Cina Pamer Drone Kamikaze ASN-301: Ancaman Baru bagi Radar AS di Pasifik Barat

Selain eksistensi rudal udara ke permukaan anti radiasi atau anti radar, maka sistem radar di permukaan mendapat ancaman baru, yakni dengan hadirnya drone kamikaze (loitering munition) anti radar. Yang dimaksud adalah ASN-301 yang baru saja ditampilkan dalam sebuah uji coba oleh Angkatan Darat Cina.
Baca juga: Bungkam Sistem Radar Cina di Pesisir, Taiwan Siapkan Armada Drone Kamikaze Anti Radiasi
Komando Teater Timur Cina telah merilis rekaman uji coba penembakan langsung yang menampilkan drone kamikaze anti-radar ASN-301, yang mengonfirmasi masuknya senjata ini ke layanan garis depan. Pengerahan senjata ini menyoroti meningkatnya kapasitas Beijing untuk mengancam jaringan radar AS dan sekutu di Pasifik Barat.
Sebelumnya ASN-301 hanya terlihat di pameran pertahanan, namun sistem ini kini telah beroperasi, dirancang untuk menargetkan dan menghancurkan pemancar radar musuh yang mendukung jaringan pertahanan udara. Uji coba yang dirilis oleh media pemerintah Cina menggarisbawahi bagaimana militer Cina mempercepat upaya pengembangan drone berpemandu presisi yang mampu melawan sistem pengawasan dan pertahanan rudal AS dan sekutu di wilayah sengketa seperti Selat Taiwan.

Video yang dirilis menunjukkan sistem peluncur ASN-301 yang terpasang di truk dan dilengkapi dengan enam tabung tabung tertutup, masing-masing mampu meluncurkan satu drone ASN-301. Peluncur tersebut tampaknya terintegrasi ke dalam rantis FAW MV3 6×6 yang dimodifikasi, sebuah kendaraan yang sudah banyak digunakan di arsenal Angkatan Darat Cina untuk mengangkut sistem artileri dan rudal.
Konfigurasi ini memungkinkan pengerahan cepat dan peluncuran salvo hingga enam drone, yang memungkinkan militer Cina untuk melakukan serangan terkoordinasi terhadap lokasi radar musuh dengan peringatan minimal dan fleksibilitas taktis yang lebih tinggi.

