Thailand Kerahkan Jet Latih Tempur T-50TH Golden Eagle dalam Misi CAS di Perbatasan Kamboja

Angkatan Udara Thailand (RTAF) secara mengejutkan mulai mengerahkan jet latih tempur T-50TH Golden Eagle dalam misi operasi dukungan pertempuran di wilayah perbatasan Thailand-Kamboja. Langkah ini menandai pertama kalinya dalam sejarah bahwa keluarga pesawat T-50 digunakan dalam operasi tempur aktif di wilayah konflik, memberikan bukti nyata atas kapabilitas serangannya.
Baca juga: F-16 Thailand Gempur Kasino Terbengkalai Chong Arn Ma, Diduga Jadi Markas Komando Kamboja
Menurut laporan internal yang dikutip dari sumber militer Thailand pada akhir Desember 2025, pengerahan ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya aktivitas militer di sepanjang perbatasan dekat wilayah Preah Vihear dan wilayah pegunungan Dangrek.
Operasi yang berlangsung pada pekan lalu ini berfokus pada misi Close Air Support (CAS) atau dukungan udara dekat. T-50TH dikerahkan untuk melakukan patroli udara bersenjata guna memantau pergerakan pasukan dan memberikan perlindungan udara bagi unit infanteri Thailand yang berjaga di garis depan.
Meskipun bukan perang terbuka skala penuh, pengerahan jet tempur ini menunjukkan keseriusan Thailand dalam mempertahankan kedaulatan perbatasannya.

Dalam misi tempur di perbatasan tersebut, T-50TH RTAF dilaporkan terbang dengan konfigurasi senjata lengkap (combat-ready), yang terdiri dari kanon internal gatling M197 kaliber 20 mm, rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder, bom MK-82 dan Sniper Targeting Pod (Khusus T-50TH. Versi Thailand dilengkapi dengan kemampuan untuk membawa pod targetting guna memandu bom pintar berpandu laser, sebuah keunggulan yang membedakannya dari jet latih standar.
T-50TH Golden Eagle pada dasarnya adalah jet latih supersonik yang memiliki DNA jet tempur F-16. Kecepatan jet latih tempur ini mampu melaju hingga Mach 1.5.
Komponen T-50i TNI AU Terlepas dan Jatuh, Diduga Cover Penutup Laras Kanon
Sistem avioniknya menggunakan radar modern yang mampu mendeteksi sasaran darat dan udara secara simultan. Dengan desain sayap yang aerodinamis, jet ini sangat lincah di ketinggian rendah, menjadikannya platform ideal untuk operasi di medan hutan dan pegunungan perbatasan.
Berbeda dengan versi latih murni, T-50TH milik Thailand telah ditingkatkan secara signifikan pada bagian sistem manajemen tempur (Combat Management System) untuk mendukung integrasi senjata modern Blok Barat.
Hingga saat ini, Royal Thai Air Force mengoperasikan total 14 unit T-50TH. Seluruh unit tersebut ditempatkan di Wing 4 Takhli, menggantikan peran jet L-39 Albatros yang sudah tua. Thailand terus meningkatkan kapabilitas jet ini melalui paket modernisasi bertahap, menjadikannya salah satu pesawat paling serbaguna di kawasan tersebut.
Thailand Upgrade 12 Unit T-50TH dengan Radar Warning Receiver dan Flare Dispenser
Keberhasilan Thailand dalam mengonversi peran T-50 dari jet latih menjadi aset tempur garis depan memberikan sinyal kuat bagi operator lain di ASEAN, termasuk Indonesia.
Penggunaan T-50TH di perbatasan Kamboja membuktikan bahwa dengan sistem avionik dan persenjataan yang tepat, pesawat ini adalah solusi efektif untuk menjaga kedaulatan di wilayah konflik intensitas rendah tanpa harus mengerahkan jet tempur berat yang biaya operasionalnya jauh lebih mahal. (Bayu Pamungkas)


