Dengan “Cut the CoRRS” Boeing Tingkatkan Produksi F-15EX, Stabilkan Pengiriman Dua Unit Per Bulan di 2026

Nama jet tempur battle proven F-15 Eagle tengah menjadi pembicaraan di Indo Pasifik, setelah jet tempur superioritas udara tersebut tengah dikerahkan di Diego Garcia, basis militer Amerika Serikat yang terletak di Samudra Hindia bagian tengah – tak terlalu jauh dari Indonesia. Dan terkait F-15 varian terbaru (F-15EX Eagle II), ada kabar bahwa Boeing akan meningkatkan produksi F-15EX.
Boeing tengah mengintensifkan produksi jet tempur F-15EX Eagle II, dengan 90 pesawat saat ini dalam proses produksi di St Louis, Missouri, yakni sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memasok kebutuhan Angkatan Udara AS. Seperti dikutip Defence Blog, disebut Boeing bertujuan untuk mencapai tingkat pengiriman yang stabil sebanyak dua pesawat per bulan pada akhir tahun 2026.
Sebelumnya, Executive Director F-15 Business Development, Boeing Defense, Space & Security, Robert Novotny dalam jumpa media di Jakarta mengatakan, bahwa kapasitas produksi Boeing saat ini adalah dua unit F-15EX per bulannya.
Peningkatan produksi terjadi di tengah laporan peningkatan efisiensi pabrik dan kendali mutu. Menurut Boeing, peningkatan operasional baru-baru ini telah menghasilkan pengurangan pengerjaan ulang dan penyesuaian tugas yang tidak direncanakan dari bulan ke bulan, yang dikenal sebagai “traveled work.”

“Kinerja pabrik telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan tingkat pengerjaan ulang dan pekerjaan yang telah dilalui menurun dari bulan ke bulan, meningkatkan produktivitas alur kerja dan mendukung stabilisasi pabrik,” kata Tom Altamuro, Boeing Director of F-15 Manufacturing and Safety.
Inisiatif internal perusahaan, yang dijuluki “Cut The CoRRS (Cost of Rework and Repetitive Scrap)” mencakup “Quality Power Hour” harian di mana tim menangani masalah produksi secara langsung untuk mencegah penundaan dan cacat.

F-15EX, yang diharapkan akan bertugas bersama pesawat generasi kelima seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor yang ditingkatkan, dilengkapi avionik modern dan arsitektur sistem misi terbuka. Pesawat ini dapat membawa hingga 12 AIM-120 AMRAAM, dengan kemampuan masa depan untuk rudal hipersonik dan persenjataan canggih lainnya.
Pesawat ini dipandang sebagai solusi yang hemat biaya dan berdaya tahan tinggi untuk kebutuhan Angkatan Udara yang terus berkembang. Desain mesin ganda, tulang punggung digital, dan kapasitas untuk integrasi perangkat lunak yang cepat memungkinkan misi jarak jauh dengan muatan tinggi yang melengkapi platform siluman.
Boeing Pesan 144 Unit Kursi Lontar ACES II untuk Jet Tempur F-15EX Eagle II
Dalam sebuah pernyataan, Boeing menekankan kemampuan beradaptasi jet tersebut: “F-15EX dibuat untuk memberikan kemampuan tempur sekarang, dengan ruang untuk berkembang seiring dengan berkembangnya tuntutan misi.” Angkatan Udara telah menerima pengiriman awal dan terus mengintegrasikan pesawat tersebut ke dalam perencanaan operasional. Dengan Cina yang memperluas kemampuan udara mereka, pejabat Pentagon telah menyatakan bahwa platform seperti F-15EX sangat penting untuk menjaga pencegahan dan kesiapan tempur.
Hingga Mei 2025, Boeing telah menyerahkan sembilan unit jet tempur F-15EX Eagle II kepada Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Lot 1 (Produksi Awal) berupa delapan unit telah dikirimkan. Enam unit ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, untuk keperluan pengujian dan pelatihan, dan dua unit (EX7 dan EX8) telah diserahkan kepada Wing ke-142 Garda Nasional Udara Oregon di Portland, menjadikannya unit operasional pertama yang menerima F-15EX.
[the_ad id=”77299″]
Lot 2 (Produksi Lanjutan): Pesawat kesembilan (EX9), yang merupakan unit pertama dari Lot 2, telah menyelesaikan uji terbang dan sedang dalam proses pengecatan sebelum pengiriman akhir.
Angkatan Udara AS berencana untuk mengakuisisi total 104 unit F-15EX. Wing ke-142 di Oregon dijadwalkan menerima total 18 unit F-15EX untuk menggantikan armada F-15C Eagle. (Gilang Perdana)



“Cut the Corrs”, istilahnya mencurigakan sekaligus familiar, kok jadi teringat proses produksi 737 Max Series ya? Yang potong sana potong sini diproses quality controlnya yang baru ketauan saat pesawat nyungsep sendiri.