Korvet KRI Fatahillah 361 Lawan Sukhoi Su-27/Su-30, Inilah Deretan Senjata yang Bisa Digunakan

Di awal kedatangannya dari Belanda, yaitu pada awal dekade 80-an, korvet Fatahillah Class tergolong kapal perang modern. Namun, seiring waktu berjalan, sistem elektronik, navigasi dan persenjataannya sudah terbilang usang. Dari aspek sistem elektonik dan navigasi, memang telah mengalami program upgrade. Tapi sebaliknya sistem senjata di korvet ini tidak mengalami upgrade sama sekali, bahkan perannya sebagai korvet pengusung rudal anti kapal (MM38 Exocet) telah dihapus sejak lama.
Baca juga: Mungkinkah Korvet Fatahillah Class Dipasangi Kanon Reaksi Cepat dan Rudal Hanud?
Meski ada sejumlah keterbatasan, korvet Fatahillah Class masih punya kemampuan lawan serangan udara. Dalam kondisi tidak dibekali kanon reaksi cepat dan juga tidak dilengkapi rudal hanud (pertahanan udara), lantas apa yang dapat digunakan awak korvet Fatahillah Class dalam menghadapi serangan udara, khususnya dari jet tempur?
Dikutip dari koarmada2.tnial.mil.id, pada Selasa (25/8/2020) di Dermaga Breakwater Lantamal VI Makassar, digelar serial latihan kerjasama taktis dengan jet tempur Sukhoi TNI AU dari Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin Makassar. Dalam latihan tersebut, prajurit KRI Fatahillah 361 dengan sigap segera menempati pos tempur masing masing begitu mendengar tanda peran tempur bahaya udara dibunyikan. Aksi para prajurit ini dilanjutkan dengan aksi tempur dalam menghadapi serangan udara meliputi tracking sasaran udara sampai dengan pengarahan meriam pertahanan udara ke sasaran. Latihan juga diisi dengan komunikasi taktis antara KRI Fatahillah 361 dengan pesawat Sukhoi.

Kembali ke pertanyaan di paragraf kedua, dengan sasaran berupa Sukhoi yang harus dihadapi dengan tracking manual, maka jenis senjata yang potensial untuk melawan serangan jet tempur yaitu dengan menggunakan kanon Bofors L/70 40 mm. Kanon Bofors/Breda ini dapat memuntahkan 240 proyektil dalam satu menit. Bofors L/70 mampu menghantam sasaran secara efektif di udara hingga jarak 3.000 meter. Sedangkan jarak tembak maksimum secara teori dapat mencapai 12.500 meter. Untuk kecepatan luncur proyektil mencapai 1.021 meter per detik. Kanon ini ditempatkan pada buritan (belakang) kapal.
[the_ad id=”12235″]
Senjata lain yang potensial digunakan adalah kanon Rheinmetall Rh202 kaliber 20 mm pada sisi lambung kanan dan kiri. Jarak tembak efektif kanon ini mencapai 2.000 meter, sementara kecepatan tembaknya 880 sampai dengan 1.030 proyektil per menit. Menyasar sasaran, kecepatan luncur proyektil ada di rentang 1.045 meter per detik, 1.100 meter per detik dan 1.1050 meter per detik. Jenis munisi yang dapat dihantarkan terdiri dari HE-T/AP dan APDS-T.

Masih ada lagi senjata yang bisa menghadapi Sukhoi, meski tak ideal, karena gerakan kubah dan laras lambat, yaitu meriam utama Bofors 120 mm. Jangkauan tembak meriam ini bisa mencapai maksimum 18.500 meter dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28.
[the_ad id=”12235″]
Bofors 120 dapat memuntahkan proyektil dengan hulu ledak HE (high explosive) seberat 21 Kg, dengan bobot total per amunisi mencapai 35Kg. Kecepatan luncur proyektilnya ditaksir mencapai 800 meter per detik. Sadar bahwa ini adalah meriam kapal, dan pastinya bakal sulit untuk menentukan target tembak di laut yang bergelombang, maka di meriam ini dilengkapi gyro-stabilized.

