Top 5 Angkatan Udara 2025: Siapa Negara dengan Jet Tempur Terbanyak?

Layaknya sayur dan garam, kekuatan militer sebuah negara tidak bisa dipisahkan dengan kepemilikan jet tempur. Hadirnya si burung besi ini jelas menambah daya gempur pada saat gencatan senjata – atau mungkin hanya sekadar misi spionase. Pertanyaan mulai muncul: Siapa negara yang memiliki pesawat tempur paling banyak di dunia? Apakah dengan banyaknya pesawat tempur yang dimiliki suatu negara akan serta merta meningkatkan ‘daya dobrak’ mereka ketika sedang perang?
Tapi tunggu dulu, banyaknya armada pesawat tempur yang dimiliki suatu negara bukan menjadi patokan bahwa ia akan selalu ‘di atas angin’ – medan tempur bukan melulu soal kuantitas, tapi lebih kepada kualitas.
Amerika Serikat (AS)

Berdasarkan data dan laporan pertahanan global yang tersedia hingga tahun 2025, AS memang menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan total jumlah pesawat militer dan khususnya, jet tempur, yang paling banyak di dunia. Tercatat, kurang lebih sekitar 2.679 pesawat tempur yang terbagi ke dalam 3 matra utama.
Mulai dari F-16 Fighting Falcon yang melegenda dengan jumlah lebih dari 700 unit, F-15 Eagle di angka lebih dari 300 unit, hingga F-22 Raptor yang dijuluki sebagai ‘Raja Langit’ karena dirancang secara eksklusif untuk mencapai dan mempertahankan superioritas udara (dilengkapi teknologi stealth, supercruise, kemampuan manuver ekstrem dan integrasi sensor). Tidak lupa F-35 yang telah menjadi tulang punggung armada tempur AS, dengan berbagai versi yang dirancang untuk setiap cabang angkatan.
The Perfect Blend of Stealth and Speed – Su-57 Felon 🇷🇺 pic.twitter.com/v6wBO9C1m5
— Leandro Romão 🇵🇹 (@leandroOnX) October 2, 2025
Cina

‘Rival abadi’ AS, Cina menyusul di posisi dua sebagai negara dengan kepemilikan pesawat tempur terbanyak di dunia – sekitar 1.583 unit jet tempur/interseptor aktif menurut World Air Force 2025. Perhatian publik tertuju pada J-20 Mighty Dragon yang digadang-gadang sebagai kompetitor F-22 Raptor. Jet tempur siluman generasi kelima andala Cina ini dibekali stealth capability dengan Desain Radar Cross-Section (RCS) Rendah serta ruang senjata internal yang mampu mengangkut rudal udara-ke-udara, salah satunya adalah PL-15.
Jangan lupakan Shenyang J-16, jet tempur canggih yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLAAF), yang juga telah menjadi tulang punggung kekuatan serangan dan pertahanan udara Cina. Bermodal Radar AESA serta teknologi IRST (Infrared Search and Track), wajar jika J-16 memiliki multiperan dalam militer Cina.
4x J-20 Fighter Demo Team Pitch its Wings over Zhuhai ahead of the National Air Fest | “Mighty Dragon”@ China 2024 pic.twitter.com/HdUhKhAoN1
— David Wang (@Nickatgreat1220) November 10, 2024
Rusia

Posisi ketiga diduduki oleh Rusia dengan kepemilikan jet tempur aktif sekitar 1.522 unit, versi World Air Force 2025. Dari sekian banyak armada yang dimiliki, dua pabrikan ternama Sukhoi dan Mikoyan mendominasi seri-seri dari pesawat tempur Rusia.
Mulai dari Su-30SM/SM2 (Flanker-C), pesawat tempur multiperan generasi keempat yang menjadi tulang punggung armada, MiG-35 (Fulcrum-F), Su-35S (Flanker-E) yang menjadi superioritas udara multiperan, hingga pesawat generasi kelima Sukhoi Su-57 (Felon) yang memiliki fitur siluman (stealth), supercruise, dan fusi sensor yang canggih.
“The Russians are running out of Jets?”
I suppose thats why the “Russian Knights” in their Sukhoi Su-30SM and Su-35S fighter jets are 1,800 km away from Ukraine in Ufa Russia showing what they can do. pic.twitter.com/D2qRviJlvR
— Chay Bowes (@BowesChay) July 18, 2025
India

