Bersiap Perang Asimetris dengan Cina, Taiwan Luncurkan USV Kamikaze FJ-002 Mirip ‘punya’ Ukraina

Seiring meningkatnya tekanan Cina pada Taiwan, maka tak ada pilihan bagi Taiwan untuk menjalankan strategi pertahanan aktif guna meladeni kemungkinan invasi oleh Beijing. Belajar dari kasus yang terjadi di perang Ukraina, selain memperkuat aset rudal hanud, Taiwan rupanya juga telah mempersiapkan strategi untuk mengikuti pola gerilya laut ala Ukraina, yakni dengan mengerahkan drone laut permukaan – Unmanned Surface Vehicle (USV) kamikaze, seperti yang diklaim sukses dalam menghadapi Armada Laut Hitam Rusia.
Baca juga: Pertama Kali, Ukraina Gunakan USV Kamikaze Bersenjata Rudal R-73 “FrankenSAM”
Dari postingan yang beredar di media sosial, USV yang kini dipersiapkan oleh Taiwan ternyata punya kemiripan desain dengan yang digunakan oleh Ukraina. Visi Taiwan untuk memiliki armada USV konsisten dengan Konsep Pertahanan Keseluruhan, yang menyerukan pengembangan kemampuan perang asimetris.
Mengutip dari Liberty Times, CITIC Shipbuilding, galangan kapal di Taiwan telah meluncurkan “unmanned boat” sebagai “universal test platform” yang memiliki ‘aplikasi militer’. USV berwarna hitam ini punya bobot penuh kurang dari 20 ton, dan memiliki potensi penggunaan yang luas, seperti ‘return home’ dan misi pembersihan ranjau.

Selain dikemmbangkan oleh CITIC, USV multiguna lainnya juga dikembangkan oleh NCSIST (National Chung-Shan Institute of Science of Technology) yang dapat dikendalikan dari jarak jauh dan terinspirasi oleh penggunaan USV oleh Ukraina di Laut Hitam. Meskipun belum ada nama pada kapal tersebut, postingan di beberapa saluran Telegram, yang mengklaim berasal dari Weibo, mengatakan bahwa pihak pengembang menyebutnya sebagai FJ-002. Namun hal ini masih belum dapat dipastikan.
Dari lembar spesifikasi, USV FJ-002 punya panjang 16,5 meter dan lebar 3,8 meter. Mengenai endurance, FJ-002 dapat beroperasi selama 300 jam dengan jarak jelajah hingga 1.300 kilometer.

FJ-002 dapat berlayar secara otonom tanpa adanya GPS dan peralatan komunikasi, dan dapat kembali ke pangkalan secara otomatis melalui perhitungan komputernya sendiri”. Platform ini memiliki “berbagai kegunaan” seperti “penyapuan ranjau, pelapisan ranjau” dan bahkan “serangan bunuh diri.”
Proyek seperti ini dapat digunakan untuk menguji dan memvalidasi berbagai sensor, peralatan komunikasi elektronik, jammer, teknologi ELINT/EW (Electronic Intelligence/Electronic Warfare). Yang terpenting, hal ini memungkinkan eksperimen dan penyempurnaan panduan otonom, perangkat lunak, dan algoritma.
[the_ad id=”77299″]
Taiwan Menerapkan ODC (Overall Defense Concept) atau Konsep Pertahanan Keseluruhan, yang dalam hal ini memerlukan pengadaan ribuan drone, rudal hanud sistem angkatan laut tak berawak, kapal serang cepat, rudal anti kapal dan ranjau yang dapat dibuang dan berbiaya rendah untuk berperang dalam perang berkepanjangan pada tingkat strategis.
Pendapat yang berbeda hanya mengenai proporsi sistem asimetris tersebut terhadap senjata tradisional berukuran besar dan kegunaan intinya. Meski begitu, produksi serial USV modular, multi-fungsi, dan otonom bakal menimbulkan ancaman signifikan pertama terhadap kapal kombatan dan kapal pendarat amfibi Cina yang diperkirakan akan memberlakukan blokade di sekitar Taiwan. (Gilang Perdana)



Perang simetris untuk menahan gelombang serangan musuh karena jauh lebih besar, sedangkan perang asimetris untuk tindakan ofensifnya melemahkan kekuatan musuh namun, beda Taiwan beda pula Ukraina pada perang Ukraina lebih banyak berkutat di darat dan udara sedangkan perairan dalam skala terbatas. Taiwan jika pecah perang terbuka kemungkinan akan lebih banyak di laut dan udara sedangkan daratan dalam skala terbatas
Betul, bang Lewis seharusnya saat China menyerang kita bantu invasi china dengan mengirim logistik ataupun tentara dalam jumlah besar karena pastinya kita mendapat benefit jatah teknologi dan wilayah Taiwan yang akan dibagikan oleh china kepada kita dan juga dengan membantu invasi china kita bisa membendung hegemoni Barat di Pasifik dan membuat kita sebagai bangsa yang paling disegani
TNI belum minat bikin ini ya??
Magura Ukraina sangat cocok untuk dicontoh… Terlalu bnyk kapal patroli dan semakin bnyk biaya perawatan,seharusnya TNI fokus untuk memperkuat atau menambah unit LPD 10unit untuk disebar di wilyah perbatasan untuk basis angkut drone kamikaze,maupun drone intai VTOL .. Jarak operasional LPD juga lebih jauh.. 1LPD bisa mengangkut setidaknya 6unit USV kamikaze… Terpenting dari kapal adalah sebuah radar yng mumpuni untuk mendeteksi adanya pelanggaran wilayah laut, dan jamming.. Terlalu bnyk kapal patroli yng memiliki jarak tempuh pendek,biaya perawatan semakin tinggi.
Kalaupun perang terbuka, mau sekuat apa pun Taiwan, China yang menang, Amerika bisa apa? Jauh di seberang lautan, sementara pertahanan udara China bisa memblokade wilayah udara di sekitarnya, China invasi Taiwan, kira-kira seperti pasukan Titan Eren saat menginjak-injak Eldia, kecuali jika Taiwan punya nuklir, baru China bisa kendor..