Walau ada titik lemah, pada dasarnya korvet buatan Wilton-Fijenoord, Belanda ini sudah dirancang untuk mengantisipasi serangan dari rudal anti kapal dan rudal udara ke permukaan yang diluncurkan dari pesawat tempur.
Baca juga: Ternyata Ada Yang Beda Pada Kanon Bofors L/70 40mm di Korvet Fatahillah Class
Dari spesifikasi, Fatahillah Class dilengkapi 2 x Knebworth Corvus 3-tubed launchers. Persisnya Knebworth Corvus launchers adalah sistem pengecoh rudal berupa peluncur chaff yang diproduksi Vickers Ltd Shipbuilding Group. Dalam modusnya, Chaff dispenser yang diluncurkan dari roket akan membentkuk ‘perisai’ di sekitar kapal. Sistem ini terdiri dari two multi-barrelled rocket launchers, panel kendali penembakkan, dan chaff (radar countermeasure). (Gilang Perdana)



Jadi teringat tradisi percakapan komandan kapal menjelang tenggelam:”Prajurit! Saya bangga berjuang bersama kalian, sayonara!”
di salvo 5 rudal anti kapal dari sukhoi udah merem melek nih komandannya
Bener bener seperti dibawah garis kemiskinan melihat persenjataan kapal ini .. manual .. kenapa ga dibesi tuakan aja sekalian
Miris baca artikel ini….
Jangan lupa bawa ketapel
Ini sudah sangat bagus, masih ada dana buat latihan, kasih semangatlah kasihan para prajurit laut kita, paling tidak masih ada kerjaan supaya bisa terima gaji, urusan perang mah ndak usah dipikir, kalau terpaksa rakyat jelata pun mampu perang jadi prinsip masih ada kapal yang bentuknya seperti kapal perang walau mungkin dah ndak ada efek pertahanan nya (jangan bicara menghancurkan lawan yang masuk, impossible).
…Tetap Semangat..dan Semangat Terus….
Coba bofors L/70 40mm nya dicabut. Gantikan dengan dua dudukan Mistral simbad RC dikiri dan kanan.
Rudal diganti dengan mm40 block 3, kemudian sensor radar menyesuaikan.
Body diperkuat.
Kirim 33 nya ke Natuna. DAya deterans nya setara bung Tomo sama Diponegoro class.
Inilah kenapa KRI Fatahillah gak dipasangin rudal lagi https://www.indomiliter.com/inilah-alasan-korvet-fatahillah-class-belum-dipasangi-rudal-anti-kapal-lagi/
Harusnya tetap dipasang kayak KRI OWA yg dipasang Yakhont. Ntar Korvet Kelas KRI Fatahillah dipasang Minuteman aja biar greget.
Iya bung sekalian untuk sistem pertahanan dipasangi THAAD…
Bisa kok, pasang aja di hanggar kayak Grad yg dipasang di LST dulu.
Link itu mungkin lantaran admin lupa kalo usia Fatahillah class 1~2 dekade lebih muda dari van speijk class 🤷
Cuma di negara ini korvet ngga di bekali rudal permukaan-ke-udara dan hanud. Padahal saat korvet ini tiba di Indonesia.. Persenjataannya sangat mumpuni pd jamannya. Dg rudal Exocet M-38, torpedo dan kanon yg tergolong paling gahar dg kaliber 120 mm. Stlah d upgrade malah jd inferior.
Banyak kok korvet di Eropa yg hanudnya ngandelin kanon aja..
Menurut Sipri.com tni al punya 100 rudal C705… dan 50 rudal C802…. kenapa Tidak Dipasang di korvet fatahilah class….??!
hmm.. nh korvet secara performa msh oke nh tgl nunggu kputusan DPR ama Pak Menhan klo mau ditambah persenjataan.y, tp I lbih sreeg nh kpal ckup diisi torpedo Back Shark, CAMM (Jika muatan.y ckup dan tdk overload) atw Aster 30, RBS atw Excocet Block III atw Tomahawk (jika mampu) sgtu jga ckuplah bwat fight dan jdi kapal duet breng KCR-60 dan 40
Mendengar berita ini jadi miris dan sedih, jaman sekarang lawan jet tempur pakai kanon lama. Kalau mau latihan beneran ya nembak Banshee Drone pakai kanon dan Meriam. karena pesawat tempur akan menembakkan rudal dari jarak ratusan / puluhan kilometer. Nggak perlu mendekat belasan Km.
