PT PAL: “Pembangunan Kapal Selam Scorpene Class Butuh Waktu 6 Tahun”

SEVP Transformation Management PT PAL, Satriyo Bintoro dan VP Sales and Business Development India, Asia Pacific Naval Group, Nicolas de la Villemarquép.

Meski Menteri Pertahanan Prabowo Subianto telah menyebut rencana pembelian dua unit kapal selam diesel listrik Scorpene class dari Perancis, plus telah dilakukan penandatanganan MoU kerja sama bidang research and development tentang kapal selam antara PT PAL dan Naval Group. Namun, sampai saat ini publik masih menantikan kontrak efektif dapat dijalankan untuk dimulainya produksi kapal selam.

Baca juga: Naval Group Tawarkan Pembangunan Dua Kapal Selam Scorpene Class dengan AIP di Surabaya

Sembari menantikan kontrak efektif pengadaan Scorpene class, menjadi pertanyaan menarik bagi netizen, khususnya berapa lama produksi kapal selam itu akan berjalan? Mengingat kompleksitas konstruksi, pembangunan kapal selam tidak dapat dijalankan dengan singat. Lepas dari konstruksi, pun harus dilalui serangkaian pengujian yang terbilang ketat. Lantas berapa lama waktu pembangunan satu unit Scorpene class pesanan Indonesia?

Dalam acara Naval Seminar yang dihelat di Landing Helicopter Dock BPC Dixmude pada 28 Maret 2023, Senior Executive Vice President (SEVP) Transformation Management PT PAL, Satriyo Bintoro mengatakan, “Bila kontrak telah berjalan, maka pembangunan Scorpne class akan membutuhkan waktu enam tahun.”

PT PAL dalam proyek Scorpene class akan menjadi mitra Naval Group sebagai penerima alih teknologi (ToT). “Nantinya PT PAL akan menerima alih teknologi dan kerja sama produksi sebesar 35 persen dari nilai kontrak,” ujar VP Sales and Business Development Naval Group India, Asia Pacific, Nicolas de la Villemarquép.

Selain itu, proyek pembangunan kapal selam Scorpene class juga akan menciptakan 1.000 pekerjaan setiap tahunnya bagi tenaga kerja Indonesia. Dengan kerja sama yang erat serta kualifikasi produksi PT PAL yang diakui oleh Naval Group, maka tidak menutup kemungkinan produksi Scorpene class dapat dilakukan di Surabaya. Tentu saja, kesemuanya akan bergantung pada nilai kontrak yang akan disepakati antara Indonesia dan Perancis.

Bila mengacu pada permintaan Menhan Prabowo Subianto, maka Scorpene class untuk Indonesia nantinya akan dilengkapi teknologi AIP (Air Independent Propulsion) plus lengkap dengan persenjataannya.

Bila Scorpene class untuk Indonesia jadi menggunakan AIP, maka ini akan menjadi lompatan jauh bagi Indonesia. Pasalnya Scorpene Class milik Brasil – Scorpene-BR (Riachuelo Class), Scorpene milik India (Kalvari Class) dan Scorpene milik Malaysia tidak dilengkapi AIP.

Meski belum ada sistem AIP yang diterapkan pada Scorpene class, namun Naval Group telah mengembangkan dukungan AIP dalam rancangan Scorpene Class. Sejak beberapa tahun lalu, Module d’Energie Sous-Marine Autonome (MESMA) buatan Perancis telah ditawarkan ke Naval Group.

Baca juga: Menhan Prabowo: Indonesia Akan Beli Dua Kapal Selam Scorpene Class dengan Teknologi AIP

MESMA pada dasarnya adalah versi modifikasi dari sistem propulsi nuklir dengan panas yang dihasilkan oleh etanol dan oksigen. Pembakaran etanol dan oksigen yang tersimpan, pada tekanan 60 atm (6,1 MPa), menghasilkan uap yang menggerakkan pembangkit listrik turbin konvensional. Penembakan tekanan ini memungkinkan karbon dioksida buangan dikeluarkan ke laut pada kedalaman berapa pun tanpa kompresor buang. (Haryo Adjie)

6 Comments