Reunifikasi Sang Naga – ‘Satukan’ Cina Daratan, Makau, Hong Kong dan Taiwan di 2026

Secara pelan tapi pasti, negara Cina dibawah kepemimpinan tunggal Partai Komunis mencoba untuk menjadi penguasa dunia. Untuk dapat disegani lawan, maka Cina bukan saja mengembangkan rudal jarak jauh, namun juga telah memiliki hulu ledak nuklir. Dengan kemampuan spionase dan reverse engineering, kini militer Cina telah memiliki dua kapal induk dan juga pesawat tempur yang dibangun dari salinan Sukhoi Su-27/Su-30, F-35, Typhoon dan berbagai alat militer lainnya. Terinspirasi sejarah gemilang masa lalu atas penguasaan lautan oleh Laksamana Cheng Ho, Jalur Sutera yang melewati India bahkan wilayah Arab, maka kini disodorkan kepada dunia ide OBOR (One Belt One Road).
Baca juga: Stonefish “Carrier Killer” – Ancaman Terbesar untuk Kapal Induk AS di Masa Depan
Untuk mempersingkat perjalanan laut, bahkan Cina telah mengajak Thailand untuk membelah daratan Kra dan akan dibikin semacam terusan Suez di Asia. Diam-diam Cina juga telah membangun gugusan karang dan pulau kecil di Laut Cina Selatan dan memberikan garis batas merah putus-putus (nine dash line) sebagai wilayah klaim teritorial sejarahnya.
Cina dengan cerdik tidak mengklaim Pulau Natuna kedalam wilayahnya, karena secara hukum dan de facto pulau Natuna dihuni penduduk Indonesia. Namun, secara sadar Beijing memberikan banyak pinjaman (hutang) kepada banyak negara, hal ini sesungguhnya dilakukan tidak lain untuk melemahkan daya tawar politik negara-negara yang berhutang.

Sekalipun pemerintah Amerika Serikat memiliki kebijakan Pivot to Asia atau Strategi Rebalancing AS ke kawasan Asia-Pasifik, namun toh hal itu telah terlambat dilakukan. Filipina kini telah kembali mengijinkan dibukanya pangkalan militer bagi kepentingan AS, namun hal itu jelas telah terlambat. Dengan selesainya pembangunan pangkalan militer sebagai hasil reklamasi di wilayah Laut Cina Selatan, maka hal itu jelas telah menjadi pijakan yang kuat bagi patroli laut maupun udara.
[the_ad id=”12235″]
AS juga telah banyak melakukan kesalahan strategi, dimana terlalu banyak mencampuri kepentingan milter di ASEAN dalam hal modernisasi perlatan militernya. Sebagai contoh Indonesia juga terkena sanksi CAATSA tatkala akan memperkuat militernya dari produsen Rusia dan blok timur lainnya. Sementara untuk pengadaan peralatan militer dari AS harus dibayar pakai transfer uang atau hutang, dan belum ada skema barter dengan komoditas alam.

Sempat beredar bahwa untuk memuluskan larangan CAATSA, maka pembelian 11 Jet Tempur Su-35 maka wajib diikuti pembelian F16-Viper dalam jumlah sekitar 48 unit. Padahal rencana akuisisi pesawat IFX sudah berjumlah 50-an unit yang secara jelas banyak menggunakan komponen produk AS, seperti mesin, radar dan sistem senjata.
[the_ad id=”12235″]
Belakangan ini, dengan adanya pandemi Covid-19, maka seluruh dunia bukan saja fokus kepada penanganan virus mematikan tersebut, tetapi juga dampak ekonomi global yang terancam terjerumus ke jurang resesi. Kecemerlangan Partai Komunis Cina dalam meng-intercept komunikasi melalui Huawei benar-benar membuahkan hasil dan kini bahkan negara AS terancam perang saudara karena hal ini juga lebih banyak dipengaruhi elit politik mendekati masa pemilihan Presiden AS.

