Demam ‘Shahed’ Sampai ke Malaysia: HDS Perkenalkan NSS, Drone Kamikaze Sayap Delta untuk Misi Taktis 20 Km

Gelaran Defence Services Asia (DSA) 2026 di MITEC, Kuala Lumpur, menjadi panggung krusial bagi industri pertahanan Malaysia untuk menunjukkan ambisinya dalam pengembangan teknologi nirawak. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan HDS NSS (Next-gen Strike System), sebuah loitering munition berbiaya rendah besutan HeiTech Defence Systems (HDS).
Menariknya, meski secara dimensi lebih kecil dan tidak identik, desain drone kamikaze ini sepintas mengusung konfigurasi sayap delta (delta-wing) dengan mesin pendorong belakang (pusher propeller), sebuah desain yang menyiratkan bahwa Malaysia mulai “ketularan” demam desain ala Shahed-136 yang telah terbukti efektivitasnya di berbagai konflik global.
Bagi militer regional, kehadiran sistem ini sangat signifikan secara operasional karena mampu memangkas rantai sensor-to-shooter, memungkinkan unit yang tersebar untuk mengeksekusi target sensitif, serta memperkuat deteren dalam skenario pertahanan perbatasan, wilayah pesisir, dan pulau-pulau terluar.
Berdasarkan data teknis yang dihimpun dari lembar produk di stan DSA 2026, HDS NSS memiliki rentang sayap 1,2 meter dan panjang badan 1,1 meter. Dengan bobot kosong sekitar 5 kg dan kapasitas muatan (payload) sebesar 2 kg, drone ini memiliki bobot lepas landas maksimum (MTOW) mencapai 7 kg.
Mimpi Buruk Baru di Medan Tempur: Cina Perkenalkan ‘Baby Shahed’ Seharga Rp6 Jutaan!
Spesifikasi tersebut menempatkan HDS NSS dalam braket amunisi loitering taktis kecil, bukan kelas ultra-ringan yang dibawa oleh prajurit perorangan. Drone ini diklaim memiliki daya tahan terbang selama 30 menit dengan ketinggian operasional hingga 5.000 meter dan jarak jangkau sejauh 20 km, tergantung pada pengaturan kontrol darat. Menggunakan material komposit serat karbon dan sertifikasi IP56, wahana ini dapat diluncurkan menggunakan pelontar karet (rubber-band) atau rangka pneumatik tanpa metode pemulihan (recovery), karena desainnya memang ditujukan untuk hancur saat menghantam target.
Secara industri, pengembangan HDS NSS oleh HeiTech Defence Systems menandai pergeseran menarik bagi perusahaan yang secara historis lebih dikenal dalam solusi simulasi, pelatihan, keamanan TIK, dan integrasi sistem. Langkah ini menunjukkan tren di mana integrator sistem mulai berekspansi ke arah produksi alutsista presisi yang bersifat attritable (murah dan siap dikorbankan), sebuah rute yang menurunkan hambatan masuk bagi industri domestik.
Momentum itu juga selaras dengan kebijakan pertahanan Malaysia yang semakin menekankan pada konten lokal dan transfer teknologi, menciptakan kerangka kerja yang mendukung proyek seperti HDS NSS untuk berlanjut dari sekadar perangkat pameran menjadi produksi lokal yang iteratif guna memenuhi kebutuhan regional akan amunisi loitering yang terjangkau dan mudah diintegrasikan ke dalam struktur komando nasional.
Secara operasional, HDS NSS nampak ideal untuk menyasar target tetap atau semi-tetap seperti pos komando, simpul radar, posisi artileri, titik logistik, pesawat yang sedang parkir, atau kapal kecil yang sedang bersandar. Unit infanteri, marinir, atau pasukan khusus dapat memanfaatkannya untuk memantau rute pendekatan, mengonfirmasi target secara visual, dan melakukan serangan tanpa harus mengekspos kru peluncur atau menunggu dukungan artileri dari eselon yang lebih tinggi.
Ambisi Shahed India: Drone Divyastra-MK2 Mulai Uji Taxi, Jangkauan Tembus 2.000 KM
Di medan sulit seperti perbatasan hutan atau garrison pulau yang terdispersi, kemampuan serangan presisi organik seperti ini sering kali lebih berharga daripada jangkauan mentah. Dalam peta persaingan global, HDS NSS menempati segmen pasar yang sudah dibentuk oleh sistem mapan seperti STM ALPAGU dari Turki, Warmate dari Polandia, atau Switchblade 300 dari Amerika Serikat, meskipun detail mengenai ketahanan datalink dan performa pelacakan target otonomnya masih perlu diuji lebih lanjut di lingkungan peperangan elektronik.
Meskipun saat ini belum ada pengguna militer atau kontrak produksi yang dikonfirmasi secara publik, kehadiran HDS NSS tetap memiliki relevansi yang tinggi. Jika HeiTech mampu mematangkan sistem pemanduan dan memperkuat ketahanan komunikasinya terhadap gangguan frekuensi, drone ini berpotensi menjadi alat tembakan presisi tingkat batalyon yang kredibel.
Lebih dari sekadar perangkat keras, proyek ini menandai ambisi besar Malaysia untuk membangun kapasitas serangan drone berdaulat di salah satu segmen peperangan modern yang paling menentukan. Sebagaimana dilaporkan oleh Army Recognition, inovasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Malaysia kini serius dalam mengembangkan teknologi serangan otonom yang masif guna menghadapi dinamika ancaman di masa depan. (Bayu Pamungkas)
Thailand Luncurkan Drone Kamikaze Lokal: “Shahed” Versi Asia Tenggara


