Hari Ini 56 Tahun Lalu, Prototipe Pembom Strategis Tupolev Tu-22M Backfire Terbang Perdana

Mungkin tak banyak yang mengetahui, bahwa hari ini 56 tahun lalu, bertepatan dengan 30 Agustus 1969, dikenang sebagai momen penerbangan perdana prototipe pembom strategis Tupolev Tu-22M Backfire, yang sampai saat ini dalam varian yang dimodernisasi, tetap menjadi andalan serangan udara jarak jauh Rusia.
Baca juga: Gunakan Rudal Anti Kapal Kh-22, Pembom Tupolev Tu-22M Hantam Basis Ukraina di Pulau Ular
Prototipe awal yang disebut Tu-22M0, terbang perdana dari Zhukovsky Flight Test Center (dekat Moskow, pusat uji coba penerbangan Soviet). Sebagai pilot uji saat itu adalah Vladimir Ilyushin (putra dari desainer pesawat Sergey Ilyushin, pembuat pesawat Il-2 dan Il-76). Dari hasil penerbangan perdana, kinerja pesawat dinilai cukup sukses, tapi ada banyak perbaikan sebelum masuk produksi penuh.
Sementara, latar belakang pengembangan Tu-22M adalah karena banyaknya masalah pada Tu-22 Blinder, yang dikenal dengan aerodinamika buruk, dengan mesin ditempatkan di ekor yang susah dikendalikan, jarak tempuh dan payload tidak memadai untuk peran bomber strategis, dan maintenance rumit dan accident rate tinggi.
Maka pada tahun 1965, Tupolev OKB mengajukan desain yang awalnya disebut Tu-22M hanya untuk menyamarkan seolah “versi upgrade”, agar proyek lebih mudah disetujui pemerintah Soviet (karena setelah Tu-22 yang bermasalah, Kremlin sempat ragu). Namun, kenyataannya, desainnya baru total, seperti sayap sapuan berubah menjadi sayap variable geometry (swing wing), mirip F-111 dan B-1 Lancer, kemudian mesin dipindahkan ke akar sayap (bukan lagi ekor). Desain ini dimaksudkan untuk menjadi bomber jarak jauh supersonik dengan kemampuan nuklir maupun konvensional.

Setelah penerbangan perdana, pada tahun 1971 diluncurkan Tu-22M1, dengan perbaikan aerodinamika, sekitar 9 unit dibuat. Berlajut di tahun 1973, diluncurkan varian Tu-22M2, yang menyiratkan varian produksi besar pertama, sayap lipat variabel dengan mesin NK-22, dengan jumlah sekitar 200 unit.
Dan paling banyak diproduksi adalah varian Tu-22M3, yang diluncurkan pada tahun 1976 dan operasional di tahun 1983. Varian ini menggunakan mesin NK-25, kemampuan Mach 2+, jangkauan lebih jauh, avionik lebih modern. Varian ni yang paling banyak diproduksi dan masih aktif hingga kini di Rusia.

Terlahir di era Perang Dingin, maka Tu-22M dirancang untuk misi serangan nuklir strategis (target Eropa, Asia, bahkan AS bila dengan tanker), anti-kapal (naval strike) dengan rudal Kh-22 (AS-4 Kitchen) dan konvensional (bom bebas dan rudal jelajah).
Pasca bubarnya Uni Soviet, sebagian besar Tu-22M3 diwarisi Rusia, beberapa sempat di Ukraina, Belarus, dan Kazakhstan (kemudian dipensiunkan atau dihancurkan karena perjanjian START). Berdasarkan START I dan kesepakatan Nunn–Lugar Cooperative Threat Reduction (CTR), banyak Tu-22M3 Ukraina dihancurkan dengan bantuan dana Amerika Serikat (agar tidak jatuh ke tangan lain).
Beberapa unit utuh dan mesin dipulangkan ke Rusia lewat barter gas alam (Ukraina butuh pasokan energi, Rusia butuh bomber untuk suku cadang dan perpanjangan umur). Antara tahun 1999–2000, sekitar 8 pesawat Tu-22M3 dan 40 mesin NK-25 dikirim ke Rusia. Sebagai gantinya, Rusia mengurangi utang gas Ukraina.
Belarus dan Kazakhstan juga sempat mewarisi jumlah kecil Tu-22M setelah bubarnya Soviet. Namun tidak lama dipakai, kemudian dikembalikan atau dihancurkan sesuai perjanjian internasional.
Tu-22M3M
Varian terbaru dan tercanggih, Tu-22M3M bukan pesawat baru dari nol, melainkan program upgrade/modernisasi dari armada Tu-22M3 yang sudah ada. Rusia saat ini punya sekitar 100 unit Tu-22M3 aktif. Alih-alih bikin baru (biaya besar dan lini produksi sudah tutup sejak akhir 1990-an), mereka pilih upgrade bertahap.
Kecelakaan Fatal pada Kursi Pelontar Pembom Tu-22M3 Backfire, Tiga Awaknya Tewas
Program Tu-22M3M diumumkan 2018 dengan targetnya sekitar 30 unit dimodernisasi hingga 2030, Proses dilakukan di Kazán Aircraft Production Association (KAPO), pabrik yang juga merakit Tu-160.
Upgrade utama dari Tu-22M3 ke Tu-22M3M adalah pemasangan avionik baru, kokpit digital, sistem navigasi satelit GLONASS, radar baru. Sistem senjata dirancang kompatibel dengan rudal jelajah terbaru (Kh-32, Kh-47M2 Kinzhal hipersonik). Sistem komunikasi dan EW dibuat setara dengan upgrade Tu-160M.
Unruk mesin masih menggunakan NK-25, tapi dengan peningkatan umur pakai & perawatan. Jadi, basis pesawat tetap Tu-22M3 lama, hanya di-“reset” dengan teknologi modern supaya bisa dipakai 15–20 tahun lagi.
Air refueling
Tu-22M2 dan varian awal Tu-22M3 sebenarnya dilengkapi dengan probe untuk inflight refueling (IFR). Namun, pada 1980-an, atas perjanjian pengendalian senjata SALT (Strategic Arms Limitation Talks) II, sebagian besar probe itu dicabut agar Tu-22M dikategorikan bomber regional, bukan strategis. Artinya secara teknis bisa, tapi dalam praktik operasional, kebanyakan Tu-22M3 sekarang tidak dilengkapi probe.
Pada program upgrade Tu-22M3M (diperkenalkan 2018), kemampuan aerial refueling dipulihkan kembali.

Secara umum, kapasitas muatan total Tu-22M sekitar 24.000 kg senjata, terdiri dari internal (bomb bay) hingga 12.000 kg, dan eksternal (underwing & underfuselage pylons) hingga 12.000 kg tambahan. Biasanya digunakan untuk rudal besar seperti Kh-22 (AS-4 Kitchen) atau versi modernnya Kh-32, serta kombinasi bom dan rudal anti kapal.
Jangkauan Tu-22M tergantung muatan, kecepatan, dan apakah menggunakan air refueling. untuk Fferry range (tanpa payload, dengan full fuel) – 6.800 km, combat range (dengan payload standar) 2.200 – 2.500 km, dan maksimum range hingga 4.000–5.000 km. (Gilang Perdana)
Untuk Pertama Kali, Terkonfirmasi Jatuhnya Pembom Strategis Tupolev Tu-22M3 Backfire


