FCAS Retak: Jerman Berpaling ke Jepang-Inggris-Italia dalam Proyek Jet Tempur GCAP

Ambisi besar Eropa untuk menciptakan kedaulatan udara mandiri melalui proyek Future Combat Air System (FCAS) kini berada di persimpangan jalan yang sangat kritis. Proyek ambisius yang digadang-gadang sebagai simbol persatuan kekuatan militer Jerman dan Perancis ini justru terancam runtuh akibat kisruh internal yang tak kunjung usai.
Buntut dari ketegangan tersebut kini memicu manuver geopolitik yang mengejutkan, Jerman dilaporkan mulai melirik Jepang dan proyek rivalnya, GCAP, sebagai pelabuhan baru bagi masa depan pertahanan udara mereka.
Akar masalah yang meretakkan hubungan Berlin dan Paris ini sebenarnya telah lama membara di balik meja perundingan. Masalahnya bukan sekadar soal teknis pesawat, melainkan perebutan kendali dan ego industri yang mendalam. Perancis, melalui Dassault Aviation, bersikeras memegang kendali penuh atas desain dan kepemimpinan teknis dengan modal sejarah panjang mereka dalam membangun jet tempur mandiri.
Di sisi lain, Jerman melalui Airbus menuntut porsi kerja dan tanggung jawab yang setara agar industri mereka tidak sekadar menjadi pemasok komponen pelengkap. Ketidakmampuan untuk berkompromi ini menciptakan krisis kepercayaan yang menurut laporan terbaru per 11 Februari 2026, telah mencapai titik di mana kemajuan proyek FCAS terhambat secara signifikan.
Melihat kondisi FCAS yang terus jalan di tempat, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mulai mengambil langkah strategis yang cukup berisiko bagi solidaritas Eropa. Saat kunjungannya ke Italia bulan lalu, Merz secara terbuka mulai menjajaki kemungkinan bagi Jerman untuk bergabung dalam proyek rival, yaitu Global Air Combat Programme (GCAP). Proyek ini merupakan kolaborasi antara Jepang, Inggris, dan Italia yang bertujuan mengembangkan jet tempur generasi keenam dengan struktur kerja sama yang dianggap Jerman lebih stabil dan transparan.
Langkah “pembelotan” Jerman ini tentu menjadi pukulan telak bagi Perancis. Jika Jerman benar-benar berpindah haluan, Perancis akan menghadapi dilema besar, mendanai sendiri proyek FCAS yang sangat mahal atau terisolasi dalam industri pertahanan global. Sementara itu, pihak Jepang melalui Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logistik (ATLA) menyambut baik ketertarikan Jerman, mengingat GCAP sejak awal memang dirancang untuk merangkul kerja sama antar sekutu strategis.
Drama ini diprediksi akan mencapai puncaknya pada Konferensi Keamanan Munich yang berlangsung pekan ini. Pertemuan antara Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dengan mitra dari Jepang, Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi, akan menjadi sorotan dunia.
Pertemuan tersebut akan menentukan apakah Jerman akan tetap bertahan di pilar pertahanan Eropa atau memilih untuk membentuk aliansi trans-kontinental baru yang mengonsolidasikan kekuatan empat negara anggota G7 dalam satu payung teknologi tempur yang sama.
Pada akhirnya, kisruh FCAS ini membuktikan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa lepas landas tanpa adanya rasa percaya antar mitra. Bagi Jerman, stabilitas dan kepastian yang ditawarkan oleh blok Jepang-Inggris-Italia nampaknya mulai terlihat jauh lebih menarik daripada terus terjebak dalam pusaran birokrasi dan rivalitas industri dengan Paris.(Bayu Pamungkas)
FCAS Krisis! CEO Dassault: “Perancis Sanggup Kembangkan Jet Tempur Generasi Ke-6 Tanpa Jerman”



Berita yang paling hangat adalah kemungkinan besar Prancis akan keluar dari usaha patungan “Euro Dome”
Dibandingkan GCAP, FCAS memang banyak dramanya, Prancis bisa tawari India untuk gabung pasca berpalingnya Jerman disela-sela penandatanganan kontrak pembelian jumbo yaitu ratusan unit Rafale tersebut adalah momen yang pas, karena India juga butuh mesin dari Safran untuk AMCA-nya nanti
Gpp retak, yang jelas ini sama kaya proyek Rafale
Yang jelas Perancis udah untung bisa dapet sedikit teknologi Jerman, tinggal lanjutin proyek nya aja secara mandiri
Dulu juga Awalnya Perancis gabung konsorsium Eurofighter typhoon, tapi keluar krn ketidak sepahaman juga
Tentu saat keluar Perancis udh tau teknologi typhoon dan membuat Rafale
Ending nya : Rafale jadi salah satu jet tempur eropa yang lumayan sukses di pasar ekspor karena kepemilikan tunggal Perancisš¤£
Beda dg Eurofighter yg dimiliki beberapa negara, negara yang mau beli juga khawatir karena harus melalui birokrasi ribet di beberapa negara konsorsium Eurofighter typhoon š¤£