Update Krisis IranKlik di Atas

Perlombaan “Senjata Sunyi” di Angkasa, Mengapa Teknologi ASAT Elektronik Jadi Fokus Militer Dunia?

Jika pada pemberitaan sebelumnya membahas tentang MAPS GEN II yang mampu menavigasikan beragam kendaraan militer tanpa harus bergantung pada satelit, ini merupakan tindak lanjut dari ancaman peperangan elektronik masa depan yang mulai menyasar ruang angkasa – dengan satelit sebagai salah satu target vitalnya.

Baca Juga: Dassault Aviation Luncurkan Proyek “Vortex” – Pesawat Luar Angkasa Reusable Multimisi, Termasuk Misi Militer Secara Otonom

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pembahasan militer global telah bergeser secara dramatis dari medan tempur tradisional di darat, laut, dan udara, menuju domain kelima yang sangat strategis: ruang angkasa. Di jantung perdebatan ini, terletak pengembangan dan penyempurnaan teknologi Anti-Satelit (ASAT).

Evolusi ini mencerminkan pengakuan bahwa melumpuhkan fungsi satelit tanpa menghancurkan fisik satelit adalah strategi yang lebih cerdas, mengurangi eskalasi, dan meminimalkan kerugian bersama (mutually assured destruction) di domain luar angkasa.

Ruang angkasa merupakan ultimate high ground yang sangat penting bagi kemampuan Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR). Satelit menyediakan layanan Positioning, Navigation, and Timing (PNT) melalui Global Navigation Satellite Systems (GNSS) seperti GPS, komunikasi frekuensi tinggi terenkripsi, dan persistent surveillance melalui satelit Imagery Intelligence (IMINT) dan Signals Intelligence (SIGINT). Setiap gangguan terhadap layanan ini akan menciptakan Operational Blackout yang melumpuhkan kemampuan Precision-Guided Munitions (PGMs) dan Joint All-Domain Operations (JADO).

ASAT non-kinetik secara fundamental beroperasi dalam ranah Peperangan Elektronik (EW) atau Counterspace elektronik. Klasifikasi utamanya mencakup jamming dan spoofing. Pengembangan sistem jammer berbasis darat (Ground-Based Jammers/GBJ) telah menjadi prioritas utama. Negara-negara seperti Rusia dilaporkan menggunakan sistem Tirada-2 atau platform sejenis untuk menargetkan satelit Low Earth Orbit (LEO). Keunggulan GBJ adalah sifatnya yang mudah dipindah-pindahkan (mobile), waktu reaksi cepat, dan kesulitan bagi lawan untuk melacak sumber gangguan secara real-time.

Ilmuwan Cina Studi Serangan Rudal Hipersonik dari Peluncur di Luar Angkasa (Space Based Platform)

Kategori ASAT non-kinetik paling maju adalah Senjata Energi Terarah (DEW), khususnya Laser Anti-Satelit. Laser berdaya tinggi dapat ditembakkan dari platform darat, laut, atau udara untuk menyebabkan kerusakan non-permanen hingga permanen pada satelit. Kerusakan non-permanen, atau dazzling, terjadi ketika energi laser membutakan sensor optik (Electro-Optical/InfraRed – EO/IR) pada satelit reconnaissance secara sementara. Sementara itu, laser berdaya sangat tinggi dapat menyebabkan permanent damage pada panel surya atau attitude control systems satelit.

Sejumlah negara, terutama Tiongkok, mengembangkan kemampuan Co-Orbital ASAT. Ini melibatkan penempatan satelit service atau inspeksi yang dapat bermanuver di dekat aset musuh. Satelit-satelit ini, seringkali dipersenjatai dengan lengan robotik atau perangkat pengganggu sinyal terfokus yang memiliki kemampuan dual-use.

Tiga kekuatan Major Power—Amerika Serikat, Rusia, dan Cina—memimpin perlombaan ASAT. AS berfokus pada Space Situational Awareness (SSA) dan Resilience melalui jaringan satelit yang terdistribusi dan disaggregated. Rusia menekankan pada sistem EW berbasis darat yang matang. Sementara Cina berinvestasi secara holistik pada seluruh kategori ASAT: kinetik, co-orbital, EW, dan laser. Strategi mereka berlandaskan pada prinsip counter-denial dan kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan di domain angkasa.

Masa depan perang elektronik dan ASAT akan ditentukan oleh kedaulatan spektrum elektromagnetik. Militer akan terus mengembangkan sistem ASAT terintegrasi yang memadukan kapabilitas EW, siber, dan co-orbital untuk menciptakan Multi-Domain Operations.

Cina Luncurkan ‘Baidi’ – Jet Tempur Generasi Keenam yang Bisa Beroperasi di Atmosfer Bumi dan Luar Angkasa

Pembahasan teknis beralih ke quantum communication dan hypersonics di orbit sebagai aset yang lebih sulit ditargetkan oleh sistem ASAT saat ini. Bagi komunitas militer, ruang angkasa bukan lagi hanya domain dukungan, melainkan Warfighting Domain tempat pertempuran elektronik sesungguhnya akan dimulai. (Nurhalim)

Tak Lagi Jadi Prioritas, Australia Batalkan Proyek Pertahanan Luar Angkasa Senilai US5,3 Miliar

One Comment