M-71 Soltam 155mm – Towed Howitzer Buatan Israel Andalan Empat Negara ASEAN, Singapura Punya Varian Tercanggih

Meski belum ada bukti penggunaan howitzer ini dalam konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja, namun, nama M-71 Soltam sempat diperbincangkan, lantaran dikabarkan siap digelar oleh satuan artileri medan Angkatan Darat Thailand. Bukan jenis alutsista baru, tapi debut M-71 Soltam menarik untuk dicermati, khususnya howitzer tarik (towed howitzer) kaliber 155 mm ini telah dioperasikan empat negara di Asia Tenggara.
Baca juga: Israel Ekspor 100 Amunisi Berpemandu Presisi “Silver Bullet” Howitzer 155mm ke Filipina
Meski komparasi jenis howitzer tarik kaliber 155 mm banyak dipasaran, namun, yang paling khas dari M-71 Soltam adalah kombinasi unik antara desain howitzer tarik dengan teknologi yang biasanya ditemukan pada howitzer swagerak (self-propelled).
Pada masanya, howitzer tarik dengan laras sepanjang 39 kaliber sangat jarang. Laras yang lebih panjang ini memberikan peningkatan signifikan pada kecepatan proyektil dan jangkauan tembak, menjadikannya salah satu howitzer tarik dengan jangkauan terjauh di kelasnya saat pertama kali diperkenalkan. Tidak itu saja, M-71 Soltam dilengkapi APU (Auxiliary Power Unit), ini adalah fitur yang paling membedakannya dari howitzer tarik lainnya, dengan APU memungkinkan M-71 untuk bergerak secara mandiri dalam jarak dekat.
Dari sejarahnya, M-71 Soltam adalah meriam howitzer tarik (towed howitzer) kaliber 155 mm yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan Israel, Soltam Systems.

M-71 Soltam adalah meriam howitzer tarik (towed howitzer) kaliber 155 mm yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan Israel, Soltam Systems. Pengembangan M-71 Soltam dimulai pada tahun 1970-an sebagai evolusi dari howitzer Soltam M-68 yang lebih tua. M-68 memiliki laras sepanjang 33 kaliber, tetapi Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dan pasar ekspor menginginkan jangkauan yang lebih jauh.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Soltam Systems kemudian merancang M-71 dengan laras yang lebih panjang, yaitu 39 kaliber. Laras yang lebih panjang ini memungkinkan peluru ditembakkan dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga jangkauan tembaknya meningkat secara signifikan.

Meskipun howitzer swagerak (self-propelled) seperti M-109 sudah populer, M-71 menawarkan alternatif yang lebih murah, lebih mudah dipelihara, dan dapat diangkut dengan pesawat kargo besar, menjadikannya pilihan menarik bagi banyak negara. Setelah pengembangannya selesai, M-71 Soltam mulai digunakan pada tahun 1975 oleh Angkatan Bersenjata Israel (IDF).
Bicaca kinerja, M-71 Soltam punya jangkauan tembak 23,5 km bila menggunakan amunisi standar, dan 30 km bila menggunakan amunisi dengan Rocket-Assisted Projectile (RAP). Yang disebut terakhir adalah I jenis amunisi artileri khusus yang memiliki motor roket kecil di bagian belakangnya. Motor ini menyala setelah proyektil ditembakkan dari laras meriam, memberikan dorongan tambahan yang signifikan sehingga proyektil dapat terbang lebih jauh dibandingkan amunisi standar.
Dalam kondisi ideal, M-71 Soltam dapat menembakkan 4 kali per menit (selama 3 menit pertama).Laju tembak yang dapat dipertahankan dalam periode yang lebih lama adalah sekitar 1 hingga 2 tembakan per menit.
#Thailand 🇹🇭
Some pictures showing the RTA’s Soltam M-71 towed howitzers located in an unknown base, ready for activation.
— T-55AM1 (@T_55AM1_) August 4, 2025
Nah, empat negara di Asia Tenggara pengguna M-71 Soltam adalah Filipina (20 unit dioperasikan Angkatan Darat dan 6 unit diopersikan Korps Marinir), Thailand (32), Singapura (38) dan Myanmar (72).
Varian M-71 Soltam yang paling dikenal dan disebut sebagai yang paling maju adalah M-71S, yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) bersama dengan Singapore Technologies (ST) Kinetics. M-71S merupakan versi modifikasi dari M-71 standar yang memiliki beberapa peningkatan signifikan.
Pengingkatan pada M-71S Soltam mencakup adopsi mesin APU yang lebih canggih, memungkinkannya untuk melakukan perpindahan jarak pendek di medan tempur tanpa harus ditarik oleh kendaraan. Kemudian desain M-71S mengurangi jumlah kru yang dibutuhkan untuk mengoperasikan howitzer, meningkatkan efisiensi. Howitzer ini memiliki sistem diagnostik untuk memantau performa dan mendeteksi kerusakan, memudahkan pemeliharaan. (Bayu Pamungkas)