Tapi ya sudah lah wong kapal ini tidak ada rusal SAM nya, apalagi rudal SSM sudah dilepas. cukup lah 3 kapal Fatahillah untuk latihan kadet2 calon AL.
Itu maksudnya lawan sepadan bagi Sukhoi ya korvet Fatahillah class ini sebab Sukhoi itu badannya kegedean hingga mudah ditembak.
kalau ingin yg mudah latihan tembaknya pakai pesawat bermesin turboprop ataupun helikopter dan suruh pilotnya utk terbang dgn kecepatan yg tdk terlalu tinggi.kalau pakai sukhoi mahal biaya operasionalnya knp tdk pakai F 16 saja.
Klo pakai F-16 ga bisa lama, klo pakai crt ya makin ga relevan… Klo pakai Sukhoi kan bisa suruh muter2 sampai yg dikapal puas…
Biaya operasional mahal kok cuman buat muter-muter doang?? Gak pake UAV aja??? Lebih tahan lama sama lebih irit lagi.
Mungkin, biar ngga seperti latihan di Iran, yang ga sengaja nembak rudal beneran
Ya kalau mau murah pakai balon saja… Lagian dari matra laut dan udara berarti itu latihan gabungan… Kerjasama antar matra… Hla kok mikirnya maunya yang murah melulu…
Kan ada UAV, Napa pake Plangker.
Namanya juga lagi menghibur diri om, padahal baca beritanya sedih2 gimana gitu
Ya ngga tahu lah… Itukan programnya TNI AL dan TNI AU… Mau pakai apa saja pasti sudah diperhitungka… Mau pakai Flanker apa Falcon ya ga masalah yg penting mereka berlatih beneran…
Oh, jadi bukan karena berkelas kan Bung Yuli???
karena melibatkan Sukhoi jadinya latihan berkelas… coba kalau yang dilibatkan Tucano atau T-50… atau F-16 sekalipun, tetap saja bakalan lebih berkelas kalau yang dilibatkan Sukhoi
Itu ambigu Bung Yuli, kalo buat latihan pertahanan jarak pendek, kenapa gak pake UAV aja yg murah dan lebih tahan lama? Bahkan ada yg bisa dijadikan sasaran penembakan. Kalo acuannya senjata yg dibawa pespur kenyataannya skenario yg dibuat gak membutuhkan itu. Lalu apanya yg berkelas???
Aslinya buat skill aja, agar Insting nya akurat.
kalau buat pertempuran sungguhan sama dengan bunuh diri,
Lihat saja Video TNI-AD dibawah ini, 1000 peluru ditembakkan dari gabungan 12 penembak 23mm 40mm dan 57mm baru bisa menjatuhkan 1 drone lambat 150-km/jam
Apalagi jatuhkan Pesawat Jet dan Rudal, mimpi basah disiang bolong.
CIWS Skyshield dan MIllenium Gun adalah pilihan tepat karena mampu menciptakan dinding peluru seketika dengan peluru AHEAD nya
Becanda nih…. mana mbidik sasarannya msh pakai pisir laba2 pula….
Dulu latgab 2008, nembak balon target yg cm melayang-layang d udara aja gak ada kena…..
Nembak target balon itu terlalu susah mas.
Yang mudah ya ini si Sukhoi, badan gede dan berat.
Kalo balon itu kecil dan ringan.
Lagian Sukhoi dikecepatan bawah tetap bisa stabil, sehingga bisa cocok untuk latihan… Belum dari segi ferry rangenya… Dari segi kualitas latihan jelas lebih berkelas kalau tandem nya Sukhoi, dibandingkan kalau tandem nya pesawat capung…
Pespurnya masih pake dopler cuman menang di manuver terus apanya yg berkelas??
