Thailand Tambah Pesanan Ranpur Norinco VN1 8×8 untuk Angkatan Darat

Meski personel kavaleri Angkatan Darat Thailand (Royal Thai Army/RTA) telah dibuat kecewa dengan performa buruk Main Battle Tank (MBT) VT4, yang mengalami sejumlah masalah pada laras meriamnya. Namun, rupanya itu tak membuat Angkatan Darat Thailand kapok untuk kembali mengorder ranpur (kendaraan tempur) lapis baja dari pihak manufaktur, China North Industries Group Corporation (Norinco).
Di tengah konflik militer bersama Kamboja di perbatasan, Negeri Gajah Putih mengikat sejumlah pengadaan baru pada beberapa vendor pertahanan, dan salah satunya adalah Norinco, yang dikebal sebagai salah satu pemasok utama alutsista di Angkatan Bersenjata Thailand.
RTA secara resmi telah menandatangani kontrak lanjutan dengan Norinco, untuk pengadaan tambahan ranpur lapis baja roda ban VN1 8×8. Kesepakatan ini mempertegas hubungan kerja sama pertahanan yang semakin erat antara Bangkok dan Beijing dalam satu dekade terakhir.
Penandatanganan kontrak dilakukan pada 11 Januari 2026 di Kantor Pusat Norinco di Beijing. Kontrak ini dilaksanakan melalui skema government-to-government (G2G), yang berarti kesepakatan dilakukan langsung antar pemerintah kedua negara.
Thai Military is buying VN-1 family of armored vehicle.
Guess lesson not learnt. pic.twitter.com/KAmDKRT3pN
— The Great Translation Movement 大翻译运动 (@TGTM_Official) January 13, 2026
Meskipun jumlah unit spesifik dalam batch terbaru ini tidak dirinci secara detail dalam pengumuman tersebut, laporan anggaran militer Thailand untuk Tahun Fiskal 2025 menunjukkan alokasi dana sekitar 987 juta Baht (sekitar Rp437 miliar) untuk pengadaan kendaraan seri VN1.
Hingga saat ini, RTA telah menerima 111 unit keluarga ranpur VN1. Pengiriman tersebut meliputi VN1 varian armored personnel carrier (APC), SM4A 120 mm self-propelled mortar, VS27 armored recovery vehicle, VE36 command variant, dan VN1 dedicated ambulance version. Semua platform tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Thailand untuk memperluas inventaris kendaraan lapis baja beroda dan memodernisasi sistem lama.
前線にてカンボジア軍との戦闘により負傷した兵士を回収、後送を実施するタイ陸軍のVN-1装輪歩兵戦闘車。 https://t.co/GGsOJXgzUQ pic.twitter.com/Z6RkDSe3cJ
— お砂糖wsnbn (@sugar_wsnbn) January 9, 2026
Langkah Thailand untuk terus menambah alutsista asal Cina mencerminkan pergeseran strategi pengadaan militer mereka. Selain harga yang kompetitif, Cina juga menawarkan kemudahan dalam transfer teknologi dan skema pembayaran.
VN1 8×8 telah menjadi tulang punggung satuan kavaleri roda ban Thailand, menggantikan atau melengkapi alutsista lama seperti BTR-3E1 buatan Ukraina yang sebelumnya sempat mendominasi inventaris mereka. Pengadaan fase keempat ini diharapkan akan semakin meningkatkan mobilitas dan daya gempur unit infanteri mekanis Thailand di tengah dinamika keamanan regional yang terus berkembang.

VN1 dirancang untuk mampu disematkan berbagai sistem senjata, selain varian IFV (Infantry Fighting Vehicle) dengan kanon 30 mm, VN1 juga dapat dipersiapkan dalam varian meriam 105 mm dan Howitzer 122 mm. Konfigurasi VN1 mirip dengan ranpur 8×8 buatan Eropa/NATO, seperti mesin berada di bagian depan kanan, dan posisi pengemudi di bagian kiri.
Lapisan baja VN1 disebut dapat menahan terjangan proyektil Armour-Piercing Incendiary (API) 12,7 mm dari jarak 100 meter, atau dengan add on armour, dapat menahan terjangan proyektil 25 mm dari jarak 1.000 meter.


