Perancis Inginkan Porsi 80 Persen Saham, Jerman Tetap Pada Kesepakatan Awal, Proyek FCAS Terancam Bubar?

Kelanjutan proyek jet tempur generasi keenam tiga negara Eropa, FCAS (Future Combat Air System) semakin berat saja, setelah perbedaan pandangan yang mengemuka pada Paris Airshow 2025, kini ada kabar yang justru dipercaya bakal menjauhkan dari kesepakatan antar negara, yaitu dengan keinginan Perancis untuk menguasai 80 persen saham dalam proyek FCAS.
Seperti dikutip Reuters.com, Perancis telah memberi tahu Jerman bahwa mereka menginginkan 80 persen saham dalam Future Combat Air System (FCAS), sebuah proyek jet tempur gabungan yang juga melibatkan Spanyol. Proyek FCAS yang bernilai lebih dari 100 miliar euro ($117 miliar), dipimpin oleh perusahaan pertahanan Eropa, Airbus Defence and Space (ADS) Dassault Aviation, dan Indra.
Permintaan Prancis baru-baru ini untuk saham yang lebih besar dalam inisiatif FCAS telah menimbulkan kekhawatiran di antara negara mitra, pasalnya hal tersebut dapat mengubah ketentuan yang telah disepakati sebelumnya dan berpotensi menunda fase pengembangan berikutnya, yang dijadwalkan dimulai pada akhir tahun.
Kementerian Pertahanan Jerman menyatakan bahwa perjanjian antar pemerintah yang ada tetap berlaku dan menyerahkan pertanyaan tentang posisi Perancis kepada otoritas Perancis. Menurut Reuters, baik Kementerian Pertahanan Perancis maupun ADS menolak untuk berkomentar, meskipun Airbus menegaskan kembali komitmennya terhadap FCAS dan perjanjian yang ada.

Sejak diluncurkan oleh Perancis dan Jerman pada tahun 2017, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, FCAS telah diwarnai oleh perselisihan yang berkelanjutan mengenai pembagian kerja dan hak kekayaan intelektual di antara negara-negara mitra.
Program FCAS bertujuan untuk mengembangkan jet tempur generasi keenam untuk menggantikan armada Rafale dan Eurofighter pada tahun 2040. Inisiatif ini juga membayangkan sistem drone terintegrasi (loyal wingman) dan kemampuan digital canggih.

Tanggung jawab saat ini dibagi di antara para mitra di berbagai bidang utama, termasuk pesawat tempur, mesin, drone pengangkut jarak jauh, dan teknologi cloud tempur udara.
Pada tahun 2022, Prancis dan Jerman mengumumkan terobosan dalam program FCAS setelah berbulan-bulan negosiasi yang terhenti antara ADS dan Dassault Aviation, menyelesaikan perselisihan utama yang menghambat kemajuan. Pada awal tahun 2021, Berlin, Madrid, dan Paris sepakat untuk berinvestasi sebesar 3,5 miliar euro ($4,3 miliar) dalam Phase 1B proyek tersebut, yang mencakup pengembangan demonstran penerbangan untuk pengujian di masa mendatang.

Sengkarut pendapat antara Dassault dan ADS telah membawa dampak buruk,, sebut saja Phase 1B (rancang dan desain) telah diundur berkali-kali — awalnya dirancang selesai akhir 2025, tapi sempat mundur ke 2026–2027.
Bahkan ada risiko real delay pada Phase 2 (prototipe uji terbang), yang rencana first flight pertama diundurkan dari 2028 ke 2029 atau lebih. Kabarnya isu ini bakalan dituntaskan sebelum akhir tahun agar lelang Phase 2 bisa dimulai, kalau tidak, resiko besar untuk keberlangsungan FCAS akan mengancam.
[the_ad id=”77299″]
Meski Airbus Defence and Space (ADS) punya akar di Perancis, Jerman, dan Spanyol. Namun, dalam konteks proyek FCAS, konflik internal lebih terkait posisi “nasional” dan peran industri strategis, bukan sekadar asal negara perusahaan. Dalam proyek FCAS, Airbus Defence and Space yang berbasis di Jerman (dan sebagian Spanyol) menjadi lead contractor dari pihak mereka.
Sementara Dassault Aviation adalah perusahaan kedirgantaraan milik keluarga, dengan saham 24,6% dimiliki negara pemerintah Perancis, dan selama ini selalu menjadi lead developer jet tempur Perancis, dari Mirage sampai Rafale. Maka tak heran dalam proyekl FCAS, Perancis ingin mempertahankan dominasi teknis, terutama pada NGF (Next Generation Fighter), cockpit design, flight control system dan stealth shaping. (Gilang Perdana)
Perancis dan Jerman Beda Pandangan Tentang Proyek Jet Tempur Masa Depan – FCAS/SCAF



Pihak Perancis export oriented sedangkan Jerman embargo oriented , gimana bisa ketemu ?
Mending bubar diawal daripada banyak drama dalam penjualan seperti kasus penjualan Euro Typhoon ke Saudi Arabia dan Turkiye .
Wkwkwk. Pusing lihat perselisihan pengembangan jet tempur eropa. GCAP/Tempest juga kabarnya gitu.
Nah kan apa mengulang keributan dulu proyek Rafale dan Typhoon?