P-282 SMASH: Rudal Balistik Anti Kapal Hipersonik, Buatan Pakistan dengan Sentuhan Teknologi Cina

Rudal anti kapal sangat populer dalam jagad berita alutsista, seperti kerap diuji tembak oleh berbagai jenis kapal kombatan TNI AL. Umumnya rudal anti kapal yang kita kenal merupakan kelompok rudal jelajah – ASCM (Anti-Ship Cruise Missile), namun ada gebrakan dari Pakistan, yang pada tahun lalu meluncurkan rudal balistik anti kapal – Anti-Ship Ballistic Missile (ASBM).

Baca juga: Rudal Jelajah Anti Kapal YJ-18 – Ditawarkan Cina Bila Indonesia Beli Kapal Selam S26T eks Pesanan Thailand

Rudal anti kapal balistik (ASBM) yang dimaksud adalah “SMASH”, dengan mama internal untuk rudal ini adalah P-282. Rudal ini diuji coba pada awal November 2024 dengan diluncurkan dari kapal perang, yang kemungkinan besar salah satu fregat Zulfiquar class (fregat F-22P). Ada laporan yang menyebutkan bahwa SMASH juga direncanakan akan diintegrasikan sebagai persenjataan utama pada fregat terbaru buatan dalam negeri Pakistan, yaitu Jinnah class.

Dengan jangkauan hingga 350 km, ASBM ini dirancang untuk menghancurkan target di laut (kapal perang besar) dan menghancurkan target di darat. Fitur SMASH di antaranya dilengkapi sistem navigasi dan kemampuan bermanuver di tengah penerbangan (mid-flight maneuvering), kemampuan ini sangat penting untuk rudal balistik anti-kapal karena target di laut terus bergerak.

Dalam video resmi yang dirilis oleh Angkatan Laut Pakistan, terlihat rudal SMASH diluncurkan menggunakan sistem peluncur miring yang sudah ada di kapal tersebut (kemungkinan peluncur yang awalnya ditujukan untuk rudal anti kapal C-802 buatan Cina). Rudal ini kemudian menyesuaikan diri ke lintasan vertikal di tengah penerbangan.

P-282 SMASH dikembangkan secara “Indigenously Developed” (dikembangkan di dalam negeri) oleh Pakistan, yang berarti perancangan dan produksi dilakukan oleh lembaga dan industri pertahanan Pakistan.

Meskipun nama perusahaan komersial spesifik tidak diumumkan secara resmi oleh militer (ISPR), pengembangan sistem rudal strategis di Pakistan umumnya berada di bawah pengawasan National Engineering and Scientific Commission (NESCOM) dan melibatkan unit riset dan pengembangan Angkatan Laut Pakistan.

Fregat Zulfiquar class.

Para analis pertahanan sangat menduga bahwa P-282 SMASH dikembangkan dengan bantuan teknis dan kemungkinan transfer teknologi dari Cina. Rudal ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan rudal balistik anti kapal Cina, yaitu CM-401. Jadi, meskipun produksinya “lokal”, desain dasarnya kemungkinan besar dipengaruhi oleh teknologi Cina.

P-282 SMASH diperkirakan panjangnya sekitar 9 meter dengan diameter antara 85 cm sampai 90 cm. Propulsinya menggunakan roket pendorong berbahan bakar padat (seperti rudal balistik pada umumnya). Bicara kecepatan, ada di level hipersonik (Kemungkinan Mach 5+), terutama pada fase penerbangan dan masuk kembali (terminal phase), mirip dengan CM-401 Cina.

Untuk sistem pemandu, mengadopsi Inertial Navigation System (INS) untuk fase awal, dengan pembaruan di tengah lintasan (mid-course update) dari satelit atau sensor lain, dan Terminal Guidance yang presisi (kemungkinan menggunakan Maneuverable Reentry Vehicle/MaRV).

Berbeda dengan rudal jejalah anti kapal – ASCM (Anti-Ship Cruise Missile), maka rudal balistik anti kapal – ASBM (Anti-Ship Ballistic Missile) meluncur tinggi ke lapisan atmosfer atas (near-space), lalu menukik turun dengan tajam. Rudal ini menukik dengan kecepatan Mach 5 atau lebih. Hal ini memperpendek waktu reaksi secara drastis bagi sistem pertahanan kapal musuh (misalnya, sistem CIWS atau rudal pertahanan udara), membuat pencegatan menjadi sangat sulit.

Karena terbang tinggi dan menukik tajam (terminal dive), ASBM menyerang kapal dari sudut yang sulit diatasi oleh sistem radar dan pertahanan konvensional yang biasanya dioptimalkan untuk rudal jelajah rendah (sea-skimming). Kecepatan yang sangat tinggi menghasilkan energi kinetik yang masif. Bahkan hulu ledak konvensional pun dapat menyebabkan kerusakan struktural katastropik pada kapal induk atau kapal perusak besar.

Dengan jangkauan 350 km atau lebih, ASBM memungkinkan kapal peluncur untuk menyerang target bernilai tinggi sambil tetap berada di luar jangkauan efektif dari sebagian besar rudal pertahanan dan sistem senjata kapal musuh.

[the_ad id=”77299″]

Dalam konteks militer, setelah uji coba sukses dan sistem dinyatakan operational, produksi massal biasanya dimulai dalam waktu 1 hingga 3 tahun tergantung kebutuhan anggaran dan kapasitas manufaktur industri pertahanan negara tersebut.

Rudal ini secara substansial meningkatkan kemampuan A2/AD (Anti-Access/Area Denial) Angkatan Laut Pakistan di Samudra Hindia, memberikan kemampuan serangan presisi yang sulit dicegat oleh pertahanan konvensional. (Gilang Perdana)

Sea Skimming, Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Serangan Rudal Anti Kapal

One Comment