Dua Jet Tempur Hornet Jatuh di Hari yang Sama, Dongkrak Reputasi Martin-Baker America

Insiden jatuhnya dua jet tempur Hornet dalam satu hari, yakni F/A-18D di Malaysia dan F/A-18E di Virgnia, AS, rupanya memberi efek positif pada manufaktur kursi lontar (ejection seati), pasalnya dari dua insiden tersebut, semua awaknya berhasil menyelamatkan diri berkat kursi lontar.
Berdasarkan informasi dari produsen dan dokumen teknis terkait, baik F/A-18D Hornet maupun F/A-18E Super Hornet menggunakan jenis kursi lontar yang sama, yaitu Martin-Baker NACES (Navy Aircrew Common Ejection Seat). Kursi ini secara spesifik dikenal dengan kode SJU-17A atau sering disebut juga Mk14 (NACES).
Kursi lontar ini dirancang sebagai kursi “zero-zero”, yang berarti dapat melontarkan pilot dengan aman bahkan dari ketinggian nol (di darat) dan kecepatan nol. Penggunaan kursi lontar yang sama adalah salah satu contoh dari banyak komponen yang umum digunakan (commonality) antara “Legacy Hornet” dan “Super Hornet” untuk mengurangi biaya pengembangan, produksi, dan pemeliharaan.
Produsen kursi lontar tersebut adalah perusahaan Martin-Baker Aircraft Company Limited, yang berasal dari Inggris. Namun, untuk mendukung program-program pengadaan di AS, seperti untuk F/A-18 Hornet dan Super Hornet (terutama NACES), Martin-Baker mendirikan anak perusahaan bernama Martin-Baker America, Inc. (MBAI) pada tahun 1986.

Perusahaan ini awalnya berada di Virginia, kemudian pindah ke fasilitas baru di Johnstown, Pennsylvania. Martin-Baker America bertanggung jawab untuk memproduksi komponen, perakitan, serta menyediakan layanan pemeliharaan dan perbaikan (MRO) untuk kursi lontar di Amerika Serikat dan Kanada.
Berdasarkan informasi yang tersedia, Martin-Baker America, Inc. (MBAI) memproduksi kursi lontar untuk Kursi Lontar F-35 Joint Strike Fighter, F/A-18 Hornet dan Super Hornet, jet latih T-38 Talon dan pesawat COIN T-6 Texan II. Selain juga memproduksi kursi tahan benturan (crashworthy seats) dan kursi misi (mission seats) untuk helikopter CH-53E, UH/HH-60M Black Hawk, MH-47G Chinook dan Boeing P-8 Poseidon.

F/A-18 A/B/C/D Hornet (versi lama atau Hornet classic) awalnya menggunakan kursi lontar Martin-Baker Mk.10 (dengan sebutan AS SJU-5/6). Namun, pada produksi terbaru dari model C/D, kursi tersebut diganti dengan SJU-17 NACES.
F/A-18 E/F Super Hornet yang lebih modern ini secara standar dilengkapi dengan kursi lontar SJU-17 NACES. Program NACES (Navy Aircrew Common Ejection Seat) sendiri memang dirancang untuk menyediakan kursi lontar yang seragam untuk berbagai pesawat Angkatan Laut AS, termasuk F/A-18E/F dan F/A-18 C/D (produksi akhir).
Sejarah Panjang “Martin Baker” dan Uji Coba Kursi Lontar Perdana Pada 24 Juli 1946
Keunggulan atau ciri khas utama dari kursi lontar SJU-17 NACES selain kemampuan “zero-zero” adalah sistemnya yang canggih dan terkomputerisasi. Kursi ini adalah salah satu kursi lontar pertama yang menggunakan sistem sekuenser elektronik yang dikontrol oleh mikroprosesor. Ini memungkinkan kursi untuk menganalisis parameter seperti ketinggian, kecepatan udara, dan sikap pesawat secara real-time untuk mengoptimalkan urutan lontar.
Berkat sistem sekuenser digitalnya, NACES memiliki lima mode operasi terpisah yang secara otomatis menyesuaikan diri dengan kondisi penerbangan, memastikan pilot dilontarkan dengan aman dalam skenario yang berbeda, baik di ketinggian tinggi, kecepatan rendah, atau di atas air.
Dua Jet Tempur Rafale Perancis Tabrakan di Udara, Martin Baker ‘Absen’ Posting di Akun X-nya
Program P3I (Pre-Planned Product Improvement) pada NACES meningkatkan keselamatannya untuk pilot dengan bobot yang bervariasi, dari pilot yang lebih ringan hingga yang lebih berat, dengan menyesuaikan kekuatan lontar untuk mengurangi risiko cedera.
SJU-17 NACES tidak menggunakan pistol parasut tradisional. Sebagai gantinya, ia menggunakan sistem yang didorong roket untuk menyebarkan parasutnya, yang memindahkan parasut utama dari sandaran kepala ke struktur balok utama untuk pendaratan yang lebih aman. (Gilang Perdana)


