Tampilan Baru Serval Class P-750B Small Attack Submarine – Dilengkapi Kompartemen untuk Drone

Serval class P-750B Small Attack Submarine, desainnya telah diperkenalkan Malakhit Design Bureau pada Army 2020. Meski baru dalam tahap desain, kapal selam non nuklir Rusia ini telah mendapat perhatian global, pasalnya Serval class yang dari segi tampilan lebih kecil dari Kilo class, ditenagai mesin turbin gas dan mengadopsi teknologi Air-independent propulsion (AIP).
Dan di ajang Army 2023 yang dihelat bulan Agustus lalu, desain Serval class kembali ditampilkan, namun dengan modifikasi guna menyesuaikan kebutuhan operasi yang berkembang. Modifikasi pada desain Serval class P-750B adalah hadirnya kompatemen untuk drone pada bagian haluan. Kapal selam berlambung ringan ini telah dimodifikasi dengan penambahan kompartemen kompak berukuran sekitar 8×4 meter di haluannya. Kompartemen ini telah dirancang dengan cermat untuk menampung satu atau dua kapal selam mini.
Kapal selam mini atau drone bawah laut secara khusus dirancang untuk melaksanakan misi pengintaian dan serangan, sehingga semakin meningkatkan kemampuan operasional kapal selam.

Rusia telah mengembangkan berbagai drone bawah air, termasuk autonomous underwater vehicles (AUV) dan remotely operated vehicles (ROV). Drone ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari penelitian ilmiah hingga operasi militer. Salah satu jenis drone bawah air yang dikembangkan Rusia adalah drone ‘Beluga’. Drone ini dirancang untuk berenang mendekati kapal target dan menempel pada lambung kapal lawan, yang kemudian dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi intelijen atau bahkan menanam bahan peledak.
Jenis drone bawah air lainnya yang dikembangkan Rusia adalah drone ‘Kanyon’. Drone ini merupakan kendaraan bawah air otonom bertenaga nuklir yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Rudal ini dirancang untuk melewati pertahanan pantai dan melancarkan serangan nuklir yang menghancurkan terhadap sasaran musuh.

Rusia juga memiliki beberapa jenis drone bawah air, termasuk Bester-1 dan Marlin-350. Bester-1 adalah kendaraan kecil yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) yang dapat menyelam hingga 300 meter dan dilengkapi dengan kamera dan sonar resolusi tinggi. Sementara itu, Marlin-350 adalah ROV lebih besar yang dapat menyelam hingga 350 meter dan dirancang untuk eksplorasi dan penelitian laut dalam.
Serval Class P-750B
Malakhit Design Bureau menyebut Serval Class telah dirancang dengan metode 3D untuk menghitung karakteristik hidro dinamis dan menempatkan peralatan dengan benar pada tahap awal desain. Pemodelan 3D akan menyederhanakan pekerjaan, konstruksi, termasuk paduan logam dan komposit yang harus ditentukan untuk lambung dan interiornya.

Serval Class ditenagai 2 x 400 kilowatt gas turbines (AIP) dan 1 x 2.500 kilowatt electric motor. Kecepatan kapal selam ini saat menyelam mencapai 18 knot dan kecepatan jelajah 4 knot. Dengan endurance 30 hari, Serval Class dapat menjelajah hingga 8.000 km.
Punya bobot di permukaan 1.450 ton, maka bobot saat menyelam ditakar mencapai 2.000 ton. Kapal selam yang dirancang dapat menyelam hingga 300 meter ini punya panjang 65,5 meter dan lebar 7 meter. Diawaki 20 personel, kapal selam ini dirancang untuk membawa 16 pasukan khusus.

Bicara persenjataan, Serval Class dilengkapi 12 tabung peluncur torpedo kaliber 533 mm, selain dapat melepaskan heavy torpedo, yang dapat diluncurkan dari tabung mencakup rudal anti kapal dan ranjau laut.
Malakhit Design Bureau menyebut bahwa mesin turbin di Serval Class akan beroperasi dalam dua metode, yang pertama adalah penggunaan mesin saat di permukaan, dan kedua penggunaan mesin turbin saat berlayar di dalam air. Dalam metode pertama, digunakan pembangkit listrik yang mengkonsumsi udara atmosfir.
[the_ad id=”77299″]
Baca juga: Biro Desain Rubin Ungkap Rahasia “Black Hole” pada Kapal Selam Diesel Listrik Rusia
Sedangkan pada metode kedua, menggunakan oksigen cair yang dihasilkan dari penyimpanan kriogenik Dewar vessels. Pada prinsipnya, teknologi yang ditawarkan dengan cara membekukan gas buang dan tidak perlu membuangnya ke atmosfer. (Bayu Pamungkas)



Sugiyono aka mas Smili
Masalahnya itu bukan AIP atau tidak. Masalahnya adalah kita itu banyak keinginan lapar mata saat belanja. Ditambah dengan mitos jangan menaruh telur di keranjang yang sama yang tampaknya hanya alasan untuk cari rejeki tambahan dari berbagai macam supplier saja.
Lihat Iran dulu saat belanja jor-joran ratusan pesawat tempur dan ribuan rudal dari Amerika. Walaupun diembargo puluhan tahun tetap pesawat tempurnya bisa terbang.
Selain itu kalo beli dalam jumlah besar peluang lebih banyak untuk dapat transfer teknologi yang lebih besar persentasenya.
@sugiyono
Permasalahannya apa ada yang terealisasi
Program lain seperti 636.7 yang paling awal gemboria pake AIP nyatanya batal
Paling parah di surface combatant vessel daei oversize Grigorovich, oversize Gorshkov, LHD w/t catobar, CVN Skhwal, CV catobar Shtorm, LPD 27000 ton, Gremyavich succesor, Lider class cruiser dsb berujung ketidakjelasan dan sebagian berujung batal
Modernisasi matra laut Ruskies lambat bak bekicot.
@ayam jago
Enggak sepenuhnya benar anggapan ini ☝️
Pengembangan proyek kasel SSK rusia terhambat pada pengembangan AIP…. sementara platformnya sendiri sudah cukup proven, selepas proyek Lada class “disunat” opsi AIP nya.
Jika mau jalan pintas toh Rusia bisa beli AIP kloningan Stirling engine dari cina
@ayam jago
apa bedanya dengan disini? 🗿
Hohoho
Seperti tradisi yang sudah-sudah bagi program matra laut Ruskies dengan sebagian besar (hampir 90%) berakhir sebagai maket dan konsep buat pameran doang!!
Canggih ini dr pada kasel diesel Nato yg di incar oleh indonesia, ToT 100% ok lah
Menarik…..tapi ga sanggup membuat berpaling dari U-212 NFS