagai mission system integration lebih cocok ketimbang Thales atau principal lain yang fokus hanya sebagai sub-system integrator (combat system, navigation system, communication system).

Sementara merujuk berita dari Janes.com, PT PAL Indonesia dan MBDA juga melakukan kerja sama terkait peningkatan kemampuan pada korvet Bung Tomo class. Menurut informasi juru bicara PT PAL Indonesia, program upgrade setiap kapal yang dilakukan TNI AL dibagi menjadi dua tahap, dimana masing-masing kapal menjalani peningkatan secara berurutan.
Tahap pertama melibatkan pemasangan radar dan sensor baru, sedangkan fase kedua berkaitan dengan peningkatan sistem tempur kapal. Untuk tahap pertama, perusahaan elektronik pertahanan milik negara PT Len Industri ditunjuk sebagai kontraktor utama, dengan mayoritas komponen dipasok oleh Thales. Konsultan dari Belanda Nevesbu, juga telah ditunjuk sebagai integrator sistem untuk tahap ini.

Komponen yang dipasang pada fase ini termasuk sistem manajemen tempur (CMS) TACTICOS, radar pengawasan udara dan permukaan SMART-S Mk2, dan radar STIR EO Mk2 dan sistem kontrol tembakan elektro-optik.
Lebih detail, Humas PT PAL Indonesia memberikan keterangan tentang peran MBDA yang dikenal sebagai manufaktur rudal. Berdasarkan keterangan yang kami terima, PT PAL Indonesia menjalankan kontrak kerja sama program offset bersama MBDA. Dalam program ini, Potensi Pertahanan (Pothan) Kemhan RI mengawasi langsung untuk program upgrada untuk ketiga unit korvet Bung Tomo class.

Untuk KRI John Lie 358, program upgrade-nya sudah berlangsung sejak tahun 2022 dan telah rampung pada awal 2023. Selanjutnya upgrade secara bertahap telah dijalankan untuk KRI Bung Tomo 357 dan KRI Usman Harun 359.
Scoop of work dalam program offset dengan MBDA mencakup offset program I (instalasi radar dan antena) dan offset program III (membongkar persenjataan lama dan mengganti dengan yang baru, seperti rudal anti kapal Exocet MM40 Block 3).
Baca juga: Sea Wolf, Inilah ‘Aslinya’ Rudal Hanud di Korvet Bung Tomo Class
Sayangnya, program upgrade persenjataan pada korvet Bung Tomo class tidak menyentuh instalasi rudal hanud. Seperti diketahui, ‘seharusnya’ korvet Bung Tomo class dilengkapi rudal hanud Sea Wolf yang diluncurkan secara VLS dari haluan (belakang meriam OTO Melara). Rudal Sea Wolf saat ini sudah tidak diproduksi, pihak pabrikan, yakni MBDA UK kini memproduksi penggantinya, yaitu rudal hanud Sea Ceptor. (Gilang Perdana)



Dulu bukannya Kanjeng @tukang ngitung pH.d meramalkan, menubuatkan, mentakdirkan angka angka fantastis 24 Changbogo Class, 21 Absalon Class terus ,20 Diponegoro Class sama 24 Martadinata Class lewat ” Mari kita berhitung ” sampe dibikin berjilid jilid hahahahaha kocak gokil ngarang nya
kalau begitu solusi “simpel”nya sih, untuk rudal/canon/autocanon/ciws usahakan lisensi produksi harus ada, 1 2 jenis ngga papa, perbanyak KCR minim 20-30 unit ideal mungkin 50 unit, fregat/korvet cari yang murah untuk dibuat dalam jumlah besar, heavy fregat untuk tugas khusus, kalau ada dana destroyer juga sebaiknya dicanangkan, minim 2-4 unit, indonesia darurat efisiensi dana dan juga dana itu sendiri
@sulatn
Indonesia nggak pernah beli dan dapat TOT FAC kelas sigma dari Damen…..lantas gimana ceritanya malah dapat hak pengembangan FAC berbasis sigma 🤔
Era terangkanlah…..
Sayang banget kaprangKRI Usman harun seri gk upgrade kemampuan anti pesawat vls sea cat ke vls mica, padahal bisa menambah lagi kuantitas rudal hanud TNI AL😩😩😩
Percuma bangun sampai 8 unit, kalau Indonesia tidak diberikan lisensi expor dan mengembangkan sendiri disain kelas frigate dan Corvette dgn dasar disain sigma, Indonesia hanya diberikan hak mengembangkan disain kapal kelas fast attack craft dgn dasar disain sigma
Ya emang rencana jaman KSAL Laksamana Slamet Subiyanto 8 korvet kelas sigma ya mungkin maksudnya 8 sigma 9113 class/Diponegoro Class terus roadmap PT PAL tahun 2019 kan ada provisi buat PKR ke 3 & 4, tapi ya rencana tinggal rencana realisasi nya tanda tanya, padahal armada Eskorta kita perlu banyak sementara umur Van Speijk Class juga nambah terus
Kapal kombatan kita yg full armament masih sangat sedikit ya, cari dong fregat atau korvet hibah yg usianya masih muda dan pastikan full senjata, mau senjata merk apapun tak masalah penting bisa buat maju perang, kapal hibah kan tak perlu khawatir jatuh. Prajurit laut kita banyak belum lagi ketambahan komcad matra laut harus diberi kapal2 perang lah, minimal spt kapal patroli yg diterima Filipina dari lik Sam kan gahar tu, kmrn Pohong Class Kroya terima saja mayan buat jagain pelosok kepulauan yg tak pernah didatangi kapal perang.
ahahahaha, baru tadi mau nanya program diponegoro class bakal ada tambahan pesanan apa engga (kalau di wikipedia disebutnya rencananya ada 8 unit yang diminta) eeh malah keluar yang satunya 😅😅😂
Biarlah biar seragam semua dengan SIGMA 10514, jadi Martadinata Class, Bung Tomo Class sama Diponegoro Class subsystem dari Thales sama MBDA, penyederhanaan tinggal Parchim Class cuma katanya lewat Havelsan dari Turki, terus proyek OPV 90 juga