Update Krisis IranKlik di Atas

Mitsubishi dan Kawasaki Duet Garap Drone AI dan Sistem Kolaborasi Masa Depan Jepang

Hivemind

Jepang tidak ingin tertinggal dalam perlombaan teknologi pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) global. Dua raksasa industri pertahanannya, Mitsubishi Heavy Industries (MHI) dan Kawasaki Heavy Industries (KHI), baru saja memamerkan lompatan teknologi signifikan yang akan mengubah cara Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) beroperasi di masa depan.

Baca juga: Mitsubishi Heavy Industries Tampilkan Dua Model Drone dengan Teknologi Kecerdasan Buatan

Fokus utama keduanya bukan lagi sekadar platform terbang, melainkan pada integrasi Kecerdasan Buatan (AI) tingkat tinggi dan Sistem Kolaborasi otonom.

Langkah pertama yang menarik perhatian datang dari Mitsubishi Heavy Industries. MHI melakukan manuver strategis dengan mengintegrasikan sistem Hivemind AI ke dalam platform drone mereka. Hivemind, yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi pertahanan Shield AI, merupakan perangkat lunak otonom perintis yang memungkinkan drone beroperasi tanpa ketergantungan pada operator manusia atau sinyal GPS yang rentan terhadap aksi jamming lawan.

Dengan “otak” Hivemind ini, drone buatan Mitsubishi mampu melakukan navigasi mandiri di area yang sinyal komunikasinya terputus. AI ini memungkinkan drone memproses data sensor secara real-time dan mengambil keputusan taktis secara independen saat menjalankan misi pengintaian maupun penyerangan. Keunggulannya terletak pada skalabilitas; teknologi ini dirancang untuk bisa diterapkan pada berbagai ukuran platform, mulai dari drone intai kecil hingga jet tempur tak berawak berukuran besar.

Collaborative Drone System Kawasaki.

Seolah melengkapi kemampuan individu drone milik Mitsubishi, Kawasaki Heavy Industries (KHI) muncul dengan inovasi yang fokus pada kekuatan kelompok (swarm). KHI tengah mengembangkan apa yang disebut sebagai Collaborative Drone System. Berbeda dengan sistem drone konvensional yang dikendalikan satu per satu, visi Kawasaki adalah menciptakan ekosistem di mana sekelompok drone dapat bekerja sama sebagai satu kesatuan yang koheren melalui konsep swarming.

Sistem kolaboratif milik Kawasaki menonjolkan kemampuan formasi cerdas, di mana drone dapat menyesuaikan posisi secara otomatis berdasarkan ancaman yang terdeteksi di lapangan. Dalam satu kelompok, beberapa drone bisa bertugas sebagai pengalih perhatian (decoy), sementara unit lainnya fokus pada pengintaian atau penindakan target. Efisiensi ini dirancang untuk mengurangi beban kerja operator di darat, karena drone secara cerdas mampu “berkomunikasi” satu sama lain untuk menyelesaikan misi secara kolektif.

Pererat Hubungan Bilateral, Jepang Bantu ‘Transfer Teknologi’ Drone ke Ukraina

Sinergi antara teknologi Mitsubishi dan Kawasaki ini mengindikasikan bahwa Jepang sedang mempersiapkan fondasi kuat untuk konsep Loyal Wingman. Konsep ini melibatkan drone tempur otonom yang terbang mendampingi pesawat tempur berawak, seperti F-35 atau pesawat tempur generasi keenam Jepang yang tengah dikembangkan dalam program GCAP (Global Combat Air Programme).

Integrasi AI dari Mitsubishi menyediakan “insting” bertarung yang mandiri, sementara sistem kolaborasi dari Kawasaki menyediakan “jaringan” koordinasi antar unit dalam jumlah besar. Dengan ancaman regional yang semakin kompleks, kehadiran drone cerdas yang mampu bekerja sama tanpa kendali penuh manusia akan menjadi aset vital bagi pertahanan kedaulatan Jepang di masa depan. (Bayu Pamungkas)

Jepang Pamerkan Senjata Anti Drone High Power Laser Weapon dengan Daya 10 kW