Efek “Battle Proven”: Pasca Perang Ukraina, Ekspor Senjata Rusia Diprediksi Tembus US$17 Miliar per Tahun

Meski saat ini seluruh fokus industri pertahanan Rusia terserap untuk kebutuhan garis depan di Ukraina, masa depan ekspor senjata Moskow justru diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan.

Baca juga: CAWAT: S-400 Rusia Kalahkan Patriot AS, Unggul Jauh di Mobilitas dan Jangkauan

Dikutip dari RIA Novosti, Direktur Center for Analysis of World Arms Trade (CAWAT), lembaga riset pertahanan non-pemerintah yang berbasis di Moskow, Igor Korotchenko, menyebut bahwa Rusia siap merebut kembali takhta eksportir senjata global dengan target nilai kontrak mencapai US$15 hingga 17 miliar per tahun setelah konflik berakhir.

Keunggulan kompetitif Rusia di masa depan bukan lagi sekadar harga yang murah, melainkan label “Modern Warfare Proven”. Korotchenko menekankan bahwa selama operasi militer di Ukraina, industri pertahanan Rusia telah melakukan adaptasi kilat terhadap teknologi perang tinggi modern.

Senjata-senjata Rusia kini telah dimodernisasi berdasarkan pengalaman praktis menghadapi persenjataan standar NATO. Hal ini memberikan nilai tawar yang luar biasa di pasar global, yaitu pembeli tidak lagi membeli prototipe di atas kertas, melainkan senjata yang sudah teruji menghancurkan alutsista Barat di medan perang yang sesungguhnya.

Rusia Tawarkan India Produksi R-37M Secara Lisensi – Rudal Udara ke Udara Jarak Jauh Hipersonik dengan Jangkauan 300Km

Ada satu detail menarik yang sering terlewat, Rusia telah berhasil melakukan eskalasi produksi secara “gila-gilaan” selama dua tahun terakhir. Dalam skala industri, banyak pabrik senjata Rusia kini beroperasi 24 jam dalam tiga shift.

Rusia telah membuktikan kemampuannya memproduksi amunisi dan kendaraan lapis baja dalam jumlah yang jauh melampaui gabungan negara-negara Eropa. Setelah perang usai, kapasitas produksi raksasa ini tidak akan menganggur, melainkan akan dialihkan sepenuhnya untuk memenuhi antrean pesanan luar negeri (ekspor).

India Tawarkan Ekspor MBT-72 Hasil Upgrade ke Negara Berkembang, Bukti Kolaborasi Apik dengan Rusia

Meski Rusia menghadapi tantangan geopolitik yang kompleks akibat sanksi Barat. Namun, Rosoboronexport, agen eksportir senjata negara Rusia, telah mengadopsi strategi baru, seperti sistem pembayaran alternatif, menggunakan mata uang lokal (bukan US dollar) untuk menghindari blokade keuangan. Kemudia menawarkan kerja sama produksi lokal (seperti program Make in India) yang jarang diberikan oleh negara-negara Barat.

Berbeda dengan AS dan negara Barat yang sering membatalkan kontrak karena alasan politik domestik, Rusia memposisikan diri sebagai mitra bisnis yang pragmatis dan dapat diandalkan.

Dukung Siklus Senapan Serbu Kalashnikov, Rusia Bangun Pabrik Amunisi Kaliber 7,62mm di Venezuela

Dengan dukungan penuh dari Federal Service for Military-Technical Cooperation (FSMTC), Rusia berambisi mengunci kembali posisi sebagai eksportir senjata terbesar kedua di dunia.

Negara-negara di kawasan Global South—Asia, Afrika, dan Amerika Latin—diprediksi akan menjadi peminat utama, terutama untuk sistem pertahanan udara S-400, jet tempur Su-35, hingga drone kamikaze Lancet series yang reputasinya meroket selama konflik. (Gilang Perdana)

Tactical Missile Corporation – Satukan ‘Kekuatan’ Industri Rudal dan Senjata Berpemandu Rusia