Oh berkelas ya?
Berarti secara tersirat Yuli bilang Sukhoi itu sekelas korvet ya?
Brarti kalo sekelas korvet artinya Sukhoi nggak strong dong.
Ya brarti lawan sepadan bagi korvet adalah Sukhoi.
Jadi Sukhoi nggak brani sama fregat dan destroyer, bisa kena timpuk dan benjol2 kepala si sukhoi.
Yang brani hadapin fregat dan destroyer itu adalah F16. Mau bukti?
https://www.google.com/amp/s/kupang.tribunnews.com/amp/2020/05/19/pesawat-tempur-tni-berani-instersep-kapal-perang-china-masuk-nkri-ini-kecanggihan-fregat-jiangkai
Ternyata Yuli ngaku kalo Sukhoi sekelas korvet, jadi buat apa beli Sukhoi lagi khan korvet kita sudah banyak!
Wuihhh… Terus maunya berlatih sama apa bung Agato??? Sama F-35??? Sukhoi pespur kelas berat yg dimiliki Indonesia, makanya latihan ya jadi berkelas…
@Bung TN, apa hubungannya??? Yang ditempatkan di wilayah barat Indonesia itu F-16, masak ya mesti ngirim Sukhoi dari skuadron 11 dari Makasar??? Lagian kalau apa2 mesti Sukhoi yang maju, nanti semakin inferior dong fungsi pesawat lain, kan masih ada F-16 dan T-50i juga…
Lha itu udah terbukti Sukhoi lawannya korvet berarti Sukhoi sekelas korvet. Sedang F16 intercept Fregat berarti F16 sekelas fregat. Jadi F16 lebih unggul daripada Sukhoi sebagaimana fregat lebih unggul daripada korvet. Jadi buat apa beli Sukhoi lagi?
Trus Fregatnya kabur ngga??? atau cuek lewat doang???
Mantap jiwa ! Hajar bleh ! Segera kerahkan KRI Fatahillah ini ke LCS utk membuat musuh kita di sana menjadi gentar dan merinding. Ibarat kata pepatah : “Kelapa tua tentunya santannya semakin kental.” Laksanakan ! Bravo !
Benar2 latihan yang tidak masuk akal…tapi ya udahlah wong namanya latihan
Keterlaluan ,,, mosok canon hrs melawan pespur yg kecepatannya bisa mencapai 2 mach. Mimpi kali yeee ,,, gmn niy pak Menhan? Kapal ini cuma modal canon aja, lbh baik dijadikan kapal patroli ,,, mosok kapal tanpa persenjataan canggih ini dijadikan “Straicking Force”?
Kasihan itu Korvet. Udah waktunya diganti ama KCR 60 atau Sigma. Banyakin FPB, pasang pake Mistral buat PSU sama Rudal ASMnya diganti aja Ama RBS 15 Mk3
sama aja KCR-60 juga masih tak karuan persenjataannya, kalau caranya seperti ini mending beli bekas, jauh lebih komplit siap pakai dari KCR-60
KCR udah dipasang 2-4 biji C-705. Itu udah lebih dari cukup kalo lawannya negara ASEAN. Kalo lawan China minimal diganti RBS 15 MK 3 atau 4, JSM, Brahmos/Yaknont atau AGM-158 JASSM. Beli bekas cuman nambah beban aja, beda kalo yg dibeli pespur bekas dg kemampuan serangan anti kapal permukaan.
Bisa tau radarnya pakai apa om ? dan berapa jaraknya ?
Nih radarnya https://www.indomiliter.com/terma-scanter-4603-radar-intai-udara-dan-permukaan-untuk-kcr-60m-sampari-class/
Jangkauan deteksinya sampe 96 nm atau sekitar 177 km. Kalo pake UAV scan eagle bisa lebih jauh lagi jangkauan deteksinya.
Coba om cari foto terakhir KCR-60, apakah ada radar itu ? atau hanya di brosur saja
https://www.indomiliter.com/terma-scanter-4603-radar-intai-udara-dan-permukaan-untuk-kcr-60m-sampari-class/
Tuh, sisanya cari sendiri ya.