Menyusul Rusia, ada India dengan 643 unit pesawat tempur versi World Air Force 2025. Sedikit berbeda dengan ketiga negara di atas, Angkatan Udara India (IAF) masih mengandalkan campuran jet tempur dari berbagai negara.
SU-30MKI jadi tulang punggung utama armada IAF dengan sekitar 259 unit dalam layanan, lalu ada juga Dassault Rafale jet tempur multiperan modern asal Prancis dengan 36 unit, hingga HAL Tejas Mark 1 jet tempur ringan produksi dalam negeri.
Hari ini, 14 Tahun Lalu, Chengdu J-20 Sang Penantang F-22 Raptor Terbang Perdana
Korea Utara

Peringkat lima diduduki oleh Korea Utara dengan 482 unit pesawat tempur. Kerja sama strategis Korea Utara dengan Rusia dan Cina menjadikan armada tempur negara ini dipenuhi oleh produksian dua negara tersebut.
Sebut saja MiG-15, MiG-17, MiG-19, MiG-21, MiG-23 hingga Su-25 menghiasi hanggar pangkalan militer Korea Utara. Meskipun jumlahnya besar, namun tidak bisa dipungkiri kapabilitas teknologi sebagian besar pesawat-pesawat ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara di atas. (Nurhalim)
Seoul Cemas, Korea Utara Konversi 900 Unit Jet Tempur MiG ‘Tua’ Jadi Drone Kamikaze



saya pikir perang masa depan….jumlah pesawat tempur yg banyak, masih cukup menentukan kemenangan peperangan. tetapi kualitas yg paling up to date adalah tetap yg paling menonjol. jumlah pesawat gen 5.0 atau gen 6.0 yg besar yg berkemampuan mengoperasikan royal wingman (jet drone) dalam jumlah yg banyak yang akan mendominasi kekuatan kawasan mungkin dunia juga.
tetapi kekuatan rudal balistik yg beragam dan canggih seperti milik Iran…juga akan mampu mengalahkan kekuatan udara yang canggih dan berjumlah banyak seperti Israel pada masa yang sama. Iran tak perlu jet untuk menghancurkan fasilitias2 penting lawan yg berjarak 2000 km dalam jumlah massif. termasuk pangkalan militer, kilang minyak, mabes militer, dll.
keberadaan kilang minyak yang banyak itu penting untuk ketahanan nasional….terutama untuk kebutuhan rakyat.
Benar kilang minyak kita terlalu sedikit. Tak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Dan memang sebaiknya kilang minyak ditambah. Namun untuk jet fuel yang adalah bahan bakar pesawat juga bisa diproduksi dari bahan batubara yang diproses. Tetapi dalam keadaan perang pasti ada mobilisasi untuk bahan bakar dikhususkan untuk kepentingan pertahanan.
Nah menarik perhatian kita adalah apa yang dulu dilakukan oleh Jepang saat menjajah kita. Penguasa militer Jepang saat itu mewajibkan penanaman pohon jarak yang minyaknya bisa digunakan sebagai bahan bakar. Jadi tidak melulu mengandalkan bahan bakar minyak fosil.
Di negeri ini ada pula bahan dari tumbuhan selain biji jarak yang bisa digunakan untuk bahan bakar yaitu minyak sawit baik jelantah mau pun baru. Ada lagi singkong dan umbi lainnya yang bisa diolah menjadi etanol. Semua bahan ini bisa digunakan sebagai bahan bakar atau campuran bahan bakar.
Memang salah satu alusista paling diandalkan saat perang itu pespur. Tapi tetep semua alusista perlu dukungan logistik, contoh aja klo pespur banyak tapi ga punya bahan bakar mau gimana? Salah satu kekurangan Indonesia kilang minyak kita sedikit, kalau pecah perang di kawasan apa mau Singapura merelakan kita mengimpor BBM? Kalau hitung2an saya kemampuan stock BBM kita hanya beberapa bulan saja.
Kalau ketahanan pangan saya yakin bisa karena pak presiden punya program swasembada pangan. Kilang minyak yang banyak ga cuman buat kita mandiri dalam stock BBM, itu juga bisa buat kita memeratakan stock BBM di seluruh Indonesia, Kalau pengalaman saya sendiri sudah pernah lihat hampir di seluruh Indonesia, selama ini saya lihat stock BBM paling aman hanya di Jawa Bali saja, mungkin saudara di Kalimantan, Sumatera dan Indonesia Timur bisa komentar bagaimana susahnya BBM di daerah mereka, bagaimana mereka ngantrinya beli Solar.
Korea Utara secara kuantitas bejibun tapi secara kualitas dan teknologi, matra udaranya perlu perombakan total. Pada arsenal tempur udaranya yang paling canggih hanya MiG-29 (generasi ke-4) saja