Lantas apa kaitan kesemuanya itu? Pada akhirnya akan berakibat kepada terwujudnya kebijakan satu Cina (Unifikasi Cina) yang meliputi Cina Daratan, Cina Makau, Cina Hong Kong dan Cina Taiwan. Tidak ada pakta perjanjian militer Taiwan dengan AS dan negara Taiwan hanya didukung/diakui sekitar 23 negara saja dan kesemuanya saat ini tengah fokus menangani Covid-19 dan kesulitan ekonomi. Sangat terlalu riskan dalam kondisi internal yang morat marit harus menghadapi geliat Sang Naga dengan hanya mengandalkan dukungan Jepang dan Australia dan mungkin beberapa negara Eropa.
Baca juga: Bendung Agresi Cina, AL AS Berencana Membuka Kembali Lanal Teluk Subic
Jangkauan kemampuan kekuatan maritim Cina akan semakin meningkat dengan adanya perkuatan pangkalan militer di Laut Cina Selatan, tambahan armada kapal induk dan armada kapal selam nuklirnya. Dengan kecerdikannya maka target pemerintahan satu Cina diprediksi dapat diwujudkan pada tahun 2026. (Wahju Indrawan aka Ayoeng Von Karawang)



Ayolah.. China tak sekuat itu dan AS tak selemah itu..
Untuk itu diharapkan TNI dapat mengakuisisi alutsista udara, dan laut yg canggih utk meredam agresivitas china di Natuna.
Kayaknya gak mungkin sih China ngelakuin bahkan sesudah tahun 2026.
Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh
Kayaknya gak mungkin sih China ngelakuin bahkan sesudah tahun 2026.
Selama kita (indonesia) masih ribut agama, ribut korupsi ya jangan harap bisa kayak cina dah,..
Mantaab ayoenk..👍
Jadi karna sing & ausi takut sama SU35 stronk bingiits, terbitlah catsaa, & disodorkan viper yg mereka sendiri gak mau beli, malah borongF35..😀
jangan GR, pentagon dan menhan AS malah menyetujui indonesia beli Su-35, karena bisa buat lawan tanding latihan USAF dan Australia, tni beli Su-35 justru menguntungkan AS
botox @ kalau pentagon setuju kita beli su 35 kok ngancam😂😂😂
yang ngancam senat (DPR) para politikus, bukan pentagon dan menhan, silahkan baca beritanya buuanyak.
Biarin saja. Dari awal kemunculannya komen @andrey memang selalu ngawur tingkat dewa. Fanboy Rosikin tapi mental’troller
Ha..ha..haaa..
Bisa aje kak ayam, ane opini ada dasarnya, hiu seneng kilo ada beritanya, pilot demen su35 ada linknya, kalou iver tetep ane dukung, biar spek berubah, nanti pasti ada rudal pamungkasnya,
Cuma sales barat ane akui canggih ditikungan terakhir,beberapa pesenan stronk bingiits gagal, padahal waktu krisis ambalat yaknot sangat berjasa, viet & pinoy sampe kesemsem, but show must go on, ane tetap bangga kok….hhhh😉
Opini pengawuran..logika juga ngawur..sumber tak jelas..asal bicara..wis komplit semuanya
Akhirnya balas komentar ane
Dan ngawur pula
Dikira integrasi alutsista 2 kutub gampang banget
http://defense-studies.blogspot.com/2020/06/greeks-scytalys-get-contract-49-million.html?m=1
Sayangnya TNI berpikiran beda sama ente. Kita tak memilih barang Israel lainnya sebagai bridge link buat mengintegrasikan barang Ruski ke sistem NATO
Hawk-200 Jatuh di Riau…..
gue seneng nih liat kayak gini, baik artikel sama komen nyambung dan masuk akal..,…kalou komen dah pada ngawur haduhhhhhh jangan kata nafsu makan hilang nafsu lainya juga ilang………kayak mana isi komen cuma sampah dan kotoran semua……..
Lha si borokokok ngedumel, dia mau jd fans boy rusia itu hak dia’ dr pd fans us yg buta mata buta hati,,,,bla bla bla tetep aja ente kagak bakal dipandang us, kalau gk percaya ngaca sono 🤧😝😜
wkwkwk@ ada yang kepanasan nih…….pasang ac kalou engak masuk kulkas wkwkwkwk@.
Remimbi bisa di cut oleh amerika, dgn melarang pertukaran us dollar ke remimbi. Untuk perdagamgan internasional dunia masih menggunakan us dollar. Maka dari itu langkah itu bisa mencekek sumber us dollar masuk ke china. Dan china tidak punya alat untuk transaksi.