Btw KRI Fatahillah hanyalah kapal latih dalam keadaan mendesak sangat mungkin dipersenjatai dengan rudal SAM jarak sedang maupun rcws kayak reinmethal milennium gun
Pilot Sukhoi tentu tidak akan bodoh menyerang dari jarak dekat dengan menjatuhkan bom bodoh untuk menenggelamkan kapal cukup dengan menembakkan rudal anti-kapal baik tinggal maupun salvo dari jarak aman maka korvet fatahillah dipastikan jadi rumpon di dasar laut.
Aku punya tetangga TNI-AL, kata dia setiap hari latihannya ya seperti itu, pakai artileri PSU.
dia juga tahu kalau cara seperti itu tak ada gunanya dan sangat konyol dalam perang modern jaman sekarang.
tapi bagaimana lagi tak ada pilihan, yang penting dia digaji itu saja titik alias pasrah saja.
Aku mendengar cerita prajurit TNI-AL itu hanya bisa ngelus dada saja sangat amat prihatin
Tambahan : untuk menghemat peluru yang “mahal” latihannya hanya bidik saja, dan…bum..bum…bum…bunyi pakai mulut.
Jadi para prajurit sebelum latihan wajib minum dulu, agar tenggorokan tidak serak.
Sedih juga ya, latihan nembak pesawat tanpa senjata saja pasti susah, apalagi kondisi genting.
Alhamdulillah ,kit jdam dari Amerika untuk TNI AU sudah tiba di lanud Iswahjudi Madiun
the real standar minimum essential forces
iya bang. benar-benar minimum…
Ya udah pasang roket Rhan 122 mm aja dibekas dudukan MM 38 Exocet itu .. lumayan buat bantu – bantu Marinir sebelum mendarat !
tracking manual….?!?
😁😁😁
darto = radar moto
Aneh bener yang komen netizen +62 ini. Knp yg di salahkan TNI nya klu strategi dan doktrin pertempuran dan alutsista yg di pake jadul dan secara kualitas jauh dr standart pasukan modern. Lah tuh TNI mw dr matra apa pun klu di fasilitasi pst maunya alutsista kelas 1 krn itu minimal bs menjamin keselamatan nya dlm bertugas dan menjadi kan personilnya tentara yg modern dan profesional. Akan tetapi si karenakan keterbatasan anggaran yg di berikan ya mau tdk mau mereka hrs trima kondisi yg ada. Mereka hrs latihan dgn alutsista yg ada agar ttp profesional walaupun ga MODERN. Klu TNI kita bener2 “BENER2 DI BWT SPT UTK TDK MELUPAKAN SEJARAHNYA YAITU DIDIRIKAN DGN SEGALA KETERBATASAN YG ADA SELAMA PERANG MEREBUT KEMERDEKAAN DAN KEMBALI DGN SEGALA KETERBATASAN NYA WALAUPUN TELAH 75 TAHUN KITA MERDEKA”.
WASSALAM …
Menembak pesawat dng kanon atau meriam hanyalah salah satu pilihan, pilihan lainnya bisa menggunakan MANPADS.
Sukhoi nya berapa biji, dan gotong apa?
gak gotong apa-apa.
karna cuman latihan doang..
Kalo VIETNAM mampu dan bisa meng UPGRADE korvet POHANG ex korea dgn RUDAL SSM KH55 napa yg ini nggak bisa ???? KENAPA SIH TNI AL NGGAK SEPENUH HATI KALO UPGRADE KAPAL !!!!!!??????? Gue cuman bisa ” NGELUS DODO”
MESAKKE PELAUT2 KITA….
GANDENG PT LEN dan PINDAD tuk memordenisasi persenjataan kapal2 kita !!! JAMANnya uda ELEKTRO MAGNET GUN, HIPERSONIC dan LASER tapi kapal2 kita masi make ”OTOT” !!!!
Mesakke rek !!!!
