Setelah Iron Dome (Israel) dan Steel Dome (Turki), nama “Golden Dome” baru-baru ini mencuat, merujuk pada sebuah proposal kerangka arsitektur pertahanan rudal dan udara terintegrasi yang ambisius, yang ditujukan untuk memperkuat keamanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, terutama dalam menghadapi ancaman rudal balistik, jelajah, dan hipersonik dari Cina, Rusia dan Korea Utara. (more…)
Korps Marinir Amerika Serikat (U.S. Marine Corps/USMC) telah mengambil langkah signifikan dalam penguatan kerja sama pertahanan dengan Filipina melalui pengerahan aset udara nirawak canggih. Unit dari Marine Unmanned Aerial Vehicle Squadron (VMU)-1 telah dikerahkan untuk beroperasi dari Pangkalan Udara Basa di provinsi Pampanga, Filipina. Pengerahan ini, yang dilakukan atas permintaan Manila, secara eksplisit ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) regional, khususnya di perairan sengketa Laut Cina Selatan (LCS), yang oleh Filipina disebut Laut Filipina Barat (West Philippine Sea).
Angkatan Darat AS (US Army) terus mendorong batas-batas integrasi teknologi komersial ke dalam operasi tempur melalui inisiatif “Transforming in Contact” (TiC). Dalam perkembangan terbaru yang signifikan, militer AS telah melaksanakan uji coba lapangan terhadap sistem tethered drone (drone tertambat) berdaya tahan lama yang dilengkapi dengan pod Perang Elektronik (EW) yang canggih.
Pada tanggal 26 Oktober 2025, Angkatan Laut Amerika Serikat mengalami insiden signifikan di Laut Cina Selatan ketika dua pesawat militernya jatuh dalam rentang waktu yang sangat singkat. Kedua pesawat tersebut beroperasi dari kapal induk bertenaga nuklir, USS Nimitz, yang sedang melakukan operasi rutin di perairan internasional. Meskipun kedua insiden terjadi secara terpisah, kejadian ganda yang melibatkan helikopter dan jet tempur ini menarik perhatian global, terutama mengingat lokasi geografisnya yang sensitif. (more…)
Peralihan strategis di tubuh militer global kini tidak lagi hanya soal jet tempur tercanggih atau kapal induk terbesar, melainkan soal seberapa cerdas sebuah sistem dapat bekerja. Angkatan Udara AS baru-baru ini menjadi sorotan setelah mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam urat nadi operasionalnya, yaitu perencanaan penyimpanan amunisi. Program revolusioner bernama Automated Master Storage Planning (A-MSP) ini menandai langkah besar dalam modernisasi logistik militer.
Jika pada pemberitaan sebelumnya membahas tentang MAPS GEN II yang mampu menavigasikan beragam kendaraan militer tanpa harus bergantung pada satelit, ini merupakan tindak lanjut dari ancaman peperangan elektronik masa depan yang mulai menyasar ruang angkasa – dengan satelit sebagai salah satu target vitalnya.
Menanggapi ancaman peperangan elektronik yang terus berkembang ini, Angkatan Darat Amerika Serikat memprioritaskan pengembangan sistem navigasi yang tangguh. Inilah yang melahirkan Mounted Assured Positioning, Navigation, and Timing System Generation II (MAPS GEN II).
Pesawat tempur siluman Lockheed Martin F-35 Lightning II sering disebut sebagai proyek senjata termahal dalam sejarah manusia, dengan total biaya program yang diproyeksikan melebihi $1,7 triliun. Meskipun teknologi canggihnya tak tertandingi, program ini diselimuti oleh serangkaian kontroversi biaya, terutama yang berkaitan dengan biaya operasional dan pemeliharaan jangka panjang. Inti dari permasalahan finansial yang terus membengkak ini terletak pada mesinnya, Pratt & Whitney F135, yang menjadi contoh sempurna dari pepatah “hemat di awal, boros di akhir”.
Dua raksasa udara generasi kelima, Sukhoi Su-57 dari Rusia dan Lockheed Martin F-22 Raptor dari AS, merupakan simbol kemajuan teknologi penerbangan militer di masing-masing negara. Kedua jet tempur ini dirancang untuk mencapai dominasi udara, namun filosofi desain dan prioritas misi mereka menghasilkan sejumlah perbedaan signifikan.
Miramar Air Show 2025 di AS seolah menjadi titik awal promosi Ragnarok Low-Cost Cruise Missile (LCCM), sebuah sistem rudal jelajah baru berbiaya rendah yang dirancang untuk serangan presisi jarak jauh. Rudal ini dikembangkan oleh Kratos Defense & Security Solutions, sebuah perusahaan pertahanan asal AS, yang dikenal dengan produk-produk nirawak canggih.