Pembuatan terusan tanah genting kra jg sulit diwujudkan, karena daerah tersebut merupakan daerah konflik. Malaysia pasti bermain disitu untuk penguasaan terusan bila sdh jadi, dengan menggunakan strategi proxy. Mostly gerilyawan di selatan thailand itu muslim, dan malaysia akan memainkan peranan itu. Utk menghambat pembangunan terusan, karena sdh pasti pembuatan terusan itu akan menghambat proyek mereka di port klanh, belum lagi singapura pasti akan ikut campur. Karena jml kaapal yg mampir ke singapura akan berkurangbkalau terusan ini dibuat.
Ambisi pembiatan terusan ini sebenarnya sudah lama di pendam oleh malaysia, singapura, dan Indonesia melalui jalur diplomatisnya.
Masalah lain jg akan timbul dari fakta geografis tanah genting kra itu dataran tinggi. Sehingga teknologi dan biaya yg dibutuhkan akan besar. Bila ingin membuat terusan akan lebih seperti terusan panama, dengam elevator air, bukan seperti terusan suez yg tinggal belah daratan.
Pertanyaan saya utk dek @Ardi
Kalo adek mau beli barang China, jika dilarang pake duit Remimbi, lalu adek bayar pake dolar mau gak si penjual.?
Lalu pertanyaannya di balik, seandaianya adek adalah pedagang mau beli barang atock dagangan ke China yg terkenal murah namun gak mau dibayar pake dolar tp hrs pake mata uang China, sementara jika beli diluar China harga jauh berlipat2, dari segi business apakah adek batalkan transaksi yg menguntungkan, atau cari money changer? Disitu logikanya dek.
Apalagi skrng banyak negara melakukan penyeimbang transaksi perdagangan bilteralnya, melalui mekanisme imbal dagang dan penggunaan mata uang kedua negara. Dan jng lupa dek, msh ada emas dan mata uang kuat dunia lainnya yg bisa digunakan transaksi. Justru itu akan mengkerdilkan kekuatan dolar sebagai alat pembayaran transaksi dunia jika AS berani melakukannya spt yg dilakukan ke Rusia dan Iran. Makin banyak negara yg dilarang transaksi dng dolar maka semakin mengurangi kekuatan dolar sbg alat transaksi dunia dek.
Masalah geografis tanah genting kra itu dataran tinggi, dng teknologi yg ada dijaman modern ini bukan suatu hambatan dek, apalagi hanya membelah bukit. Membuat kota dng cara reklamasi aja spt di dubai bisa kok dek. Yg penting ada duit dan teknologi mendukung. Yg susah itu klo gak punya duitnya dek. China itu duitnya berkarung karung banyaknya dek, dan di china skrng kita bisa melihat pembangunan yg syarat teknologi modern, bahkan China dan AS sedang berlomba mau membangun kota di bulan dek. Masa cuma dataran tinggi aja akan menghambat dek.
Kalo hanya soal keamanan utk menghadapi gerilyawan pemberontak itu hal mudah dek. Jika China sdh komitmen ke Thailand akan investasi pembangunan terusan tanah genting, maka Thailang akan mengerahkan militer sepenuhnya utk backup keamanan selama pembangunan dek. Gak mungkin sebuah negara spt Thailang yg cukup kuat militernya takut dng kelompok kecil gerilyawan dek. Yg mereka takutkan hanya Issue HAM jika ingin memberangus gerilyawan di Thailand selatan itu dek, krn bisa kena sanksi dunia. Tp dng adanya proyek ini, maka militer Thailand berada diatas angin utk leluasa menghabisi gerilyawan yg terbukti mengacaukan pembangunan. Jika memang sdh bulat tekad utk mewujudkannya.
Knp selama ini Thailand gak bisa mewujudkannya, krn negaranya gak punya cukup anggaran yg besar dan teknologi dek. Itu saja masalahnya.
Gampang Dhek Rukimin, selama China masih megang obligasi Dollar Ampe 3 Triliun ya selama itu pula Dollar masih akan jadi yg terkuat di dunia. Kalopun China ngelepasin tuh obligasi, masih banyak negara yg mau nampung.