Pada varian APC, komposisi awaknya terdiri dari pengemudi dan komandan, sementara di bagian kompartemen belakang dapat dimuati 11 pasukan infanteri. Akses keluar masuk pasukan mengandalkan pintu utama di bagian belakang, dan ada dua palka (hatch) juga pada bagian belakang.
Dapur pacu VN1 mengandalkan mesin diesel DEUTZ BF-6M 1015CP bertenaga 330kW. Mesin dengan pendingin air ini menggunakan transmisi otomatis. Mekanisme kendali kemudi mengadopsi hidrolik booster serta sistem rem sirkuit pneumatik ganda untuk kinerja pengereman yang lebih andal. VN1 dapat melesat di jalan raya dengan kecepatan 100 km per jam, sementara dengan bahan bakar penuh, jarak jelajahnya mencapai 800 km.
Norinco VN1 dilengkapi dua unit propeller pada bagian belakang, alhasil VN1 dapat berenang tanpa persiapan khusus. Kecepatan berenang di air adalah 8 km per jam. Sebagai kendaraan tempur roda ban, VN1 sudah menggunakan central tire inflation system. Untuk keamanan awak, Norinco telah menghadirkan automatic fire extinguishing system. Bahkan proteksi anti bahaya nubika dapat dipasang sebagai opsi tambahan. (Gilang Perdana)
Norinco Tampilkan Ranpur VN-22 6×6 dalam Varian Senjata Laser Anti Drone



Business is business ya kita obyektif saja 👍😅
Thailand sungguh hebat, entah kepepet karena sedang menghadapi Kamboja atau bagaimana entahlah
Meskipun ada saja derita dari hasil pembelian alusista dari Cina, akan tetapi masih tetap memborong alusista Cina
Dari kapal selam lalu alusista daratnya seperti MBT VT4 dan lainnya yang bermasalah
Jika RI berniat membeli alusista lebih baik jangan ke Amerika maupun Cina
Produk Amerika banyak aturannya dan cendrung merugikan konsumen, lalu untuk Cina masih di seputar kualitas
Karena CAATSA, maka RI harus banting stir ke Eropa dan Asia lainnya seperti Prancis, Italia, Inggris, Turki, Korea Selatan dan juga Jepang
Dari hasil penjualan industri militer Cina jangan bermimpi akan mendapatkan hasil yang maksimal, terlebih lagi jika barang bekas, karena yang 99.99% barang baru saja banyak yang diluar ekspetasi
@Yor : Susah bro..
Hampir semua akusisi alusista dibelahan dunia kontraknya pasti dengan pembayaran hutang
Ekonomi Cina saat ini sedang diatas kertas
Sebenarnya hal yang dilakukan Cina sekarang telah kita lakukan ketika zaman penjajahan
Industri militer Cina saat ini sangat maju meskipun banyak kekhaeatiran mengenai kualitasnya
Intinya industri militer Cina saat ini mengedepankan kuantitas dan mengenai kualitas menyusul secara bertahap
Jika terjadi eskalasi, dari kuantitas alusista Cina yang masive, pasti akan ada yang zonk, seperti delay C-705 di latihan gabungan TNI AL Armada Jaya XXXIV tahun 2016 di Situbondo, Jawa Timur
ataupun MBT VT4 Thailand vs Kamboja
Intinya karena Cina menang jumlah meskipun sebagiannya ada yang zonk tetap saja berharap dapat melumpuhkan lawan
Taktik tersebut pernah kita terapkan ketika zaman penjajahan, ketika bambu runcing, keris, tombak dan lainnya melawan meriam dan senjata penjajah
Karena Indonesia bersatu dengan peralatan dan alusista seadanya maka dapat melawan dan mengusir penjajah
Mungkin 2 – 5 dekade lagi alusista Cina dapat mengungguli Amerika dan Eropa
Jika berfikiran membeli bekas alusista Cina adalah salah kaprah, karena barang yang 99.99% baru saja banyak yang kualitasnya payah
Meskipun Cina secara teori beberapa langkah lebih maju dari Amerika dalam rudal hipersonik, akan tetapi belum teruji seperti milik Rusia
Di saat negara ASEAN konflik dg China atas klaim nine dash line di laut China Selatan
.. Thailand malah makin dekat ke China 🤣
Negara yg berani ke China sejauh ini cuman Filipina, modernisasi alutsista nya bener bener ter arah gak beli dari China
Filipina bener bener belanja besar besaran ke Korea, Jepang, Israel, India dll
Ada juga negara inisial konoha yang zee nya tumpang tindih dengan klaim nine dash line china tapi tetep beli senjata China untuk lawan China 🤣🤣 sungguh diluar Nurul
Ditunggu j10 b bekas, kapal cepat trimaran class bekas dan fregat bekas 🤣
Dulu yg bekas bekas trending di media, banyak di protes (f16 bekas gurun, mbt leopard bekas Jerman) sekarang media senyap, tiba tiba barang datang kah? 🤣