Harusnya MAIN GUNnya 120MM di pindahkan ke LPD LPD KITA buat SHORE BOMBARDMENT pas marinir kita beaching. 76MM lebih cocok tuk AA GUN
ADA YANG TAU KALO ”BOFORS ASORCnya” masi jalan di kapal ini ????? Kalo da mati bisa di sulap buat ”SADRAL MISSILE SYSTEM” atau 40MM MK4.
Pak Bowo tolong DI RAPIHKAN sistem persenjataan TNI AL paaak !!!
Menghadapi Pesawat tempur skrng sdh pake rudal jarak jauh atau sedang..apa msh relevan penggunaan Canon dan Meriam yg jarak tembak terbatas dan akurasinya yg kurang tepat..
Mau ketawa tapi kok negara sendiri…tapi kok kebangeten sekali..skenario diatas itu skenario PERANG DUNIA 1 dan 2..wkwkwk
Jaman sekarang itu musuh kapal korvet keatas adalah Rudal anti kapal…jadi untuk menghalaunya jelas adalah CIWS dan Rudal SAM juga.
Yo wis lah TNI…sak karepmu wes..bosen aku.
Tenang pak, itu BKN skenario sebenarnya kok, kalau bapak dan rekan2 lain yg bkn dr militer sj paham, aplagi KAMI..ini mah bisaan si punya blog aja bikin artikelnya biar gak ngantuk yg bacanya🤭
Begini maksudnya dek.
Jaman sekarang CIWS kaprang sdh pada canggih2 dek. Dan dimasa datang lg musimnya loyal wingman yg bisa jg dijadikan eksekutor utk menghancurkan kaprang dlm suatu peperangan. Sang loyal wingman kan sekarang diciptakan utk tdk kalah gesit dng pespur induknya..
Skenario itukan dibuat jika rudal anti kapal yg dibawa pespur musuh berhasil dirontokan oleh CIWS kaparang yg ssh semakin canggih. Nah yg terjadikan loyalwingman yg jadi tumbal utk melakukan aksi penghancuran diri ke kaprang musuh. Jd skenario itu utk menghadapi drone bunuh diri yg merangkap tugas sbg loyalwingman pespur utamanya yg kehabisan rudal.
Tp yg perlu dek joko ketahui mengapa TNI AL memilih Sukhoi sbg lawannya.
Ada 2 alasan dek.
Alasan pertama krn Sukhoi buatan Rusia itu Strooonggg Bingit.
Alasan yg kedua manuver Sukhoi sangat lincah banget, berarti tingkat kesulitannya tinggi utk ditaklukan.
Beda kalo yg diajak duel si Botak Elang, gak akan ada geregetnya. Krn sangat mudah ditaklukkan bagai nepuk lalat saja sdh gitu lalat yg hijau pula yg diperutnya banyak setnya. Gitu lah dek kira2 ngibulnya.
Eh, Dhek Rukimin lagi ngetroll ya. Kirain mau jelasin konsep perang udara modern, eh malah nyombongin pespur lawas pake dopler. Kena hajar AMRAAM elang botak bisa kelar tuh Plangker.
Wong ciws udah mau di ganti sistem pertahananan laser
Yg kamu maksud loitering ammunition kali
Loyal wingman disuruh kamikaze ya kemahalan cuk
Yg namanya perang gak ada hitungan mahal murah ya dek. Ini jng disamakan dng dagang telormu ya dek.
Mahal mana ngorbankan loyal wingman dibandingkan dng keberhasilan menenggelamkan kaprang musuh dek. Begitu cara mikirnya dek. Jng cara mikir jualan di pasar dek
Loh boss klo loyal wingman.y yg gagal kamikaze tuh gmna boz, klo seandai.y trtembak peluru ? apa ngga merugikan reputasi loyal wingman itu sndri ?
Lho itu kan memaksimalkan inventory yg ada. Mmg yg boleh latihan hanya yg baru dan kinyis2 doang?
Dikira sukhoi mau kamikaze kali
Kirim2 perwira2 muda belajar ke akademi2 militer negara sahabat
uwis bayar pajak urung cak?
Udah waktunya diganti ama FPB 60 atau Sigma aja.