China uangnya berkarung-karung?? Yg bener aja Dhek, ekonomi China masih didasarkan dari investasi langsung dari negara lainnya. Kalo itu semua dicabut China bakal kelimpungan. Kenapa?? Karena China kekuatan ekonominya lebih dari 50% itu sumbernya dari ekspor yg dibangun dari investasi-investasi tsb. Beda jauh Ama USA yg udah ngandelin konsumsi domestik saja buat mendorong ekonomi jadi ekspor dan investasi asing gak berpengaruh besar. Masih jauh lah China buat nyaplok Taiwan apalagi menggusur USA dari nomor satu dunia.
Kalo sekedar bangun terusan di Tanah Genting Kra dana yg dikeluarkan terlalu besar bahkan kalo pake teknologi modern. BEPnya terlalu lama dan belum tentu banyak yg mau make kalo yg ngobrol China. Lebih baik kalo China lewat kutub Utara aja, jauh lebih cepat ke pasar Eropa daripada buat terusan di Thailand. Itu juga kalo bisa lewat sih.
Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh
http://defense-studies.blogspot.com/2020/06/greeks-scytalys-get-contract-49-million.html?m=1
Tactical datalink TNI AU & TNI AL serta National Datalink sudah sangat jelas 100% Link 16
Tapi dari gambar tampaknya interlink communication 3 matra TNI. Artinya Lygarion kalah nich. Tetap saja sesama barang Israel juga.
Ambisi Tiongkok unt menjadi kekuatan utama di dunia khususnya indo pasicif, sebetulnya bisa diimbangi dengan bersatunya ASeAN dlm membendung china, negara2 dikawasan harus secara terukur dan berimbang unt membangun kekuatan militernya unt menghadapi segala kemungkinan, Akutsista China blm batle Proven dlm sebuah pertempuran, blm pernah diuji, pengalaman tempur nya juga minim, soal CAATSA menyangkut pembelian SU35 kepada Ind tergantung ketegasan para pengambil keputusan, Mesir dan Turki tdk ada masalah berani melawan kebijakan ancaman Embargo sekalipun, krn kedaulatan sebuah bangsa yg harus diutamakan, secara geo strategis dan geo politis USA tetap memerlukan Ind, jd apa yg perlu dikawatirkan, jadilah bangsa besar yg bisa dan diharapkan jadi penyeimbang hegemoni kekuatan besar dikawasan.
Kesalahan amerika terletak di afghanistan dan di eropa. Di afghanistan presiden trump berkali2 mengatakan akan menarik pasukannya dari sana tpi kenyataannya malah ditambah. Di eropa amerika terlalu nurut dengan keinginan negara2 eu untuk mengisolasi rusia krn mereka msh menganggap rusia akan menyerang eropa kapan saja. Dua faktor diatas yg membuat cina leluasa mencaplok sebagian besar wilayah laut cina selatan dan membangun pulau2 kecil sebagai pangkalan militer disana..
“AS juga telah banyak melakukan kesalahan strategi, dimana terlalu banyak mencampuri kepentingan milter di ASEAN dalam hal modernisasi perlatan militernya. Sebagai contoh Indonesia juga terkena sanksi CAATSA tatkala akan memperkuat militernya dari produsen Rusia dan blok timur lainnya. Sementara untuk pengadaan peralatan militer dari AS harus dibayar pakai transfer uang atau hutang, dan belum ada skema barter dengan komoditas alam.”
——————————————————
Disini point yg justru melemahkan AS, sehingga negara2 kawasan ASEAN kesulitan dlm memperkuat militernya. Hanya demi melemahkan Rusia disatu sisi, tp disisi lain, china sbg kekuatan baru muncul dan dibiarkan semakin menggurita sehingga membuat AS keteteran.
Seandainya kebijakan penjualan alutsista AS diperlonggar spt kpd Malaysia, Philipina dan Indonesia, mungkin msh bisa menjadi benteng pertahanan yg kuat bersama Australia dlm menghadapi agresifitas China.
