Debut di Asia Tenggara: Kalashnikov Pamerkan ‘RUS-PE’, Drone Kamikaze Sayap X Berbasis AI

Setelah mencuri perhatian pada peluncuran perdana internasionalnya di World Defense Show (WDS) 2026, Riyadh, raksasa pertahanan Rusia, Kalashnikov Group, kini membidik pasar kawasan tropis. Dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Kalashnikov secara resmi memperkenalkan RUS-PE.
RUS-PE adalah sistem drone kamikaze (amunisi loitering) portabel terbaru untuk pertama kalinya bagi pasar Asia Tenggara. Langkah ini menandai ambisi Moskow untuk menawarkan solusi “kamikaze” cerdas kepada negara-negara di kawasan yang tengah memodernisasi kekuatan nirawak mereka.
Sistem RUS-PE (Next-gen Reconnaissance and Strike System) merupakan ekosistem tempur portabel yang mengintegrasikan kemampuan pengintaian real-time dengan eksekusi serangan presisi. Saat diperkenalkan di Riyadh pada Februari lalu kepada petinggi militer Rusia seperti Viktor Zolotov dan Anton Alikhanov, sistem ini dipuji karena kemampuannya melakukan serangan cepat terhadap target stasioner maupun bergerak.
Di kalangan pengamat militer, RUS-PE sering disebut sebagai “adik” dari drone Lancet yang legendaris, namun dengan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi untuk pasukan infanteri.

Secara teknis, amunisi kamikaze pada sistem RUS-PE mengusung desain X-wing yang unik, memberikan stabilitas dan manuverabilitas tinggi saat menukik ke arah sasaran. Unit ini dilengkapi dengan hulu ledak, sistem kendali canggih, dan homing head (HH) untuk akuisisi target, yang diluncurkan dari kontainernya menggunakan sistem pneumatik.
Keunggulan utamanya terletak pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dengan sistem optik saluran ganda yang distabilkan secara giro mampu mendeteksi dan mengidentifikasi target secara otomatis tanpa ketergantungan penuh pada operator.
🚨🇷🇺 Combat-tested: Russia unveils AI-powered loitering munition in Riyadh
Kalashnikov Concern presented its Rus-PE reconnaissance-strike system at World Defence Show 2026.
The system can detect and identify both stationary and moving targets using AI. pic.twitter.com/xrF1AyYyAX
— Sputnik India (@Sputnik_India) February 15, 2026
Dalam hal performa tempur, drone kamikaze RUS-PE dirancang untuk memberikan keunggulan taktis pada radius 10 hingga 20 kilometer dari titik peluncuran. Jangkauan ini memungkinkan tim infanteri kecil untuk menghantam aset bernilai tinggi lawan, seperti posisi artileri atau kendaraan logistik, yang berada jauh di belakang garis depan.
Dengan kemampuan “berkeliaran” (loitering) di udara selama 30 menit dan kecepatan jelajah 140 km/jam, Rus-PE memberikan waktu yang cukup bagi operator—atau sistem AI—untuk melakukan identifikasi target secara positif sebelum melancarkan serangan akhir.
Lompatan Baru Kalashnikov: KUB-10ME, Drone Kamikaze Pertama Rusia dengan Jangkauan 100 KM
Sistem ini juga menonjol karena aspek portabilitasnya. Sebagai senjata man-portable, RUS-PE memiliki bobot yang cukup ringan sehingga seluruh perangkat, mulai dari unit drone hingga kontainer peluncur pneumatiknya, dapat dibawa oleh personel di dalam ransel khusus. Penggunaan peluncur pneumatik ini tidak hanya meringankan beban operator, tetapi juga memastikan peluncuran yang “bersih” tanpa jejak api atau asap, sehingga posisi tim peluncur tetap tersembunyi dari pantauan termal lawan.
Kehadiran RUS-PE di DSA 2026 merupakan langkah strategis Kalashnikov untuk menawarkan alternatif drone kamikaze yang battle-proven di tengah persaingan pasar yang kian ketat. Dengan desain sayap X yang lincah dan kemampuan identifikasi target otomatis, RUS-PE diposisikan sebagai “predator” taktis baru yang siap memperkuat doktrin serangan presisi bagi angkatan bersenjata di Asia Tenggara.
Bagi militer di kawasan, sistem ini menawarkan kapabilitas serangan point-to-point yang efektif untuk menetralisir ancaman dengan risiko minimal bagi personel. (Bayu Pamungkas)
Mirip Switchblade, Rusia Kembangkan Drone Kamikaze Bersayap Lipat Sekali Pakai



“RUS-PE adalah sistem drone kamikaze (amunisi loitering) portabel terbaru untuk pertama kalinya bagi pasar Asia Tenggara.”
Kira-kira tetangga kita yang mana yang bakal beli, Myanmar atau Vietnam atau justru Malaysia sebagai tuan rumah? 🤔