Dengan beberapa ASN-301 yang diluncurkan secara bersamaan dari platform bergerak, sistem radar AS dan sekutunya mungkin menghadapi serangan saturasi yang membanjiri jangkauan radar dan mengganggu kohesi komando dan kontrol selama fase awal konflik. Hasilnya dapat berupa kebutaan radar sementara atau permanen, mengurangi kemampuan peringatan dini, dan membuat target bernilai tinggi rentan terhadap serangan drone dan rudal susulan.
Berbeda dengan rudal konvensional yang diluncurkan dari udara, ASN-301 dapat tetap berada di udara untuk waktu yang lama, sehingga memaksa operator radar untuk mematikan sistem guna menghindari deteksi atau risiko menjadi sasaran. Hal ini menciptakan dilema taktis yang menurunkan integritas sistem pertahanan udara terpadu di seluruh kawasan.
China’s PLA shows batch launches of the ASN-301 anti-radiation loitering munition in a training film, the first footage simulating strikes on radar sites.
The drone is a cheap, loitering SEAD weapon meant to “blind” air-defense radars via swarm/attritable tactics. pic.twitter.com/OzHeFTxvAH
— Clash Report (@clashreport) October 27, 2025
ASN-301 dirancang khusus untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan pemancar radar aktif pada spektrum frekuensi yang luas. Dirancang untuk misi Penindasan dan Penghancuran Pertahanan Udara Musuh – Suppression and Destruction of Enemy Air Defenses (SEAD/DEAD.
ASN-301 dilaporkan dapat mendeteksi sinyal radar antara 2 dan 16 gigahertz, yang mencakup frekuensi operasional umum yang digunakan oleh radar peringatan dini dan radar pengendali tembakan. Drone ini memiliki desain sayap delta dengan baling-baling pendorong yang dipasang di belakang dan digerakkan oleh mesin piston kecil.
🇨🇳🎮 Drones take out stations
The Eastern Command of the PLA showed footage for the first time of the use of anti-radar loitering munitions ASN-301 against ground targets during maneuvers.
Launches were carried out in batches of six drones from mobile launchers.
It is… pic.twitter.com/xI0mg04hpK
— dana (@dana916) October 27, 2025
Armyrecognition menyebutkan berat ASN-301 sekitar 135 kilogram, dengan panjang badan 2,5 meter dan lebar sayap sekitar 2,2 meter. Kecepatan maksimumnya mencapai 220 kilometer per jam, dengan jangkauan operasional dilaporkan mencapai 288 kilometer dan waktu jelajah mendekati empat jam.
ASN-301 membawa hulu ledak fragmentasi berdaya ledak tinggi yang dilengkapi dengan sekering jarak dekat laser, yang menyebarkan sekitar 7.000 fragmen yang telah dibentuk sebelumnya untuk menonaktifkan antena radar, susunan sensor, dan sistem kontrol. Pencari radar-homing dilaporkan memiliki radius deteksi hingga 25 kilometer, yang memungkinkan akuisisi target akhir pada fase akhir penerbangan.
Command Center with EM Radar – Rantis Komando untuk Misi Anti Drone Korps Marinir
ASN-301 diluncurkan menggunakan mekanisme cold-launch dari tabung kanisternya, diikuti dengan aktivasi langsung mesinnya. Navigasi dilaporkan dipandu oleh sistem inersia GPS, dengan beberapa varian kemungkinan mendukung pembaruan tautan data untuk penyesuaian target saat terbang atau pembatalan misi.
Setelah diluncurkan, kendaraan peluncur dapat dengan cepat mengubah posisinya untuk menghindari deteksi baterai lawan, menjadikan sistem ini ideal untuk digunakan dalam serangan bergerak yang dikerahkan ke garis depan.
Mobile EM Radar Yonkomlek Korps Marinir – Rantis dengan Sensor Terpadu untuk Misi Anti Drone
Sistem ini dipasarkan oleh China National Aero‑Technology Import & Export Corporation (CATIC), sebuah perusahaan negara di Cina yang khusus menangani ekspor produk aviasi militer. Secara internal drone ini disebut “JWS-01” untuk penggunaan domestik, sementara “ASN-301” adalah model yang ditujukan untuk ekspor.
Meskipun CATIC memasarkan sistem ini, pengembangan teknis dan produksi kemungkinan melibatkan entitas militer/intern dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC) atau institusi riset yang berada di bawahnya, serta universitas seperti Northwestern Polytechnical University disebut terkait dalam laporan populer.
RadarZero: Tak Lebih Besar dari Laptop, Inilah Radar Intai Anti Drone
Bagi sekutu AS di Indo-Pasifik, terutama Taiwan, Jepang, dan pasukan AS yang ditempatkan di garis depan di kawasan tersebut, operasionalisasi ASN-301 menghadirkan tingkat ancaman baru bagi jaringan pertahanan udara yang bergantung pada radar. Drone kamikaze ini dapat diluncurkan dari jarak ratusan kilometer dan mampu berkeliaran dengan sabar di dekat zona yang diperebutkan hingga sistem radar aktif.
Ini berarti aset radar utama seperti kapal yang dilengkapi Aegis, platform peringatan dini udara, dan radar pengawasan berbasis darat dapat diburu hampir secara langsung. (Bayu Pamungkas)



Terkait Loitering Munitions atau drone kamikaze? Apa kabar Rajata buatan PT Dahana, proyeknya masih berjalan atau justru berhenti di tengah jalan? 🤔
sistem low cost begini indonesia butuh banget sih, beli 100 unit juga ga ada ruginya