Ada kekhawatiran AS jika mengumbar alutsistanya kpd negara2 spt Indonesia adalah pengalaman pahit terhadap IRAN yg dulu diberi alutsista kelas wahid oleh AS, namun begitu rejim yg didukungnya terguling, alutsista yg diberikan tersebut berbalik digunakan utk melawan AS. Memang tdk mungkin Indonesia berseteru dng AS, namun khawstiran AS justru jika nantinya alutsista kelas wahidnya digunakan utk berhadapan dng sekutu abadi non NATO nya yaitu Australia. Sebab Indonesia sering bersitegang dng negara tetangga selatannya itu. Atau digunakan utk menekan Singapura agar tidak lg macam2 terhadap kebijakan Indonesia. Krn dng menganut alutsisita dr 2 kutub, maka dng sendirinya baik Australia maupun Singapura akan mundur teratur utk selalu merecoki Indinesia..
So….Rafale dr jauh msh mengintai utk mencuri start, jika SU-35 terhadang dan permintaan F-35 sbg ganti F-16V terlalu sulit diwujudkan oleh AS…….xicixicixicixicixi
Saya tdk sepakat dgn kesimpulan artikel ini.
cina tdk sekuat itu, militer yg ditampilkan hanya kosmetik saja,kualitas alutsista msh rendah. Mesin msh andalkan rusia. Ilmu reverse engineering dan metalurginya msh rendah.
cina yg modern blum miliki pengalaman perang diluar wilayahnya/jarak jauh, kecuali dgn vietnam 1979 dgn hasil cina kalah.
Sejak 1900 hingga kini, cina blum punya pengalaman sbg pemimpin regional, apalagi dunia. Indonesia lebih mumpuni u/ jadi pimpinan regional krn pengalaman bentuk dan pimpin ASEAN, terlibat aktif u/ hadirkan solusi2 atas isu dunia diberbagai forum regional dan internasional.
Pembuatan terusan Kra tdk akan mudah terlaksana krn kemungkinan konflik dgn thailand atas isu bendungan mekong. Biaya yg besar dan cina tdk punya uang cash keras.
Taiwan, korsel, jepang, vietnam, filipina tdk akan mudah dikalahkan cina. Ada AS, australia, india, dan militer Indonesia yg akan buat cina berdarah2.
Teknologi cina hanya baru sampai mencontoh, sehingga kualitasnya rendah walaupun huawei dibesar2kan akan teknologinya. cina blum kuasai teknologi conductor (?) dan msh hrs impor dari AS. Listrik di cina msh tergantung pasokan dari luar. Jika kita stop ekspor batu bara ke cina, 80% kota shanghai akan gelap total.
Untuk keuangan, jika AS deklarasikan reminbi tdk berlaku maka cina akan kesulitan dlm perdagangan internasional dan cadangan devisanya lsg turun drastis.
pkc terlalu ambisius. Pengalaman ekspansi militer tdk ada, pengalaman leadership regional dan global tdk punya, teknologi msh rendah dan hanya gimmick, bermimpi jadi pemimpin dunia. Lindungi snowden saja tidak bisa.
Dikira rusia akan diam saja lihat cina serampangan main ekspansi ke sana ke sini?
Begini dek @Rudi
Masalah pembuatan terusan di Thailand itu justru keinginan Thailand dr dulu, bukan ambisi China. Sehingga pendapatan Thailand meningkat pesat disitu nantinya. Masalah proses pembangunannya, china menerapkan kebijakan infrastruktur yg dibiayai oleh pinjaman china menggunakan tenaga kerja china spt yg dilakukan di negara2 ASEAN lainnya termasuk Indonesia (dng kedok tenaga ahli klo disini.)
Masalah Taiwan, korsel, jepang, vietnam, filipina tdk akan mudah dikalahkan cina, bukan disitu pointnya dek. Jepang dan Korsel tdk ada kaitan dng sengketa LCS. Yg ada hanya Taiwan, Vietnam, philipina, Malaysia dan Infonesia. Jepang dan korsel akan bergerak hanya jika dipaksa bantu AS, krn jepang dan korsel takut dng nuklir China, gak akan berani 2 negara itu terlibat sukarela dikonflik yg bukan kepentingan mereka, jika secara individu. Demikian jg dng India yg jg gak punya kepentingan di LCS. Apa AS berani jamin jika mereka ikut gabung gebukin China negaranya gak akan dikirimin paket nuklir.? Ini China dek, negara besar jg salah satu pemilik hak veto di PBB, bukan negara kaleng2 spt Irak, libya atau afganistan dan suriah yg bisa seenaknya mereka buat porak poranda bersama sekutunya krn kekuatannya memang gak menakutkan.
Lalu atas dasar apa dng seenaknya AS deklarasikan reminbi tdk berlaku.? Dan kemudian seluruh dunia patuh gitu.? Emangnya AS bisa pasok semua komoditi yg selama ini disuplai oleh China.? Atau emang AS mau beli semua barang dr negara2 yg selama ini mengirim barang dagangannya ke China.?
Jika kerja sama perdagangan bilateral dng china, kemudian china menerapkan bayar pake Reminbi, kalo gak mau silahkan kirim kenegara lain, mau apa.? Ingat dek jumlah penduduk China itu merupakan pasar potensial bagi negara2 didunia dek.
AS hanya bisa menerapkan kebijakan tersebut hanya pada negaranya sendiri, tdk bisa interfensi keuangan negara lain apalagi mata uang. Yg AS bisa hanya menjatuhkan nilai mata uang negara lain saja,
Didunia ini cadangan devisa terbesar itu China dek. Disaat negara lain ingin meningkatkan nilai tukar mata uangnya, china justru berani melemahkannya sendiri. Dampaknya barang2 mereka jauh lebih murah lg..
Jd jng menganggap China sebelah mata dek, keliru itu. Krn perang modern itu melibatkan teknologi dek bukan hanya cukup strategi saja dan modal banyak2an serdadu dan pengalaman.
Pengalaman perang itu tdk menjamin menang perang dek. Tp pengalaman perang itu bagian dr strategi perang. Jaman skrng teknologi yg lebih dominan, krn musuhmu bisa mengetahui dimana konsentrasi pasukanmu dan jumlah serta jenis kekuatannya.. China dan AS sama2 punya teknologi itu
Jika head to head perang konvemsional, mungkin AS akan bangkrut jika menghadapi China, krn tdk akan berlangsung singkat.
Klo nuklir yg berbicara, tentu AS lebih banyak jumlahnya dan pastinya China akan hancur, tp AS pun hancur walau tdk separah china.
Begitu dek membaca kekuatan China, kalo memang AS nekad pasti sdh digalangnya sekutu NATO utk bersiap spt yg dilakukan terhadap IRAK. Tp yg ini baru wait and see sambil menunggu negara mana yg bisa dirangkul terkait LCS.
Amerika sekarang sedang kacau…salah satu jalan menyelamatkanya..bikin perang, hanya perang yang dapat menyatukan kembali suatu bangsa yang sedang kacau. WELCOME TO WW3..SOON
untuk sementara itu dulu kali yaa…yang lain liat ssituasi dan kondisi.,..karna ambisi kan liat kemanpuan juga…!!!
Jika USA cerdik maka tempatkan Taiwan Jepang Korsel India dan Aussie ke dalam pakta pertahanan spt NATO maka cina tdk akan berkutik Krn penyerangan terhdp satu negara berarti menyerang NATO.
kamu ngawur full dek….selain india yang kamu sebutkan diatas semua termasuk sekutu dekat usa…dan kedudukan mereka tidak dibawah angota nato lainya bahkan bisa dibilang usa lebih mementingkan mereka ketimbang angota nato yang pada dasarnya masih mengangap kesetaraan dengan usa….sedang sekutu non nato lebih mudah mengatur mereka….!!!
sedang india negara besar cita cita dan gengsi juga besar…mana mau dibawah perintah atau pengaturan negara lainya…!!!
mudah mudahan bisa dipahami…!!;!
Ngawur om.. Jepang sama korsel bkn negara yg akur.. Sering ada konflik (bkn perang) diantara dua negara tsb. Kebayang korsel dan jepang dipaksa buat kerjasama yg ada tentaranya pd adu jotos satu sama lain
engak juga dek itu dalam kapasitas regional atau masalah kedua negara aja…tapi pada dasarnya mereka patuh pada usa…selagi tidak mengancam kepentingan usa selama itu pula sah sah saja…beda ceritanya kalou kepentingan usa diancam….yah bisa diangap dinamika bertetangga apa lagi ada bau historis masa lalu…juga saingan antar sesama negara produsen….pasar adalah medan perang sebenarnya….!!!